Jumlah Muslim di Korsel Sudah Mencapai 150 Ribu Orang, 30 Persen Penduduk Asli

Jumlah Muslim di Korsel Sudah Mencapai 150 Ribu Orang, 30 Persen Penduduk Asli
Umat Islam Korea Selatan. (republika.co.id)
Senin, 12 Maret 2018 18:02 WIB
SEOUL - Jumlah umat Islam di Korea Selatan (Korsel) terus meningkat. Saat ini, jumlah umat Islam di Negeri Ginseng itu sudah mencapai 150 ribu orang.

Penduduk asli Korsel yang memeluk Islam rata-rata berpendidikan tinggi dan mengenyam pendidikan di luar negeri, terutama negara-negara Islam.

Mereka sangat aktif menyebarkan Islam di masyarakat Korsel dan menyediakan dukungan sosial bagi umat Muslim yang baru tiba.

Sementara, imigran Muslim hanya didominasi warga asing dari negara-negara Arab, melainkan juga dari Timur Tengah secara umum. Jumlah imigran Muslim baik legal maupun ilegal diperkirakan mencapai 113.266 orang pada 2012.

Mereka yang datang ke Korsel biasanya merupakan pelajar dari negara Teluk yang telah menetap dan kemudian menjadi pebisnis.

Namun, Muslim yang berasal dari Mesir, Sudan, dan lainnya biasanya hanya menjadi buruh kasar.

Meningkatnya jumlah Muslim di Korea juga disebabkan oleh pernikahan internasional antara warga Korsel dan warga asing yang beragama Islam.

Sebanyak 140 ribu migran yang menetap di negara ini menikah sesuai data imigrasi Korsel pada 2012.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.687 orang merupakan Muslim, meski hanya sekitar 302 migran berasal dari Timur Tengah.

Korsel juga menjadi destinasi bagi para pelajar asing yang beragama Islam.

Sejak 2008 Pemerintah Korsel aktif menarik minat studi mahasiswa asing dan memberikan beasiswa kepada tak kurang dari 3.000 siswa.

Setelah menyelesaikan gelar mereka, banyak pelajar Muslim yang mendapatkan pe kerjaan di Korsel.

Mereka pun menjalin hubungan yang positif dengan penduduk lokal sehingga banyak warga asli Korsel yang mengenal Islam dan nilai budaya agama ini.

Bantuan Negara Muslim

Perkembangan Islam di Korsel memang tidak bisa lepas dari bantuan negara-negara Muslim lainnya, baik dari Asia atau Timur Tengah.

Pada 1962 Malaysia pernah menawarkan hibah sebesar 33 ribu dolar AS untuk rencana pembangunan masjid di Seoul. Tapi, rencana itu gagal akibat inflasi.

Tidak sampai 1970-an, ketika hubungan ekonomi Korea Selatan dengan banyak negara Timur Tengah membaik, minat dalam Islam mulai bangkit lagi. Ini didukung dengan tak sedikit warga Korsel yang bekerja di Arab Saudi masuk Islam dan kembali ke Korsel mendakwahkan agama baru mereka.  

Menurut Presiden Korea Islam Institute Lee Hee-soo (Yi Huisu), ada sekitar 40 ribu Muslim di Korea Selatan dan sekitar 10 ribu merupakan Muslim yang taat.

Geliat keislaman pun kian menguat di Korsel. Tak hanya masjid, lembaga-lembaga Islam pun aktif berdiri, di antaranya, Yayasan Muslim Korea.

Yayasan ini membuka sekolah dasar Islam pertama. Pangeran Sultan bin Abdul Aziz pada 2009 lalu mengatakan, sekolah tersebut bertujuan membantu Muslim di Korsel belajar agama melalui kurikulum sekolah resmi.

Sebelum pembentukan sebuah sekolah dasar, madrasah bernama Sultan Bin Abdul Aziz telah difungsikan sejak 1990-an. Anak-anak belajar bahasa Arab, budaya Islam, dan bahasa Inggris.

Selain membuka sekolah dasar Islam pertama, Yayasan Komunitas Muslim Korea juga berencana membangun pusat budaya, sekolah menengah, bahkan universitas.

Duta Besar Arab Saudi untuk Seoul Abdullah al-Aifan mengatakan, Arab Saudi memberikan bantuan sebesar 500 ribu dolar AS untuk proses pembangunan ini.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww