Home >  Artikel >  Ragam

Jarang Sakit, Begini Pola Makan Rasulullah SAW

Jarang Sakit, Begini Pola Makan Rasulullah SAW
Ilustrasi. (republika.co.id)
Jum'at, 06 September 2019 06:40 WIB
SESUNGGUHNYA Nabi Muhammad Rasulullah SAW merupakan suri teladan yang baik dalam segala hal, termasuk dalam pola makan.

Ketua Lembaga Dakwah Khusus LDK PP Muhammadiyah, Muhammad Ziyad, sebagaimana dicotohkan Nabi Muhammad SAW, bahan makanan yang dikonsumsi harus dipastikan halal dan thayyib (bisa dimaknai berkualitas dan bergizi). Makanan yang dikonsumsi tidak boleh dari unsur makan-makanan yang diharamkan karena hal itu bertentangan dengan hukum Islam.   

Selain itu, tidak mengonsumsi makanan secara berlebihan meskipun itu dari bahan makanan yang halal. Ini sejalan dengan firman Allah QS al-A’raf ayat ke-31: ''Makan dan minumlah kamu dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.'' 

Selain itu, Rasulullah SAW bersabda, ''Tidaklah seorang manusia memenuhi satu wadah yang lebih berbahaya dibandingkan perutnya sendiri. Sebenarnya seorang manusia itu cukup dengan beberapa suap makanan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Namun jika tidak ada pilihan lain, maka hendaknya sepertiga perut itu untuk makanan, sepertiga yang lain untuk minuman dan sepertiga terakhir untuk nafas.'' (HR Ibnu Majah).   

Ziyad mengatakan, makan haruslah diatur dan tidak boleh sekehendak diri saja. Sebab masalah kesehatan dan juga obesitas kerap bermula dari pola makan yang keliru. 

Misalnya, kata dia, belum merasa lapar tetapi sudah makan dan makanan yang dikonsumsi pun beraneka, sehingga tidak jarang menyebabkan masalah kesehatan.   

Menurut Ziyad, jika melihat pola kehidupan Nabi SAW, beliau termasuk jarang sakit. Pada zaman Nabi pernah datang rombongan orang ke kota Madinah. Mereka terheran melihat bentuk fisik Nabi SAW dan para sahabat yang tampak sehat. 

Lantas, mereka meminta resepnya apa. Kemudian, Rasulullah menjelaskan, ''Kami ini adalah suatu kaum yang tidak akan makan sebelum datang rasa lapar. Dan kami ini bila makan tidak akan sampai merasa kekenyangan.'' 

Artinya, kata Ziyad, Rasulullah mencontohkan agar makan seperlunya sesuai kebutuhan perut dan berhenti dari makan sebelum merasa kenyang betul.  

''Inilah yang dimaksud pola makan yang tepat. Ternyata cara dan pola makan seperti ini sesuai standar nasehat dokter dan ahli gizi modern,'' kata Ustaz Ziyad, melalui pesan elektronik kepada Republika.co.id, awal pekan ini.  

Selain pola makan yang baik, ungkap dia, Rasulullah juga mengajarkan puasa. Selain Ramadhan, adapula tuntunan puasa sunnah, seperti puasa Senin dan Kamis. 

Menurutnya, puasa mengajarkan tentang disiplin waktu makan. Bahkan, puasa juga berdampak manfaatnya bagi pencernaan dalam tubuh.   

Rasulullah dan penerusnya menerapkan pola makan yang sehat dalam kehidupan sehari harinya. Bahkan dalam sebuah hadist disebutkan, ''Orang yang berkecukupan makan dan bisa tidur nyenyak sementara tetangganya dalam kelaparan, maka orang semacam itu dianggap tidak sempurna imannya.''

Dengan demikian, kata Ustaz Ziyad, pola makan dan ketersediaan makanan itu terkait dengan semangat berbagi bagi sesama. 

Menurutnya, orang yang dapat melakukan hal demikian akan mendapatkan keluasan batin. Sementara kepuasan batin itu mendamaikan hati yang kemudian berdampak pada energi positif bagi fisiknya.  

Dia menambahkan, dimensi menjaga kesehatan dan hidup sehat juga harus melampaui perilaku semacam itu. Demikian halnya dengan makanan yang sehat juga terkait dengan cara penyembelihannya (daging dari hewan), memasaknya, menyajikannya dan bahkan cara mendapat rezekinya untuk membeli kebutuhan makanan yang dikonsumsi. 

Hal itu karena Rasulullah melarang menkonsumsi dari harta yang haram. ''Semua itu harus dipahami sebagai bagian dari paket diet menjaga kesehatan,'' tambahnya.

Ziyad lantas menuturkan beberapa pola makan Nabi Muhammad SAW yang membuatnya senantiasa sehat. Berikut beberapa jenis makanan yang kerap dikonsumsi Nabi SAW:   

- Makan dari gandum dan kurma

  - Makan daging kambing kesukaannya yakni warna merah (artinya masih segar dan bukan yang ada kandungan lemaknya)

  - Mengonsumsi laban (minum susu)

  - Meminum air rendaman kurma (infused water)

- Minum air di gelas yang ditutup

   - Rasulullah melarang makanan yang masih panas ditiup oleh mulut untuk dimakan. Hal itu dalam teori medis modern dapat berpengaruh terhadap jantung.***

Editor : hasan b
Kategori : Ragam

Loading...
www www