Home  /  Berita  /  Kesehatan

Wabah Covid-19 Masih Mengancam, Gus Jazil: Tetap Konsisten Menerapkan Protokol Kesehatan

Wabah Covid-19 Masih Mengancam, Gus Jazil: Tetap Konsisten Menerapkan Protokol Kesehatan
Rabu, 26 Agustus 2020 14:33 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Sejak kali pertama Covid-19 terdeteksi pada seseorang di Indonesia pada awal Maret 2020, hingga 23 Agustus 2020, tercatat sebanyak 153.535 orang dinyatakan positif Covid-19. Pasien sembuh tercatat mencapai 107.500 orang dan pasien yang meninggal sebanyak 6.680 orang.

Covid-19 sejak awal tahun 2020 telah melanda dunia. Ada 10 negara tercatat memiliki tingkat penularan dan kematian yang tinggi. Kesepuluh negara itu adalah, Amerika Serikat. Brazil, India, Rusia, Afrika Selatan, Peru, Meksiko, Kolombia, Spanyol, dan Cile. Amerika Serikat sebagai negara yang paling banyak terdampak, terungkap ada 5.838.632 kasus, 180.140 orang meninggal, dan sembuh 3.144.164 orang.

Menyikapi masih tingginya angka penularan dan kematian akibat pandemi Covid-19, Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid merasa prihatin dan berharap agar wabah ini segera teratasi dengan tuntas. "Mari kita berdoa dan berupaya dengan sekuat tenaga agar pandemi Covid-19 bisa terkendali," ujarnya, Rabu (26/8/2020) di Jakarta.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu melihat ada harapan di sana ketika banyak negara bersama dengan perusahaan obat dan vaksin tengah melakukan uji klinis tahap ketiga. Ia berharap agar uji klinis tahap ketiga bisa menghasilkan vaksin yang diharapkan oleh seluruh ummat manusia.

"Berharap agar kerja keras para peneliti bisa membuahkan hasil yang menggembirakan. Kita juga ucapkan terima kasih kepada relawan yang telah bersedia mendukung uji coba vaksin," ujarnya.

Sukarelawan kata Dia, juga merupakan bagian penting dari perjalanan menemukan vaksin yang kita inginkan. "Apa yang dilakukan sukarelawan juga sangat mulia," tukasnya.

Sambil menunggu vaksin sesuai dengan standar WHO dan prosedur-prosedur ilmiah yang wajib dilalui, pria asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, itu tetap menekankan pentingnya masyarakat menerapkan dan menjalankan protokol kesehatan yang ketat. "Protokol kesehatan merupakan aturan untuk semua dan demi semua," tegasnya.

Bila memasuki kantor, gedung pertemuan, mall, stasiun, terminal bus, serta fasilitas umum lainnya, dan di tempat itu ada kewajiban untuk menerapkan protokol kesehatan, pria yang akrab disapa Gus Jazil ini menegaskan agar masyarakat mau mengikuti prosedur yang ada. "Jangan menolak bila suhu tubuh kita diukur," paparnya.

Bila masyarakat keluar rumah menuju ke tempat-tempat umum di mana di sana banyak orang berlalulalang dan berkerumun, Gus Jazil menegaskan lagi agar masyarakat menggunakan masker. "Wajib menggunakan masker di masa-masa seperti saat ini," ucapnya.

Ampuhnya masker terbukti seperti yang terjadi di Korea Selatan. Di mana di salah satu kedai kopi di Paju, 56 pengunjung menjadi klaster. Sedang pegawai kedai tetap sehat sebab mereka menggunakan masker. "Untuk itu jangan remehkan masker. Gunakan masker yang benar sehingga efektifitas mencegah penularan menjadi maksimal," tambahnya.

Gus Jazil menyayangkan bila masyarakat menggunakan masker hanya sebatas menggugurkan syarat bila berada di luar tanpa menggunakan sesuai dengan protokol kesehatan. Ancaman Covid-19 diakui oleh Gus Jazil itu tidak hanya memukul sektor kesehatan. Sektor ekonomi pun juga terdampak sama parahnya. Akibat pandemi Covid-19 banyak negara mengalami resesi. "Pertumbuhan ekonomi kita anjlok menjadi minus 5,32 persen," ungkapnya.

Hal demikian bila tidak segera ditangani akan menyebabkan bertambahnya angka kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan ekonomi. Agar geliat ekonomi bisa tumbuh kembali, Koordinator Nasional Nusantara Mengaji itu mengajak kepada semua untuk bahu membahu, gotong royong, dan bersatu untuk bersama melakukan tindakan konkret.

Di tengah masyarakat banyak sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ditekuni oleh masyarakat. Gus Jazil mengajak kepada masyarakat untuk membeli produk mereka. Dikatakan, produk UMKM sebenarnya tidak kalah bahkan lebih dari produk yang lain, produk dari luar. "Yang kita beli rasa, khasiat, dan kegunaan. Bukan membeli gengsi. Orang membeli produk-produk dari luar bisa jadi mereka melakukan hal yang demikian karena gengsinya saja," tukasnya lagi.

Ia mencontohkan di daerah Jawa Timur, banyak masyarakat yang membuat tikar, tas, dompet, peci, dan aksesoris lainnya dari daun pandan. Produk yang dikelola secara kekeluargaan, itu selain produknya kuat dan bertahan lama juga mempunyai nilai yang tinggi. "Sebab dibuat langsung dari tangan. Tidak diproduksi massal dengan mesin," ceritanya.

Menurut Gus Jazil, usaha-usaha seperti inilah yang perlu didorong. "Cara mendorong produk berskala UMKM itu adalah dengan cara membeli. Kita membeli produk mereka bukan karena rasa kasihan namun memang produknya bagus, berkualitas, tahan lama, juga memiliki nilai yang tinggi," tuturnya.

Produk pelaku UMKM sebenarnya kata Dia, bukan kalah bersaing namun mereka kurang dipromosikan. Karena keterbatasan promosi dan distribusi, membuat UMKM yang dilakukan secara kekeluargaan atau melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDES), terselip di tengah produk bikinan pabrik yang dicetak massal. "Dengan membeli produk UMKM selain membantu rakyat kecil juga menggeliatkan perekonomian di desa yang banyak digerakan oleh UMKM," pungkasnya.***

wwwwww