Berada di Tiga Lempeng Dunia, Sumbar Rawan Gempa Bumi, Begini Analisa 5 Tahun Belakangan

Berada di Tiga Lempeng Dunia, Sumbar Rawan Gempa Bumi, Begini Analisa 5 Tahun Belakangan
Ilustrasi lokasi gempa 6.5 SR di Pesisir Selatan, Kamis, 2 Juni 2016. (BMKG)
Minggu, 05 Juni 2016 20:05 WIB
Penulis: Rahmat Triyono (Kepala BMKG Padang Panjang)
MASIH jelas dalam ingatan kita tentang gempabumi yang mengguncang Kepulauan Mentawai pada tanggal 2 Maret 2016 pada pukul 19:49:47 WIB dengan kekuatan 7.8 SR dan berpotensi tsunami dan gempa ini telah membuat kepanikan di 7 wilayah kabupaten pesisir Sumatera barat

Karena BMKG mengeluarkan berita peringatan dini tsunami dengan status waspada untuk 6 kabupaten pesisir Sumbar, yaitu kabupaten Pesisir Selatan, Padang, Padang Pariaman, Pariaman, Agam dan Pasaman Barat, serta status siaga untuk kabupaten kepulauan Mentawai, kemuadian gempabumi kuat kembali terjadi pada tanggal 2 Juni 2016 pukul 05:56:01 WIB dengan kekuatan 6.5 SR pada lokasi 79 Km Barat Daya Pesisir Selatan dan kedalaman 72 Km.

Berdasarkan parameter gempabumi, kejadian gempabumi ini disebabkan oleh aktivitas subduksi penunjaman Lempeng Indo-Australia terhadap Lempeng Eurasia. Berdasarkan peta guncangan (shakemap) BMKG menunjukkan intensitas gempabumi di sekitar Painan V-VI MMI (III SIG-BMKG), Padang IV MMI (II SIG-BMKG), dan Padang Panjang III-IV MMI (II SIG-BMKG). Hal ini sesuai dengan laporan masyarakat yang diterima BMKG bahwa gempabumi dirasakan cukup kuat di Painan, Padang dan Padang Panjang. Dampak gempabumi ini berdasarkan laporan dari BPBD Propinsi Sumatera Barat, menyebabkan 1.955 rumah masyarakat mengalami kerusakan dan menimbulkan korban 18 orang terluka.

Dalam lima tahun terakhir ini, berdasarkan catatan seismograph hasil analisa BMKG Padang Panjang dapat disimpulkan bahwa tingginya frekuensi kejadian gempabumi di Sumatera khususnya Sumatera Barat disebabkan karena wilayah Sumatera Barat terdapat tiga sumber ancaman gempabumi, yaitu; pertama didaerah subduksi pertemuan antar lempeng tektonik India-Australia dengan lempeng Eurasia yang berjarak sekitar 250 km dari garis pantai pesisir barat Sumatera.

Kedua didaerah sesar Mentawai yang berjaraknya sekitar 120 km dari garis pantai Sumatera Barat, dan yang ketiga adalah sumber ancaman gempabumi yang ada didaratan Sumatera yang sering disebut sesar Sumatera, sesar ini memanjang dari provinsi Lampung sampai ke provinsi Aceh sepanjang +/- 1900 km dan melewati beberapa kabupaten di Sumatera Barat antara lain : Kab. Solok Selatan, kab. Solok, kab. Tanah Datar, kota Padang Panjang, kota Bukit Tinggi, kab Agam dan kabupaten Pasaman.

Tentunya ancaman bencana gempabumi yang bersumber dari sesar Sumatera ini tidak dapat diabaikan begitu saja, sejarah mencatat kejadian gempabumi tahun 2007 terjadi dalam kurun waktu 2 jam terjadi 2 kali gempabumi merusak dengan pusat gempa di 0.55 LS , 100.47 BT (16 km Barat Daya Batu Sangkar) dengan kekuatan 6.4 SR dan di 0.47?LS , 100.49? BT (11 km Barat Daya Batu Sangkar) dengan kekuatan 6.3 SR yang telah menelan korban jiwa sebanyak 67 orang dan 826 orang korban luka serta 43.719 kerusakan bangunan di Bukittinggi, Padang Panjang, Payakumbuh dan Solok.

Editor:Calva
Kategori:Opini

wwwwww