Home  /  Berita  /  Peristiwa

Lewati Tanah Pusaka dan Produktif, Tol Padang - Pekanbaru Ruas Sicincin Akhirnya Refocusing ke Tol Lainnya

Lewati Tanah Pusaka dan Produktif, Tol Padang - Pekanbaru Ruas Sicincin Akhirnya Refocusing ke Tol Lainnya
Foto udara pembangunan ruas jalan tol Padang - Pekanbaru di Nagari Kasang, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat, Jumat 26 Februari 2021.
Sabtu, 06 Maret 2021 18:12 WIB
JAKARTA - Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) pada tol Padang - Pekanbaru ruas Sicincin akhirnya refocusing ke proyek tol lainnya karena terkendala lahan. Refocusing sudah mempertimbangkan masyarakat setempat yang menyatakan bahwa tanah di sekitar pembangunan merupakan tanah pusaka dan produktif.

PT Hutama Karya (Persero) mengakui jika pembangunan Jalan Tol Padang-Pekanbaru ruas Padang-Sicincin, kerap dihadapkan oleh kendala di lapangan, seperti pembebasan lahan. Sebelumnya,perusahaan diterpa isu yang menyatakan proyek pembangunan jalan bebas hambatan di ruas tersebut disetop.

''Pembebasan lahan di wilayah Sumatra Barat memang masih menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan hingga saat ini,'' ujar Direktur Operasi III Hutama Karya Koentjoro dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 6 Maret 2021.

Karena itu, bila perkembangan proyek tidak terlampau signifikan, kondisi ini bukan lantaran pembangunan jalan yang lamban. Koentjoro mengatakan situasi itu disebabkan oleh perusahaan yang hanya bisa menggarap konstruksi tol sesuai dengan lahan yang telah dibebaskan.

Jika tersedia kelebihan sumber daya, perusahaan akan melakukan refocusing ke ruas proyek jalan tol lain lahannya lebih siap. Koentjoro mengimbuhkan, dalam mengerjakan proyek pembangunan, perusahaan mengikuti arahan dan kebijakan regulator, yakni Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Tol Padang-Sicincin dengan ruas sepanjang 36 kilometer merupakan bagian dari koridor pendukung (feeder) yang berada di koridor Pekanbaru hingga Padang sepanjang 254 kilometer. Koenjtoro menjelaskan berbagai skema alternatif telah dilakukan agar proyek dapat terus berjalan.

Skema itu meliputi penetapan lokasi (penlok) baru, penetapan relokasi trase, hingga peningkatan koordinasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam pembangunan. Perseroan, tutur Koentjoro, mempertimbangkan masyarakat setempat yang menyatakan bahwa tanah di sekitar pembangunan merupakan tanah pusaka dan produktif.

Hutama Karya telah membangun Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sepanjang 1.064 kilometer dengan 551 ruas tol konstruksi dan 513 ruas tol operasi.

Ruas yang telah beroperasi secara penuh ialah Tol Bakauheni – Terbanggi Besar (141 kilometer), Tol Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung (189 kilometer), Tol Palembang – Indralaya (22 kilometer), Tol Medan – Binjai seksi 2 & 3 (15 kilometer), Tol Pekanbaru – Dumai (131 kilometer) dan Tol Sigli – Banda Aceh seksi 4 Indrapuri – Blang Bintang (14 kilometer).

Koentjoro menegaskan sampai saat ini, perusahaan tidak pernah mengeluarkan pernyataan di luar keterangan tertuls didistribusikan oleh tim komunikasi perusahaan.

“Sehingga, jika terdapat informasi simpang siur yang beredar, perusahaan tidak bertanggung jawab atas hal tersebut,” katanya.

Director PT Hutama Karya Infrastruktur Ruas Tol Padang-Sicincin Marthen Robert Singal beberapa waktu lalu mengumumkan adanya penghentian proyek Jalan Tol Padang-Pekanbaru. “Jakarta sudah sampai pada keputusan menghentikan proyek Tol Padang disebabkan karena tidak jelasnya kapan pembebasan lahan diselesaikan,” katanya, 4 Maret.

Menanggapi kabar tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat membantah. Kementerian memastikan proyek pembangunan jalan bebas hambatan tidak dibatalkan.

Pejabat Pembuat Komitmen Pengadaan Tanah Jalan Jalan Tol Seksi I Siska Martha Sari menyatakan proyek tetap berlangsung dan pembayaran uang ganti rugi serta pengadaan tanah di Jalan Tol Padang-Pekanbaru Hutama Karya sudah dilakukan untuk beberapa ruas. “Bahkan masyarakat sudah sepakat untuk penggantian lahan yang terkena pembangunan jalan tol, yang dulu sempat terkendala dalam hal penggantian lahan,” katanya. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:tempo.co
Kategori:Peristiwa
wwwwww