Desa Unik, Anak Gadis Dibuatkan Gubuk Tempat Berhubungan Intim dengan Banyak Pria untuk Pilih Calon Suami

Desa Unik, Anak Gadis Dibuatkan Gubuk Tempat Berhubungan Intim dengan Banyak Pria untuk Pilih Calon Suami
Seorang gadis Kreung duduk di gubuk cintanya. (intisari.grid.id)
Sabtu, 25 Januari 2020 11:38 WIB
KAMBOJA - Masyarakat Desa Krueng di Kamboja memiliki budaya unik, yang tidak mungkin ditemukan di desa lainnya di dunia. Di desa ini, setiap anak gadis dibuatkan orangtuanya sebuah gubuk, yang disebut gubuk cinta.

Sesuai dengan namanya, sang gadis akan menjadikan gubuk tersebut sebagai tempat melakukan hubungan intim dengan banyak pria.

Dengan cara itu, sang gadis bisa menentukan pilihan, siapa pria yang paling cocok sebagai suami.  

Kabarnya, dengan budaya unik tersebut, di desa ini minim kekerasan seksual terhadap perempuan. Bahkan perempuan dianggap mendapat tempat cukup terhormat di sini. 

Dikutip Intisari.grid.id, pada tahun 2011 yang lalu, jurnalis Fiona MacGregor mengunjungi kampung Kreung yang terkenal dengan budaya 'gubuk cinta'-nya itu. Dilaporkannya, bahwa gubuk cinta ini konon adalah kunci cinta abadi di desa tersebut.

Fiona menemukan fakta bahwa para gadis di desa itu sangat percaya diri dalam urusan pacar dan memahami suatu hubungan. Meskipun hal itu bertentangan dengan nilai umum tentang perilaku seksual yang ada.

Perempuan di desa Kreung diajarkan bahwa seksualitas adalah bagian alami dan indah dari cinta.

Orang Suku Kreung dijiwai dengan gagasan bahwa berhubungan badan sebelum nikah dapat diterima dan bahkan didorong.

Remaja putri di desa itu didorong untuk menemukan orang atau pria yang tepat untuk dinikahinya melalui hubungan badan sebelum menikah.

Perempuan Suku Kreung mengambil inisiatif untuk mengajak pria tinggal di 'gubuk cinta'.

Gubuk dari kayu ini dibuat oleh orangtua si gadis untuk putrinya agar bisa menemukan calon suami.

Untuk memahami hal itu, Fiona melakukan wawancara dengan Gaham, seorang pemilik gubuk cinta.

''Sebelumnya kami tinggal di rumah yang sempit sehingga kami bisa membuka hati kami, tetapi kami memiliki pondok kami sendiri jadi kami bisa saling membuka diri,'' kata Gaham.

''Tinggal di gubuk pada malam hari sangat gelap dan sunyi, jadi suasananya sangat romantis,'' jelasnya.

Ibu Gaham, bernama Kampan mendukung adanya gubuk cinta itu.

''Dulu saya punya banyak pacar laki-laki, dari 10 orang sebelum saya menikahi suami saya,'' kata Kampan.

''Saya pikir dia agak cemburu tetapi itu tidak masalah karena dia mencintaiku,'' sambung Kampan.

Dalam budaya Kreung, perceraian adalah ungkapan yang tidak terlalu sering muncul. Ada 150 pasangan, dan hanya 1-2 pasangan yang meninggalkan satu sama lain dengan bercerai.

Bahkan wanita di desa ini bisa memiliki banyak pacar pada saat yang sama sebelum mereka memilih salah satunya.

Seorang wanita bernama Nang Chan (17) mengatakan bahwa gubuk cinta menciptakan wanita yang kuat. Gubuk ini membantu wanita menemukan cinta sejatinya.

''Pondok cinta memberi kita kebebasan dan merupakan cara terbaik mengetahui siapa yang benar-benar kita sukai,'' katanya.

Menariknya, di Kreung kekerasan seksual jarang terjadi dan pemerkosaan bahkan hampir tidak ditemukan.

Anak-anak di desa Kreung tidak memiliki sikap agresif. Mereka diajari sikap menghormati wanita karena dianggap bisa memengaruhi peternakan hewan keluarga dan hal lainnya.

''Ketika anak laki-laki tidur sepanjang malam, jika aku tidak ingin mereka menyentuhku mereka tidak akan berani.''

''Kami hanya bicara dan tidur,'' kata Nang Chan.

''Jika aku punya pacar istimewa dan kami saling mencintai, aku akan dekat dengannya.''

''Tetapi jika saya berhenti mencintainya dan menyukai pria lain, saya akan berhenti berhubungan intim dengan mantan saya,'' katanya.

''Saya sudah tinggal di gubuk sejak usia 15 dan sejak dan sudah ada 4 pacar istimewa." "Saya tidak menghitung berapa banyak orang yang datang untuk menginap. Ada 2-3 orang di malam hari,'' katanya.

Orang Kreung sendiri telah diimbau untuk menggunakan kondom untuk mencegah kehamilan. 

Sebelum itu, suku dari desa Kreung sudah membuat ''pil KB'' sendiri yang terbuat dari kayu, anggur,dan kelabang. 

Berkat propaganda organisasi non-pemerintah setempat, kondom secara bertahap menjadi lebih populer di desa tersebut.

Namun, budaya itu sudah semakin memudar karena budaya modern yang menjelaskan bahwa berhubungan intim pra-nikah tidak benar.***

Editor:hasan b
Sumber:intisari.grid.id
Kategori:Ragam
wwwwww