Home  /  Berita  /  Opini

Peci Sebagai Identitas Santri / Pakiah Pondok Pesantren di Padang Pariaman yang Tetap Lestari Hingga Kini

Peci Sebagai Identitas Santri / Pakiah Pondok Pesantren di Padang Pariaman yang Tetap Lestari Hingga Kini
Abdul Jamil Al Rasyid
Senin, 01 Maret 2021 00:46 WIB
Penulis: Abdul Jamil Al Rasyid
PECI adalah alat yang digunakan untuk menutup kepala ketika salat. Sebenarnya, peci merupakan sunah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya. Sebab, peci menjadi alat yang membantu untuk menyempurnakan salat agar dahi saat bersujud tidak terhalang rambut. Bisa dikatakan peci merupakan anjuran dalam ajaran Islam.

Sejarah Peci

Peci diperkenalkan oleh para pedagang Arab yang masuk ke wilayah Asia Tenggara. Lebih khusus mereka yang masuk ke Tanah Melayu, seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Ketika beraktivitas, para pedagang Arab menggunakan penutup kepala yang terbuat dari kain atau sorban yang dikenal dengan nama turban. Namun, turban baru digunakan oleh para ulama atau tokoh agama Islam. Seiring berjalannya waktu, ajaran Islam yang disebarkan oleh para pedagang mulai diterima oleh masyarakat.

Peci sudah terkenal di Indonesia sejak abad 15. Peci terkenal di Giri, salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa. Kala itu, raja Ternate Zainal Abidin sempat belajar agama di madrasah Giri. Sekembalinya ke kampung halaman, dia membawa peci sebagai buah tangan. Saking berharganya peci, penutup kepala tersebut bisa ditukar dengan rempah-rempah atau cengkih.

Soekarno dan Peci

Sukarno menyebut peci asli milik rakyat kita mirip dengan yang dipakai para buruh bangsa Melayu. Belum ada data penggunaan peci di kalangan buruh. Di Indonesia orang menyebutnya peci. Orang Melayu di Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan selatan Thailand, dan sebagian Indonesia menyebutnya songkok

Surabaya, Juni 1921, tatkala Sukarno mengikuti rapat Jong Java, diyakini sebagai titik balik peci sebagai identitas bangsa. Kala itu Sukarno melihat rekan-rekannya yang berdebat dengan berbagai lagak tanpa penutup kepala. Mereka ingin tampil layaknya orang Barat. Tidak sedikit kaum intelegensia yang membenci pakaian daerah, seperti blangkon dan sarung. Pakaian tersebut seolah menandakan kaum kelas bawah.

Tampil memecah perdebatan, Sukarno muda berhasil merebut perhatian rekan-rekannya. "...Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka,” tegas Sukarno.

Itulah kali pertama Sukarno mengenakan peci di hadapan publik. Keesokan harinya, bapak proklamator bangsa itu dikenal sebagai tokoh yang memadukan antara peci dengan jas.

Sebagai tokoh nasionalis, Sukarno berhasil menyebarkan citra peci sebagai identitas bangsa. Kini peci dipakai pada acara resmi kenegaraan. Peci bukan lagi penanda bahwa penggunanya adalah seorang Muslim. Lebih dari itu, kini peci telah menjadi busana formal.

Peci sebagai identitas santri di pondok pesantren kuno di Padang Pariaman

Peci sebagai alat untuk salat, tentu peci juga digunakan para santri ketika salat. Akan tetapi santri/pakiah ini juga memakai peci ketika bepergian keluar dari Pondok Pesantren, hal ini tentu menjadi identitas tersendiri bagi seorang santri yang memakai peci karena mempunyai alasan yaitu para santri di Padang Pariaman ini dikenal oleh masyarakat sebagai "urang siak", karena diberi gelar ini maka santri identik dengan Islami maka diberi cirikhas tersendiri kita berada diluar lingkungan pesantren.

Peci bagi santri di Padang Pariaman sering disebut sebagai "kupiah" karena pengaruh bahasa Indonesia kopiah maka dengan bahasa Minang disebut kupiah. Kupiah yang dipakai santri ini terdiri dari berbagai macam misalnya peci nasional, kupiah kain dan kupiah haji.

- Peci nasional memiliki bentuk yang bulat dan sering dipakai sebagai acara-acara misalnya Presiden, Gubernur dan lainnya sering memakai peci nasional. Peci nasional ini juga sering dipakai oleh santri/pakiah ini, biasanya dipakai oleh orang yang sudah hampir menjadi tuanku. Tuanku sendiri apbilq dia memakai peci kain maka dianggap kurang etis bagi masyarakat.

- Kupiah kain terbuat dari kain, bisa dilipat dan digunakan oleh para santri, warnanya tentu beragam sesuai kehendak. Kupiah kain ini sering dipakai oleh santri yang baru mengaji atau santi yang baru masuk ke lingkungan pondok pesantren.

- kupiah haji yaitu peci yang biasa dipakai oleh orang yang balik dari melaksanakan ibadah haji, kupiah ini hampir sama dengan kupiah kain tetapi memiliki warna putih.

Ketiga peci tersebut yang sering dipakai oleh Santri di Padang Pariaman. Karena Padang Pariaman terdiri atas banyaknya lembaga pendidikan berdasarkan pesantren kuno, maka tentu masyarakat ingin memiliki sebuah identitas tersendiri bagi Pakiah misalnya dengan memakai peci. Pakiah ini setiap keluar dari Pondok Pesantren maka diwajibkan memakai peci. Alasan yang paling utama yaitu Pakiah adalah tentu membedakan antara pemuda dan santri/Pakiah. Hal ini tentu sudah diketahui umum oleh masyarakat di Padang Pariaman. Biasanya Santri/Pakiah ini lebih dihormati dan disegani dalam masyarakat karena masyarakat tahu bahwa Santri/Pakiah ini yang akan melanjutkan tonggak kepmimpinan ulama.

Peci sendiri seperti yang sudah ditetapkan sebagai sebuah pakaian nasional tetapi memakainya tentu tidak diwajibkan, maka santri/Pakiah yang biasanya memakai peci ini. Sebuah pakaian merupakan simbol serta identitas kebudayaan maka hal ini harus dilestarikan karena sudah menjadi budaya pakaian tersendiri bagi masyarakat khususnya di Kabupaten Padang Pariaman. Jangan sampai kita merusak atau bahkan menghilangkan budaya dalam masyarakat terlebih lagi menghina, mengejek orang yang memakai peci karena itu merupakan sebuah identitas budaya berpakaian yang ada di Minangkabau khsusnya di Padang Pariaman. ***

* Abdul Jamil Al Rasyid adalah mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand angkatan 2019, berdomisili di Padang Pariaman, Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas Patamuan Tandikek.

Kategori:Opini
wwwwww