Ini Alasannya Mobil MPV Laku Keras di Indonesia

Ini Alasannya Mobil MPV Laku Keras di Indonesia
Rabu, 17 Januari 2018 11:01 WIB
JAKARTA - Masyarakat Indonesia menjadikan mobil jenis MPV sebagai primadona di pasar domestik. Adapun mobil jenis ini rata-rata dibanderol Rp200 juta per unit.

Direktur Utama Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Gaikindo Jongkie Sugiarto mengatakan, daya beli masyarakat Indonesia menjadi alasan utama mobil MPV laku di pasar domestik.

"Income per kapita kita USD3.570 makanya mobil yang laku yang Rp200 juta ke bawah," ujar Jongkie di Media Briefeng Automotive Outlook 2018 di UOB Plaza, Jakarta, Selasa (16/1/2018).

Gaikindo mencatatkan pada tahun 2016 kepemilikian mobil di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara Malaysia maupun Thailand. Tercatat rasio kepemilikan mobil di Malaysia yakni setiap 4 orang per mobil, sedangkan Thailand 5 orang per mobil. Sementara Indonesia berada di rasio 12 orang per mobil.

Hal inilah yang dikatakan Jongkie, menunjukkan daya beli masyarakat Indonesia lemah. Dirinya menepis bahwa kesukaan masyarakat terhadap mobil MPV dikarenakan daya tampung yang besar ketimbang mobil jenis lain seperti sedan yang tak bisa menampung banyak orang.

"Ini sebetulnya acuan bukan muat berapa orang per mobil, tetapi memang daya beli masyarakat Indonesia. Kita saja masih kalah dengan daya beli Malaysia dan Thailand," jelasnya.

Menurutnya, hal ini juga berimbas pada tingkat ekspor mobil Indonesia yang hanya mampu 200.000 unit. Sedangkan Malaysia 600.000 unit dan Thailand sebesar 1,2 juta unit.

Pasalnya seiring dengan minat dalam dengeri yang besar pada SPV, maka produsen dalam negeri pun mendominasi produksinya pada SPV. Sayangnya pasar internasional lebih minat pada mobil Sedan, Pick Up dan SUV, ini bertolak belakang dengan produksi domestik, sedangkan Thailand mampu memenuhi permintaan pasar dunia tersebut.

"Kalau pendapatan per kapita naik jadi USD4.000 maka pembelian mobil akan naik ke harga Rp300 juta ke atas. Ini sejalan dengan daya beli juga," ujar dia.

Dengan kenaikan daya beli ini, menurut Jongkie, mampu meningkatkan ekspor. Dimana akan terjadi pergeseran konsumsi dari SVP ke Sedan maupun SUV, sehingga produsen dalam negeri akan memproduksi jenis mobil lain ini yang memang dilirik pasar internasional.

"Kan dengan adanya ekspor ini, paling tidak kita bisa akan bisa menyerap tambahan investasi dan tenaga kerja. Itu paling penting buat kita," ucapnya. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:okezone.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww