Luar Biasa, Momok Virus Corona (Covid -19) Mampu Ubah Konstelasi Dunia

Luar Biasa, Momok Virus Corona (Covid -19) Mampu Ubah Konstelasi Dunia
Ilustrasi (net)
Jum'at, 30 Oktober 2020 15:56 WIB
Penulis: Jontra
Saat ini, hampir setiap hari selama beberapa bulan belakangan kita disuguhkan dengan informasi terkait dengan mewabahnya pandemi virus corona (Covid - 19). Baru saja orang mengetahui keberadaannya, virus ini seakan tak terbendung lajunya, karena terus menggurita dan menjalar ke banyak tempat di berbagai belahan dunia.

Kemunculan virus Covid - 19 yang muncul tanpa aba - aba ini menjelma menjadi momok menakutkan bagi setiap orang. Virus yang kerap dianalogikan sebagai penyakit flu berat namun berakibat fatal karena menyebabkan infeksi saluran pernafasan dan berakibat kematian ini pertamakali diketahui oleh dunia berasal dari Wuhan, China. Namun tak lama kemudian dengan cepat merambat ke daratan Asia lainnya dan merambah ke benua Amerika, Eropa, Australia dan Afrika. Sementara itu di Indonesia, penyebaran virus ini kemunculannya baru diketahui awal Maret 2020 lalu.

Kehadiran virus ini sontak membuat dunia gelagapan. Faktor ketidaksiapan tentu menjadi alasan utama dari kebuncahan yang terjadi. Amerika Serikat (AS) yang diketahui sebagai negara super power pun tak luput dibombardir dengan dahsyat oleh virus ini, jutaan warga AS terinveksi virus tersebut.

Pandemi yang terjadi akibat merebaknya Covid-19 tidak hanya membuat ekonomi global jatuh tersungkur karena berbagai upaya pengendalian virus membuat roda ekonomi berputar lebih lambat, bahkan nyaris berhenti. Tak hanya itu, bahkan dampak pandemi mampu membuat tatanan dunia berubah terutama rantai pasok global.

Pandemi Covid-19 berdampak pada perubahan rantai pasok global yang tak lagi China sentris. Roda perekonomian dunia memang sangat bergantung pada China.

Pangsa pasar China dalam perdagangan global terutama untuk beberapa industri bahkan mencapai lebih dari limapuluh persen. Untuk industri perangkat elektronik saja contohnya, Negeri Tirai Bambu yang sekarang bernama Tiongkok ini berkontribusi sebesar 59% terhadap perdagangan global dunia jika melihat data pada 2018 lalu.

Peranan China dalam perdagangan dan rantai pasok global semakin terlihat masuk ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2001. Sejak saat itu pula ekonomi China tumbuh dengan sangat pesat dan tak terbendung.

Walau sempat mengalami fluktuasi, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) China terus berada pada tren naik setiap saat. Bahkan sempat mencatatkan pertumbuhan ekonomi sampai dobel digit.

Kita lihat data di tahun 2010, China dengan perkasanya mampu menyalip Jepang dan resmi menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Negeri Paman Sam Amerika Serikat (USA).

Tak hanya itu, masih di tahun yang sama, China juga berhasil menyalip Amerika Serikat (AS) dan menguasai lebih dari seperempat output manufaktur global.

PDB China sudah berkontribusi sebesar 18,2% dari total output perekonomian global dan produk-produk berlabel Made In China mulai dari mainan hingga produk berteknologi seperti smartphone tampak membanjiri pasar global sejak tahun 2018 lalu.

Ketergantungan terhadap China sangatlah tinggi. Sampai-sampai banyak perusahaan multinasional yang memiliki pabrik di China kalang kabut saat wabah Covid-19 merebak di Negeri Tirai Bambu itu. Langkah Lockdown yang dilakukan Provinsi Hubei pada 23 Januari lalu itu membuat pabrik-pabrik tutup. Produksi berkurang dan rantai pasok global pun menjadi terganggu.

Dengan adanya pandemi Covid-19 ini diperkirakan banyak perusahaan multinasional yang juga beroperasi di China semakin punya alasan bulat untuk angkat kaki dan cari lokasi baru. Apalagi China yang sekarang bukan lah China yang dulu lagi.

Perang dagang dengan mitranya yakni AS membuat banyak produk China dikenakan bea masuk yang tinggi. Barang-barang yang ber merk Made In China senilai US$ 250 miliar masih kena bea masuk sebesar 25%. Lagipula sisanya yang senilai US$ 120 miliar bea masuknya tidak benar-benar dihapus, hanya dikorting 50% dari 15% jadi 7,5%, itu data bisnis yang diinformasikan media mainstream yang kita ketahui.

Masih dari data bisnis yang dirilis berbagai media kenamaan dunia, kenaikan upah di China juga menjadi faktor lain yang membuat ongkos produksi di China jadi naik. Survei Euromonitor pada 2017 menyebutkan upah untuk pekerja pabrik di China per jamnya dipatok US$ 3,6 atau naik 64% dari 2011. Kenaikan ini membuat upah pekerja di China lebih tinggi lima kali lipat dibanding India dan setara dengan Portugal maupun Afrika Selatan.

Tentu saja dampak perang dagang antara AS - China, dan kenaikan upah di China telah mendorong beberapa perusahaan multinasional untuk memindahkan rantai pasok mereka dari Cina ke negara lain di Asia. Sektor tekstil adalah contoh dari awal dari hal ini. Covid-19 akan mendorong lebih banyak perusahaan di sektor lain untuk merelokasi bagian dari rantai pasok mereka dan akan membentuk jaringan rantai pasok Asia baru yang tak fokus di China saja dan lebih beragam.

Ini adalah awal dari apa yang akan terjadi di kawasan lain karena perusahaan global berupaya membangun ketahanan dalam rantai pasok mereka. Dengan membangun rantai pasok regional yang semi-independen di Amerika dan Eropa, perusahaan global sudah mengambil langkah perlindungan terhadap guncangan di masa depan untuk jaringan mereka.

Nasib serupa juga dialami Meiko Electronics sebuah perusahaan produsen papan sirkuit otomotif yang memiliki pusat produksi terbesar di Wuhan.

Dengan dihentikannya operasi hingga 20 Februari, perusahaan Jepang itu mempertimbangkan menggeser produksinya ke lokasi yang juga sesuai dengan kebutuhan seperti Guangzhou, Jepang atau Vietnam. Untuk produk yang hanya dapat dibuat di pabrik Wuhan, mereka bahkan meminta pelanggan untuk mencari pemasok lain.

Tak hanya perusahaan asal Jepang saja yang kena dampak dari penyebaran wabah di China. Perusahaan-perusahaan teknologi asal AS yang juga memiliki jaringan di China seperti Apple dan Tesla juga kena dampaknya.

Tesla bahkan sempat menutup pabriknya di Shang Hai selama sepekan setengah di awal Maret lalu untuk membantu menekan penyebaran virus corona.

Dari fenomena ini investor dan perusahaan multinasional kembali diingatkan bahwa diversifikasi juga memegang peranan penting dalam pengelolaan risiko.

Walau China terkenal dengan suplai tenaga kerja yang banyak, iklim bisnis yang mendukung karena tidak terlalu ketat hingga logistik dan infrastruktur yang memadai, ke depan perusahaan multinasional akan terus mengevaluasi apakah ada kesempatan untuk relokasi ke tempat lain yang memberikan keunggulan kompetitif dari segi ongkos.

Ini jelas jadi ancaman untuk China. Namun di saat yang sama juga menjadi peluang bagi negara lain seperti India, Vietnam bahkan Indonesia. Tinggal siapa yang terlebih dahulu mau ambil kesempatan ini.

Namun satu hal yang pasti, ternyata virus corona memiliki dampak yang sangat luar biasa. Saking hebatnya ekonomi global tidak hanya sesak nafas, tetapi tatanan dunia juga berpeluang berubah, kebiasaan prilaku pun tak luput dari perubahan juga pasca Covid - 19 ini merebak.

Kapankah pandemi Covid - 19 ini akan berakhir, Wallahualam. Semua orang hanya bisa menduga - duga saja. Walaupun beberapa orang ahli penanganan virus di berbagai belahan dunia saling mengklaim bahwa mereka sudah menciptakan vaksin untuk menangkal penyebaran virus ini. Kehadiran vaksin tentu erat kaitannya dengan biaya produksi yang jumlahnya juga tidak sedikit, ada miliaran dolar uang untuk menuntaskan persoalan ini.

Dunia sudah berubah oleh kehadiranmu Covid - 19, yang pasti korbannya adalah jutaan manusia. Ada informasi yang mengatakan virus ini relevansinya erat kaitannya dengan bisnis. Tentu hal ini sungguh kejam, bisnis yang hanya menguntungkan sekelompok orang pribadi ataupun golongan tertentu dengan mengorbankan nyawa jutaan orang. Karena apapun situasinya, ada saja orang yang diuntungkan dengan semua musibah yang terjadi. Karena pebisnis yang tidak memiliki nurani ini adalah tipikal sadis, karena mereka mengambil keuntungan dibalik penderitaan yang dialami oleh orang lain(**)

Kategori:Ragam
wwwwww