Daya Beli Masyarakat Terus Melemah, Mal di Padang Sepi, Omzet Pedagang Anjlok 70 Persen

Daya Beli Masyarakat Terus Melemah, Mal di Padang Sepi, Omzet Pedagang Anjlok 70 Persen
Mal sepi. (republika.co.id)
Kamis, 26 Oktober 2017 17:33 WIB
PADANG - Melemahnya daya beli masyarakat menyebabkan sepinya pengunjung pada pusat-pusat perbelanjaan (mal). Kondisi mal yang semakin sepi belakangan ini juga terjadi di Kota Padang, Sumatera Barat.

Dikutip dari republika.co.id, Hesty (43 tahun), pedagang tas dan busana Muslim di salah satu kios di Sentral Pasar Raya Plaza (SPR Plaza) di kawasan Pasar Raya, Padang, mengakui semakin sepinya pembeli dalam setahun belakangan.

Hesty mengungkapkan, akibat sepinya pembeli, omzetnya anjlok hingga 50 persen dibanding 2016 lalu. Bahkan kalau disandingkan dengan penjualan pada 2014 lalu, Hesty mengaku penurunan bisa mencapai 70 persen.

''Cobalah tanya ke pedagang lain. Sepi. Satu dua pembeli sehari. Saya sudah putus asa sebetulnya jualan di sini,'' ujar Hesty, Kamis (26/10/2017). Hesty menempati kios di lantai 2 SPR Plaza.

Dulu, lanjutnya, pedagang dari daerah lain di Sumatra Barat, seperti Bukittinggi dan Payakumbuh, terbiasa membeli pasokan barang dagangan di SPR Plaza. Bahkan penjualan tetap tinggi meski bukan di akhir pekan. Namun kini, Hesty mengaku kunjungan calon pembeli hanya ramai di akhir pekan. Itu pun pengunjung lebih sering hanya melihat-lihat.

Bagi Hesty, menurunnya daya beli memang tak bisa dibendung. Seberapa keras usaha pengelola SPR Plaza untuk menarik pengunjung, menurutnya tak bakal ampuh mendongkrak kenaikan omzet. Alasannya adalah masyarakat yang memilih mengerem belanja. Ia sekarang terpaksa bertahan dengan stok dagangan yang tak kunjung habis terjual.

Padahal dulu, Hesty mengaku, dirinya kerap menambah pasokan barang dari Tanah Abang dan Mangga Dua di Jakarta, bahkan Batam. ''Kalau kondisinya terus begini. Ada pikiran saya untuk berjualan di sini sampai kahir 2017 saja,'' ujar Hesty lirih.

Hesty tak yakin muramnya aktivitas perdagangan di SPR Plaza, atau Kota Padang secara menyeluruh, akan pulih tahun depan. Ia melihat masyarakat kini lebih memilih membelanjakan uangnya untuk kebutuhan yang lebih mendesak, seperti biaya sekolah anak, listrik, atau bahan makanan. Bahkan ketika ditanya soal masukan bagi pengelola, Hesty memilih geleng-geleng kepala.

Menurutnya, pengelola SPR Plaza sudah cukup bekerja keras untuk menarik pembeli. entah dengan mengadakan acara seni atau perlombaan di pusat perbelanjaan tersebut. ''Bahkan sempat loh, ada promosi kios gratis. Tapi ya apa boleh buat, daya beli orang rendah. Buat apa ambil kios gratis kalau tak ada yang beli,'' ujarnya.

Senada dengan Hesty, Jafri (49 tahun) juga merasakan anjloknya pendapatan. Menurutnya, dalam setahun belakangan saja terjadi penurunan omzet hingga 50 persen lebih. Ia memberi contoh, bila tahun lalu dalam sehari ia biasa menerima uang hingga Rp 1 juta dari berjualan. Saat ini, katanya, terima uang Rp 500 ribu saja sudah penuh syukur.

''Sepi. Jauh bedanya. Saya yakin kondisi ini tak hanya di SPR. Indonesia demikian. Ekonomi entah bagaimana kok nggak seperti dulu,'' ujar Jafri.

Bahkan ia mengaku terpaksa menutup satu kiosnya di SPR Plaza. Sejak awal Jafri memang mengelola dua kios di lantai yang sama. Namun karena gelombang penurunan daya beli semakin terasa, Jafri memilih fokus pada satu kiosnya saja.

Jafri sebetulnya memiliki opsi untuk merantau dan membuka bisnis di kota lain. Namun pilihan itu tak ia ambil karena merasa kondisi serupa juga terjadi di kota lain. ''Kata pemerintah ekonomi baik. Ekonomi stabil. Tapi di lapangan bertolak belakang. Kami yang merasakan, ekonomi lesu. Masyarakat ngga ada duit untuk belanja,'' katanya.

Saat ini, tak seluruh kios beroperasi di SPR Plaza. Lantai 2 SPR Plaza hanya terisi separuh, terutama di bagian depan hingga tengah. Deretan kios di sayap kanan dan kiri bangunan tampak tak berpenghuni. Lantai dasar kondisinya lebih mending, jumlah kios yang buka masih lebih banyak dibanding lantai di atasnya.

Manajemen SPR Akui Lesu

Pihak manajemen SPR Plaza mengiyakan kondisi lesunya daya beli. Asisten Manajer Marketing SPR Plaza, Bharata Laksamana, mengungkapkan bahwa nilai transaksi di SPR Plaza merosot hingga 50 persen di pertengahan semester II 2017 dibanding periode yang sama tahun 2016 lalu. Menurutnya, sepinya SPR Plaza sebetulnya dilatari penurunan daya beli yang terjadi secara nasional.

Meski begitu, Bharata menegaskan bahwa manajemen pusat perbelanjaan di Kota Padang, termasuk SPR Plaza saling berlomba-lomba untuk menarik kunjungan pembeli. "Konsep SPR Plaza kan menyasar pembeli dari ekonomi menengah ke bawah. Konsep kami pasar tapi dikemas seperti mall. Tapi ya ini semua imbas kondisi ekonomi saat ini," jelas Bharata.

Bharata menyadari bahwa kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan saat ini lebih sekadar untuk melihat-lihat, alih-alih berbelanja. Kondisi ini membuat manajemen mengemas berbagai acara untuk menaikkan lagi pamor SPR Plaza. Bharata mengaku, pihaknya sengaja mengadakan acara-acara setiap bulannya demi menaikkan jumlah kunjungan.

Acara yang digelar seperti peragaan busana untuk anak-anak, lomba menggambar untuk anak-anak, dan gelaran lainnya. "Konsep yang kami percayai, nggak ada gula maka semut nggak mau datang. Maka kami adakan acara-acara ini. Cuma ya, Kota Padang ini penduduknya tidak banyak," katanya.

Sementara Ketua Perwakilan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumatra Barat Muzakir Aziz melihat bahwa penurunan daya beli merupakan risiko yang harus dihadapi oleh setiap pebisnis. Muzakir mengungkapkan, tren yang terjadi di Sumatra Barat belakangan ini, pusat perbelanjaan hanya ramai di awal pembukaan saja.

Setelah beberapa tahun berjalan, lanjutnya, maka jumlah kunjungan akan stagnan bila tidak ada inovasi pengelola pusat perbelanjaan. ''Di samping pendapatan masyarakat yang stagnan, orang juga barangkali jenuh belanja ke mal,'' ujarnya.

Penurunan daya beli diakui Muzakir memang dirasakan sebagian besar pengusaha di Sumatra Barat. Hanya saja menurutnya, secara umum ekonomi di Sumbar masih tergolong stabil lantaran tertolong oleh banyaknya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Catatan Apindo Sumbar, lebih dari 90 persen jenis usaha di Sumatra Barat tergolong UMKM. Kelompok UMKM ini lah yang diyakini tahan banting terhadap kelesuan ekonomi.

Muzakir melanjutkan, rendahnya daya beli skala nasional lebih berdampak pada industri ritel. Itu lah mengapa sepinya pembeli sangat terasa di pusat perbelanjaa. Namun, katanya, bila melihat ke pasar tradisional di Sumatra Barat, terbukti bahwa geliat ekonomi masyarakat masih menyala.

''Saya pikir daya beli memang terasa menurun. Namun tidak sampai membuat kolaps. Nah, yang berisiko kolaps justru yang besar-besar. Karena besarnya biaya operasional. UMKM? Tahan banting,'' katanya.

Kepala Dinas Pedagangan Kota Padang Endrizal menampik bahwa penurunan daya beli terasa signifikan di wilayah yang ia kelola. Dilihat dari kaca mata Pemerintah Kota, geliat perdagangan masih positif di sentra-sentra perbelanjaan di Padang.

Pasar Raya misalnya, setelah renovasi besar-besaran yang dilakukan oleh Pemkot, saat ini pembeli mulai merasakan kenyamanan berbelanja. Endrizal mencatat ada kenaikan jumlah pembeli di Pasar Raya Padang. ''Pasar masih ramai loh ya. Kalau SPR Plaza misalnya, dulu bayar listrik susah, sekarang sudah oke,'' katanya.

Endrizal memandang bahwa kinerja perdagangan di Kota Padang dan Sumatra Barat secara umum terdongkrak oleh pertumbuhan kunjungan wisata ke Tanah Minang. Gencarnya promosi wisata halal membuat destinasi-destinasi wisata di Sumatra Barat semakin populer. Banyaknya wisatawan baik lokal atau mancanegara ini lah yang ia yakini menyumbang kontribusi terhadap pertumbuhan transaksi di Sumatra Barat.

''Hunian hotel di Padang nyaris 100 persen di akhir pekan. Wisatawan kemudian belanja di sini. Kami juga gencar mengadakan event di Padang. Hal ini yang membantu daya beli kita,'' katanya.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww