Sebelum Pingsan dan Akhirnya Tewas, Bocah Mahesa Terdorong Massa yang Antre Sembako di Monas

Sebelum Pingsan dan Akhirnya Tewas, Bocah Mahesa Terdorong Massa yang Antre Sembako di Monas
Massa berdesakan untuk mendapatkan sembako gratis di Monas, Sabtu lalu. (tribunnews)
Rabu, 02 Mei 2018 05:57 WIB
JAKARTA - Mahesa Djunaidi alias Sosis, merupakan salah seorang dari dua bocah yang diduga tewas karena kelelahan dan dehidrasi akibat berdesak-desakan dengan ribuan massa yang mengantre sembako di Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (28/4) lalu.

Dikutip dari tribunnnews.com, Akmal Faiz Pratama, sahabat Sosis, menceritakan, Sabtu pagi, berbekal uang saku masing-masing Rp 10.000, dia dan Sosis nekat jalan-jalan ke Kota Tua tanpa pamit kepada orangtuanya.

Dua sahabat berumur belasan tahun yang sama-sama masih duduk di kelas V SD itu bersemangat berwisata ke Kota Tua Jakarta.

  Sekitar pukul 09.00 WIB, keduanya berangkat menuju Kota Tua dengan menumpang Bajaj Qute atau yang bisa disebut bus kancil.

Sampai di Kota Tua, Sosis tiba-tiba mengubah rencana mereka. Adanya bus gratis yang tersedia di kawasan tersebut membuat keduanya tertarik jalan-jalan lebih jauh.

''Sosis ngajak saya jalan-jalan. Awalnya ke Kota Tua. Tapi, sampai sana dia ngajak ke Monas naik bus gratis. Katanya Monas ramai banget. Saya ajak pulang nggak mau,'' kata Akmal kepada Warta Kota, Selasa (1/5/2018).

Pukul 10.30 WIB, saat matahari semakin tinggi dan panasnya semakin terik, Akmal dan Sosis tiba di Monas.

Melihat masyarakat yang tumpah ruah di kawasan Monas dan sekitarnya membuat kedua sahabat ini semakin senang. Mereka merasa menemukan momen yang tepat untuk jalan-jalan.

Kedua bocah yang dikenal rajin mengaji tersebut kemudian berusaha menembus kerumunan massa untuk dapat masuk ke lapangan Monas.

Hari itu, bertepatan dengan acara Pesta Rakyat Untukmu Indonesia. Panitia mempersiapkan serangkaian acara seperti pengobatan, potong rambut, pijat refleksi, dan pembagian sembako gratis bagi masyarakat yang mendapatkan kupon.

Akmal dan Sosis akhirnya bisa menembus kerumunan massa yang jumlahnya diperkirakan ratusan ribu orang. Tanpa membawa bekal makanan dan minuman, mereka berjalan berkeliling Monas.

''Kami bukan mau ngambil sembako. Nggak ada kupon. Cuma jalan-jalan saja,'' tambahnya.

Lelah berjalan-jalan, sekitar pukul 14.00 WIB, Akmal dan Sosis memutuskan untuk pulang. Keduanya lalu menuju Lapangan IRTI yang menjadi tempat parkir bus gratis.

Rencananya mereka akan kembali ke Kota Tua untuk kemudian pulang ke rumahnya. Namun, padatnya kerumunan massa, keduanya terpisah beberapa saat sebelum tiba di bus gratis yang dimaksud.

''Saya kedorong-dorong sampai jatuh. Saya lihat, Sosis udah nggak ada. Saya cari-cari sambil teriak-teriak sampai suara saya parau, nggak ketemu,'' ujar Akmal.

Ia yang menyangka sahabatnya sudah pulang lebih dahulu, kemudian memutuskan untuk kembali ke Kota Tua dengan naik bus gratis.

Dari sana, ia melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya menggunakan Bajaj Qute atau bus kancil.

''Sampai rumah saya samperin mamahnya, saya ke rumah Sosis. Saya tanya ke mamahnya Sosis sudah pulang atau belum. Mamahnya bilang belum,'' imbuh Akmal.

Ia bercerita kepada ibu sahabatnya itu tentang kejadian yang mereka alami pada hari tersebut.

''Kata mamahnya, nanti mereka bakal nyusul dan cari Sosis ke Monas,'' tutur Akmal.

Sebagai seorang sahabat, perasaan Akmal sangat gelisah karena Sosis belum ditemukan.

Keesokan harinya, Minggu (29/4/2018), barulah ia mendapat kabar bahwa sahabatnya, Sosis sudah meninggal dunia.

''Sore itu dia nggak cerita mungkin takut. Tapi gelagatnya sudah kebaca. Beli bakso nggak dimakan. Pamit ke depan ternyata nyari info soal temannya udah pulang atau belum. Besok paginya ramai di depan ternyata Sosis meninggal,'' terang Siswanto, orang tua Akmal.

Hal itu dibenarkan Akmal bahwa malam itu ia sangat gelisah dan tidak bisa tidur. ''Katanya jam 4 sore dia ditemukan pingsan sama Pol PP trus dibawa ke RS Tarakan, jam 8 udah meninggal. Saya juga nggak tahu dia punya riwayat penyakit. Kata mamahnya, dia nggak tahan panas, makanya meninggalnya mimisan terus. Niatnya jalan-jalan doang,'' jelas Akmal.

Dengan berlinang air mata dan bicara terputus-putus Akmal menceritakan kepada Warta Kota, hampir setiap hari dirinya dan Sosis bermain bersama serta mengaji bersama.

''Kami ngaji tiap hari kecuali tanggal merah dan Sabtu-Minggu. Jum'at sore (20/4/2018) dia datang ke rumah sekitar jam 5 ngajak berangkat ngaji. Dia juga bilang mau beli burung dara tapi kandangnya di rumah saya.'' papar Akmal.

Mahesa Djunaidi alias Sosis dimakamkan di TPU Budi Dharma Semper Jakarta Utara pada Minggu (29/4/2018).

Diberitakan sebelumnya, dua orang anak meninggal dunia saat berdesak-desakan di acara Pesta Rakyat Untukmu Indonesia di Monas Jakarta pada Sabtu (28/4/2018). Kedua anak yang meninggal dunia itu yakni Mahesa Djunaidi dan Muhammad Rizki Saputra. Mereka adalah warga Pademangan Barat, Jakarta Utara.

Kombes Argo Membantah

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono membantah isu yang menyatakan bahwa dua anak tersebut meninggal karena antri sembako. Sebab, menurutnya, keduanya ditemukan di luar area Pesta Rakyat.

''Tidak benar, keduanya ditemukan di luar,'' ujarnya di Polda Metro Jaya, Selasa (1/5/2018).

Warta Kota sudah berusaha untuk meminta keterangan dari orang tua Sosis, namun ia menolak untuk memberikan keterangan lantaran masih dalam suasana duka yang mendalam.

''Tolong dipahami, kalian tahu kan bagaimana rasanya kehilangan anak,'' kata Djunaidi.***

Editor:hasan b
Sumber:tribunnews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww