Ramalan Mengerikan, Gempa Dahsyat Guncang Indonesia dan 10 Negara Lainnya Akhir 2017, Begini Penjelasan Para Ahli

Ramalan Mengerikan, Gempa Dahsyat Guncang Indonesia dan 10 Negara Lainnya Akhir 2017, Begini Penjelasan Para Ahli
Ilustrasi badan jalan patah akibat gempa. (liputan6.com)
Sabtu, 16 Desember 2017 21:44 WIB
NEW DELHI - Babu Kalayil, yang mengklaim memiliki extrasensory perception (ESP) alias indra keenam mengirim surat ke Perdana Menteri India, Narendra Modi pada 20 September 2017 lalu.

Dalam surat tersebut, Babu menyampaikan hasil ramalannya yang mengerikan, bahwa akan terjadi gempa dahsyat di Samudera Hindia pada akhir tahun 2017.

''Di Samudra Hindia, gempa bumi akan terjadi sebelum 31 Desember 2017. Lindu dahsyat ini bisa mengguncang seluruh pesisir wilayah benua Asia,'' tulis dia dalam suratnya pada PM India, seperti dikutip di situs anti-hoax, Snopes.com, Kamis (14/12/2017).

''Sebelas negara akan terdampak: India, China, Jepang, Pakistan, Nepal, Bangladesh, Thyland (Thailand), Indonesia, Algantstan (Afghanistan), Sri Lanka, dan akan berlanjut ke negara-negara Teluk,'' tambah Direktur B.K. Research Association for ESP di Kerala tersebut. Ada banyak salah ketik atau typo dalam surat itu. 

Babu Kalayil mengklaim, ramalan itu didapat pada 20 Agustus 2017 lewat indra keenamnya.

Meski klaim tersebut tak didukung bukti ilmiah, ramalannya itu mengingatkan kembali akan apa yang terjadi pada akhir Desember 2004.

Kala itu, Minggu pagi 26 Desember 2004 pukul 07.58 WIB, gempa dengan kekuatan 9,1 skala Richter terjadi. Pulau Sumatera berguncang hebat, terutama di Aceh. Lindu kencang selama 10 menit memicu kepanikan.

Lindu dahsyat itu disusul tsunami. Dari Aceh, gelombang gergasi memantul ke 12 pantai di pesisir Samudera Hindia. Korban-korban berjatuhan di Indonesia, Thailand, Sri Lanka, India, Maladewa, Thailand, Myanmar, Malaysia, Somalia, Tanzania, Seychelles, Bangladesh, dan Kenya. Total 230 ribu nyawa terenggut.

Diragukan Para Ilmuwan

Akankah tsunami akan terjadi sesuai dengan ramalan itu? Sejumlah ilmuwan meragukan klaim tersebut.

Dr Mohd Hisham Mohd Anip dari Badan Meteorologi Malaysia mengatakan, tak ada bukti ilmiah yang menunjukkan ramalan itu perlu dikhawatirkan.

Ia menegaskan, belum ada teknologi yang bisa memprediksi aktivitas seismik, apalagi selang beberapa bulan sebelum kejadian.

''Tak ada indikator ilmiah yang menunjukkan terjadinya gempa dan tsunami besar di Samudera Hindia pada akhir tahun. Ia (peramal) hanya memprediksi berdasarkan dugaan,'' kata dia kepada The Sun Today.

Direktur Pusat Penelitian Bencana Alam Universiti Malaysia Sabah (USM), Felix Tongkul juga mengungkapkan hal senada.

Tongkul mempertanyakan mengapa orang yang mengaku sebagai ilmuwan asal India itu bisa mengeluarkan prediksi tanpa riset yang menghasilkan bukti kuat secara ilmiah.

Padahal, kata dia, ramalan tersebut bisa membuat orang panik.

Sementara itu, dalam siaran persnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menanggapi prediksi tersebut.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhamad Saldy menegaskan, ramalan tersebut tak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

''Karena cakupan dampak yang disebutkan sangat luas dan sulit diterima dalam ilmu kegempaan (seismologi),'' kata Saldy.

BMKG, ia menambahkan, tak pernah mengeluarkan informasi prediksi gempa bumi dengan tepat, kapan, di mana dan berapa kekuatannya.

''Masyarakat diimbau tidak terpancing isu yang beredar tersebut (gempa dan tsunami),'' kata dia. 

Reputasi Sang Peramal

Situs anti-hoax, Snopes.com juga membantah prediksi yang dikeluarkan Babu Kalayil. 

Salah satunya, dengan mengatakan bahwa ESP atau indra keenam sama sekali tak didukung fakta ilmiah.

Alasan lainnya, reputasi Babu Kalayil, sebagai ilmuwan atau orang yang bisa memprediksi gempa, diragukan.

Ini bukan kali pertamanya Kalayil muncul dalam pemberitaan. Sebuah kisah yang diragukan kebenarannya muncul pada 2005 di media India, The Hindu. Yang mengisahkan dugaan upaya seorang fisikawan yang diidentifikasi sebagai 'G. Renuka' dari University of Kerala untuk menguji kekuatan indra keenam Kalayil.

''Dr Renika mengatakan, pada 2 Agustus 2001, Babu memprediksi keberadaan air di Mars, sebulan sebelum para ilmuwan di Hungaria melaporkan keberadaan air di Planet Merah," demikian cuplikan artikel tersebut.

Belum Terkonfirmasi

Pada 2004, ilmuwan dari Berkeley University of California menemukan planet baru yang jaraknya 50 tahun cahaya dari Bumi. Konon, Babu telah meramalkannya pada 1998. Namun, tak ada pembuktian terbalik atas ramalan itu.

Situs pengecekan fakta di India, Boom berupaya untuk mengontak Kalayil lewat nomor telepon yang tertera dalam surat yang ditujukan ke PM India. Namun, tak ada respons.

''Karena itulah, kami menilai klaim soal 'prediksi valid' terkait gempa dan tsunami di Samudra Hindia sebelum 31 Desember 2017 adalah palsu,'' demikian kesimpulan Snopes.com.***

Editor:hasan b
Sumber:liputan6.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww