Setiap Selasa dan Rabu, Siswa Tak Perlu ke Sekolah, Tapi Wajib Bantu Pekerjaan Orang Tua

Setiap Selasa dan Rabu, Siswa Tak Perlu ke Sekolah, Tapi Wajib Bantu Pekerjaan Orang Tua
Siswa membantu pekerjaan orang tuanya.
Selasa, 29 November 2016 22:14 WIB
PURWAKARTA - Pemerintah Kabupaten Purwakarta kembali mengeluarkan kebijakan baru di bidang pendidikan. Kebijakan baru ini mewajibkan siswa SD dan SMP untuk membantu pekerjaan orang tuanya setiap hari Selasa dan Rabu.

Kebijakan ini merupakan bagian dari implementasi Peraturan Bupati (Perbup) Purwakarta No 69 tentang Pendidikan Berkarakter sekaligus penguatan program ‘Tujuh Hari Pendidikan Istimewa.’

Pemberlakukan program ini dimulai hari ini, Selasa (29/11/2016). Total 110 ribu siswa SD dan 35 ribu siswa SMP secara serempak melaksanakan program tersebut.

Program ini dilatarbelakangi oleh maksud Pemkab Purwakarta untuk menumbuhkembangkan sikap empati di kalangan pelajar. Melalui program ini, diharapkan pelajar mampu merasakan kesulitan yang dialami orang tua mereka dalam melakoni pekerjaannya sehari-hari.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dalam kunjungannya di Kampung Cimanglid Desa Sukatani Purwakarta mengatakan, kebijakan tersebut diterapkan di seluruh Kabupaten Purwakarta. Kebijakan ini merupakan bagian dari pendidikan berbasis profesi keluarga.

Dedi Mulyadi melihat, sekarang ini pelajar tidak memiliki relasi dengan pekerjaan orang tuanya sehingga mereka cenderung bersikap egois.

Waktu luang yang mereka miliki pun tidak digunakan untuk peningkatan kemampuan akademik maupun aplikatif, melainkan digunakan untuk bermain dengan menggunakan kendaraan bermotor, bermain gadget, hingga nongkrong di tempat umum.

“Kalau mereka bekerja bareng orang tuanya, mereka akan merasakan dan menghayati kesulitan yang dialami orang tua saat menjalani pekerjaannya,” jelas Dedi.

Selain itu, transformasi pengetahuan dari orang tua kepada anak tentang deskripsi pekerjaan pun diharapkan dapat menambah khazanah pengetahuan pelajar itu sendiri.

“Kalau orang tuanya tukang bangunan, siapa tahu kelak sang anak memiliki kemampuan lebih baik dalam membangun, bahkan Anggota DPRD pun saya minta untuk membawa anaknya. Kalau ada orang tuanya yang bekerja di luar kota, bisa ikut saudaranya, ada transfer ilmu yang akan tercipta melalui program ini,” tambah Dedi Mulyadi.

Orang tua siswa, Cece (33) warga Kampung Cimanglid Desa Sukatani menyambut baik program baru yang dikeluarkan oleh Bupati Purwakarta ini. Pria yang berprofesi sebagai perajin tape singkong ini mengaku mendapatkan kesempatan untuk mentransformasikan ilmu pembuatan tape kepada anaknya.

“Ini kesempatan saya mewariskan ilmu pembuatan tape kepada anak saya. Nanti kan dia berpikir kalau minta ini itu, dia akan ingat kesulitan saya mencari uang, minimal keinginannya itu tidak akan terlalu menggebu,” ujar Cece.

Arif (11), anak dari Cece menuturkan, baru kali ini dia merasakan kesulitan yang dialami oleh ayahnya. Sambil menyeka keringat, pelajar kelas 6 SDN Sukatani ini bertekad untuk terus membantu ayahnya melakukan pekerjaan sehari-hari usai pulang sekolah.

“Cape juga Pak, angkat singkong untuk direbus. Ternyata luar biasa berat,” singkat Arif.

Berdasarkan pantauan di beberapa desa, terlihat para pelajar hari ini tidak masuk sekolah karena membantu kegiatan yang dijalani oleh orang tuanya sehari-hari, mulai dari berjualan bubur, membuat keramik, bekerja di kebun dan sawah.(pjs)

Editor:wawan k
Sumber:pojoksatu.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww