Home >  Berita >  Umum

Pernah Terkam 2 Orang dan Dapat Perawatan, Bonita 'Harimau yang Ditakuti Warga Inhil' Kembali Dilepasliarkan

Pernah Terkam 2 Orang dan Dapat Perawatan, Bonita Harimau yang Ditakuti Warga Inhil Kembali Dilepasliarkan
Harimau Bonita saat dilepasliarkan
Senin, 29 Juli 2019 20:31 WIB
Penulis: Eko Pangestu
DHARMASRAYA - Masih ingat dengan Bonita? Harimau Sumatera yang sempat menerkam dua orang warga Indragiri Hilir, Riau dan berhasil ditangkap hidup-hidup pada Januari 2018 lalu, akhirnya tuntas menyelesaikan perawatan di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Darmasraya, Sumatera Barat. Kondisinya sudah baik dan akan dilakukan pelepasliaran ke habitat aslinya di Pelangiran Indragiri Hilir, Riau. Selain Bonita, juga ikut dilepasliarkan Atan Bintang yang juga dari Indragiri Hilir.

Pelepasliaran ini merupakan keberhasilan ketiga kalinya yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama dengan Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Darmasraya - Yayasan ARSARI Djojohadikusumo (PR-HSD Yayasan ARSARI) dan Pemkab Dharmasraya. Prosesi pelepasliaran 2 ekor harimau Sumatera otu dilakukan di Pusat Rehabilitas Harimau Sumatera Dharmasraya, Kecamatan Asam Jujuhan Dharmasraya, Sumatera Barat, Senin (29/7/2019).

Dijelaskan, setelah melalui serangkaian proses penyelamatan, 2 ekor harimau Sumatera bernama Bonita dan Atan Bintang akan dikembalikan ke habitat alaminya di Riau. Bonita, merupakan harimau Sumatera betina yang diselamatkan dari areal kebun sawit PT TH Indo Plantations di Desa Tanjung Simpang Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir pada 3 Januari 2018 lalu. Sedangkan Atan Bintang yang berjenis kelamin jantan diselamatkan dari pemukiman warga pada 18 November 2018 di Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama dengan Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Darmasraya-Yayasan ARSARI Djojohadikusumo (PR-HSD Yayasan ARSARI), dan para pihak sebelumnya telah melakukan serangkaian proses rehabilitasi terhadap Bonita dan Atan Bintang hingga siap dilepasliarkan ke habitat aslinya.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KSDAE KLHK), Wiratno, mengatakan pelestarian satwa dapat berhasil, apabila semua pihak bekerja bersama. Menurutnya, data dari PVA, harimau sumatera menunjukan populasi harimau sumatera di habitat alaminya tersisa 603 individu yang tersebar di 23 kantong habitat.

"Selain itu data dari Ditjen KSDAE menunjukkan lebih dari 50 persen populasi satwa dilindungi berada di luar kawasan konservasi baik di hutan produksi maupun hutan lindung. Kita harapkan mulai saat ini, satwa liar dilindungi termasuk harimau sumatera yang berada di luar kawasan konservasi dapat terlindungi seperti halnya satwa liar lainnya di dalam kawasan konservasi. Semangat bekerja bersama menjadi kunci untuk sinergi selanjutnya," ujar Wiratno saat menghadiri pelepasan Bonita dan Atan di PR-HSD.

https://www.gosumbar.com/assets/imgbank/29072019/gosumbarcom_cfvfb_282.jpg

Sementara itu, Penggagas dan pendiri PR-HSD, Hashim Djojohadikusumo, menyatakan jika PR-HSD telah berkomitmen untuk terus membantu pemerintah melestarikan dan menambah jumlah populasi Harimau Sumatera.

Hashim menambahkan, sejak diresmikan oleh Menteri LHK oleh Siti Nurbaya pada 29 Juli 2017 lalu, PR-HSD telah melakukan rehabilitasi terhadap 6 individu harimau dimana 4 individu berhasil dilepasliarkan ke habitat alaminya. Dan 29 Juli juga diperingati sebagai Global Tiger Day di berbagai negara di dunia.

''Saat ini kami masih merawat satu harimau Sumatera yang baru saja diselamatkan dari Padang Lawas, Sumatera Utara yang diberi nama Palas. Harimau Sumatera merupakan simbol kelestarian ekosistem dan keberadaannya hanya dimungkinkan jika hutan dan lingkungan sebagai habitat masih terjaga," kata Hashim.

Sementara Kepala Balai KSDA Sumatera Barat, Erly Sukrismanto, mengatakan bahwa upaya konservasi memerlukan peran banyak pihak. Untuk itu, BKSDA Sumatera Barat terus bekerjasama dengan UPT KLHK lainnya dan mitra dalam menyelamatkan satwa liar dilindungi khususnya harimau Sumatera.

"Pelepasliaran harimau Sumatera kali ini merupakan yang ketiga kalinya KSDA Sumatera Barat bekerjasama dengan PR-HSD berhasil melepasliarkan 4 harimau hasil rehabilitasi, dan kali ini sangat unik karena akan dilepasliarkan sekaligus sepasang jantan dan betina." ucap Erly.

https://www.gosumbar.com/assets/imgbank/29072019/gosumbarcom_eg6tn_283.jpg

Nantinya sambung Erly, pelepasliaran ini dilengkapi dengan pemasangan GPS Collar yang merupakan sumbangan dari Yayasan ARSARI Djojohadikusumo yang berfungsi untuk memantau Bonita dan Atan Bintang. Dari data GPS Collar tersebut, pihaknya akan mengetahui pergerakan satwa tersebut untuk melihat home range serta adaptasi harimau di habitat barunya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono, menambahkan jika Tim BBKSDA Riau dan mitra telah melakukan kajian untuk calon lokasi pelepasliaran harimau Sumatera tersebut. "Kami mempertimbangkan lokasi pelepasliaran yang jauh dari pemukiman dan masyarakat, ketersediaan mangsa yang cukup, serta tingkat ancaman yang rendah," imbuh Suharyono.

Sementara itu Wakil Bupati Dharmasraya, H. Amrizal Dt. Rajo Medan yang di dampingi Asisten II, Martoni dan Kadis DLH, drg. Erina menjelaskan bahwa dengan adanya pelepasliaran seasang harimau kali ini diharapkan mampu menambah jumlah harimau Sumatera. "Kita sangat berterimakasih kepada Kementrian LHK, Pemerintah Provinsi Sumbar, dan para pihak yang telah berjuang untuk melestarikan satwa liar dari kepunahan," ujar wabub saat ditemui awak media di Pusat Rehabilitas Harimau Sumatera Dharmasraya.

Wabup menambahkan, terkhusus pihaknya mengucapkan terima kasih kepada pak Hasyim Djojohadikusumo atas dedikasi beliau untuk memperjuangkan pelestarian harimau sumatera melalui Yayasan ARSARI Djojohadikusumo (PR-HSD Yayasan ARSARI), dan juga para pihak, tim dokter yang telah melakukan serangkaian proses rehabilitasi terhadap Bonita dan Atan hingga siap dilepasliarkan ke habitat aslinya. (ep)


Loading...
www www