Kedatangan Vaksin Kabar Gembira dalam Kerisauan

Kedatangan Vaksin Kabar Gembira dalam Kerisauan
Ilustrasi. (Doc net)
Jum'at, 01 Januari 2021 01:46 WIB
Penulis: Jontra
Usaha dan upaya Pemerintah Republik Indonesia (RI) untuk mendatangkan vaksin Covid -19 patut diapresiasi. Karena hal itu memberikan harapan baru dalam proses penanganan pandemi yang sudah berlangsung hampir setahun lamanya. Momok virus Covid - 19 sudah mendekati angka yang mengkhawatirkan, bahkan sudah merenggut nyawa puluhan ribu jiwa orang di Indonesia.

Kedatangan vaksin seperti memberikan angin segar di tengah polemik yang mendera dunia dan meluluh lantakkan segala sendi kehidupan manusia.

Dampak di segala lini, seperti ekonomi, politik, hukum, sosial, dan budaya terus mendera. Menangani pandemi secara manual dengan melakukan karantina serta mengkonsumsi berbagai macam multivitamin memang sejauh ini telah membuahkan hasil.

Saat orang yang sudah terkontaminasi positif Covid - 19 usai menjalani tes SWAB dan diisolasi, mereka disuruh beristirahat total, berolahraga dan kemudian dalam proses pengobatannya mereka juga dijejali dengan vitamin dosis tinggi agar imun tubuhnya terus meningkat.

Setelah itu, saat mereka melakukan tes berikutnya, juga terlihat hasil yang menggembirakan, mereka dinyatakan negatif dan sudah dibolehkan kembali berinteraksi dengan lingkungannya, dengan catatan harus tetap menerapkan protokol kesehatan dan melakukan adaptasi kebiasaan baru dengan tetap memakai masker, menjaga jarak dan selalu mencuci tangan.

Namun kesembuhan dengan cara perawatan intensif seperti itu belumlah terlalu memuaskan, karena imunitas terhadap virus masih tetap rendah, yang sudah dinyatakan sembuh bisa saja terpapar lagi. Siapa saja rentan untuk terpapar, mulai dari orang biasa hingga orang terkenal. Mata rantai penyebarannya juga masih tidak terbendung, karena tidak semua orang mau disiplin untuk menerapkan protokol kesehatan.

Seluruh ahli virus berkompeten di dunia serta perusahaan farmasi juga berupaya keras untuk menciptakan penangkal dari virus yang penyebaran nya sangat cepat ini.

Sebagai orang nomor satu di Negara Republik Indonesia Presiden Joko Widodo juga dengan lantang berucap, sebelum vaksin ini digunakan oleh warga Indonesia, dirinyalah yang pertamakali akan menjejal vaksin itu untuk pertamakali agar tidak ada kekhawatiran warga terhadap rumor tentang vaksin ini.

Dengan banyaknya kabar baik dari beberapa uji terbaru, kini sejumlah negara di dunia juga telah bersiap untuk melakukan pemesanan berskala besar terhadap vaksin corona tersebut.

Penggunaan vaksin memang jadi senjata paling ampuh untuk mengurangi risiko penularan penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti Covid-19.

Organisasi kesehatan dunia WHO juga menjadi bagian dalam kontrol pengembangan vaksin Covid. WHO juga telah menjelaskan bagaimana cara kerja vaksin sehingga mampu menangkal virus dan penyakit.

Harapan akan hadirnya vaksin corona terlihat semakin besar. Beberapa perusahaan farmasi telah berhasil melakukan uji coba dengan tingkat efektivitas di atas 90%.

Dilansir dari laman resmi WHO, vaksin mengandung bagian yang lemah atau tidak aktif dari organisme tertentu (antigen) yang mampu memicu respon imun di dalam tubuh.

Terlepas dari apakah vaksin itu terdiri dari antigen itu sendiri atau cetak biru sehingga tubuh akan memproduksi antigen, versi yang dilemahkan ini tidak akan menyebabkan penyakit pada orang yang menerima vaksin.

Jika menilik dari data sementara uji klinis tahap akhir, vaksin corona buatan Moderna diklaim mempunyai efektivitas mencapai 94,5%. Vaksin corona ini bergantung pada penyuntikan potongan materi genetik virus, mRNA ke dalam sel manusia.Dari perusahaan lain, yakni Pfizer dan BioNTech, vaksin corona buatan mereka juga diklaim 95% efektif dan tidak memiliki efek samping serius. Vaksin corona dari Pfizer dinamai BNT162b2, dengan menggunakan mRNA.

Tidak mau kalah dari itu, efektivitas vaksin corona Sputnik V dari Rusia, menurut hasil analisis sementara dari uji klinis fase ketiga mencapai 92%, dan ada juga vaksin corona Sinovac yang dibuat oleh China.

Teranyar, Pemerintah Indonesia telah menerima 1,2 juta dosis vaksin Covid-19 siap pakai dari perusahaan asal China Sinovac pekan lalu.

Nantinya, akan ada 1,8 juta dosis vaksin siap pakai lain yang tiba pada Januari 2021 mendatang.

Meski jutaan vaksin telah tiba di Indonesia, tetapi pemerintah belum bisa langsung menyuntikkan vaksin virus corona tersebut.

Sebab proses vaksinasi harus menunggu izin penggunaan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terlebih dahulu.

Sementara itu, seorang Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman juga pernah mengatakan di berbagai media massa bahwa pemerintah harus memiliki rencana yang matang sebelum melakukan program vaksinasi.

Sebab, vaksinasi merupakan program yang tidak sederhana dan harus dikerjakan dengan sangat detail.

Agar vaksinasi dapat efektif dan mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity, menurut Dicky ada tiga syarat yang harus dipenuhi.

1. Vaksin yang aman dan efektif

Menurut Dikcy, pemerintah harus dapat memilih vaksin virus corona yang aman dan memiliki efektivitas yang optimal.

"Vaksinnya tentukan dulu mana yang aman dan memiliki efektivitas yang memadai dan optimal," kata Dicky yang dikutip dari Kompas.com.

Dicky menyebut, saat ini baru ada tiga perusahaan vaksin yang telah mengumumkan hasil uji tahap 3 dan efektivitasnya yaitu Pfizer, Moderna, dan Oxford.

"Jika ingin vaksinasi dalam waktu dekat, ya harus memilih dari tiga itu, karena di luar tiga itu kan belum ada," tambahnya.

2. Kondisi epidemiologi daerahDicky mengatakan, sebelum dilakukan vaksinasi, pemerintah harus mengetahui kondisi epidemiologi kasus Covid-19 di daerah.

Terutama angka reproduksi efektif (Rt) virus corona di daerah yang divaksin harus rendah.

Untuk itu, satu daerah harus memiliki Rt minimal di bawah 2. Sebab, angka itu menunjukkan bahwa satu wilayah telah melandaikan kurva.

"Artinya harus melandaikan kurva, saat ini ya belum, kecuali mungkin Jakarta, saya belum melihat di daerah lain," tutur dia.

Menurut Dicky, program vaksinasi tidak akan efektif jika satu daerah belum mampu mengendalikan pandemi virus corona.

3. Cakupan vaksinasi

Ketiga, angka cakupan vaksinasi harus tinggi, setidaknya 80 persen dari populasi. Namun, hal itu juga bergantung pada tingkat efektivitas vaksin yang digunakan.

Namun, melihat kondisi saat ini, Dicky tak yakin jika pemerintah akan mencapai angka vaksinasi 80 persen di Indonesia.

Terlebih program vaksinasi di Indonesia sebagian besar dilakukan secara mandiri atau berbayar.

"Tidak akan (tercapai). Selain banyak yang terpengaruh teori konspirasi, juga banyak penduduk kita di batas miskin," ungkap Dicky.

Harapan agar virus Covid - 19 ini bisa ditangkal dengan vaksin yang telah tiba di tanah air tentu saja sangat besar, ini seperti kabar gembira di tengah kerisauan yang tengah mendera bangsa kita.

Semoga saja semua kegalauaan akibat virus ini segera berakhir, dan kita kembali hidup normal seperti sebelum virus ini muncul di muka bumi.(**)

Kategori:Ragam
wwwwww