Beda Sikap Politik Sandiaga dengan Prabowo Jelang Pelantikan Jokowi

Beda Sikap Politik Sandiaga dengan Prabowo Jelang Pelantikan Jokowi
Minggu, 20 Oktober 2019 09:22 WIB
JAKARTA - Hubungan Sandiaga Uno dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sangat dekat. Keduanya sempat menjadi pasangan capres cawapres pada Pilpres 2019. Jauh sebelum itu, Sandi merupakan wakil ketua Dewan Pembina di partai pimpinan Prabowo.

Sandi begitu menghormati Prabowo. Dia menganggap Prabowo sebagai mentor utama di dunia politik. Meski begitu pandangan keduanya terhadap politik tak selalu sama. Dua tokoh ini berbeda prinsip menjelang pemerintahan Jokowi periode kedua. Berikut ulasannya:

Sinyal Prabowo Gabung dengan Pemerintahan Jokowi

Prabowo Subianto merupakan lawan Jokowi di Pilpres 2019 lalu. Hubungan keduanya sempat renggang dengan terpilihnya Jokowi sebagai presiden.

Namun seiring waktu berjalan, hubungan itu nampak harmonis kembali. Prabowo dan Jokowi memutuskan untuk 'berdamai' demi keutuhan bangsa.

Bahkan baru-baru ini, keduanya duduk bersama membahas kemungkinan berada dalam satu koalisi di pemerintahan. Sinyal bergabungnya Prabowo diperkuat dengan dipersiapkannya calon menteri dari Partai Gerindra. Tiga nama yang paling santer disebut ialah Sandiaga Uno, Fadli Zon dan Edhy Prabowo.

Namun dari tiga nama itu, baru Edhy yang mengakui bahwa Prabowo menunjuknya sebagai calon menteri.

"Bahwa siapa, ada nama saya disebut, saya juga mengucapkan Alhamdulillah, bersyukur, karena saya termasuk yang ditunjuk. Tapi sekali lagi teman-teman saya tidak mau GR karena saya juga tahu, kemampuan saya juga mungkin belum luar biasa, saya tidak merasa saya hebat," katanya di Jalan Kertanegara IV, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (17/10) malam.

Sandi Tetap Oposisi

Menjelang pergantian Kabinet Kerja Jilid II, nama Sandiaga Uno digadang-gadang masuk dalam bursa calon menteri yang diajukan Prabowo Subianto kepada Jokowi. Kabarnya jatah kursi menteri untuk Gerindra telah disiapkan Jokowi.

Sehingga Prabowo pun langsung menyiapkan kader terbaiknya. Salah satunya Sandiaga Uno. Meski begitu, Sandi menolak. Dia tetap ingin berada di luar pemerintahan.

"Bang Sandi menolak terkait dengan itu, beliau tetap berada di luar pemerintahan," kata Jubir Ketum Gerindra Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Rabu (16/10).

Sandi Berpandangan Partai Kalah Pemilu Lebih Baik Oposisi

Sandiaga Uno menilai check and balance dalam suatu pemerintahan tetap diperlukan. Mereka yang berada di luar pemerintah diharapkan memberikan masukan konstruktif untuk pemerintahan Presiden Joko Widodo lima tahun ke depan.

Sandiaga menceritakan, selepas Pilpres 2019 kemarin, dia pribadi berpandangan sebaiknya partai koalisi yang kalah pada Pilpres 2019 tidak pindah kubu. Gerindra sendiri siap jika pemerintah mengajak bergabung. Tetapi, Gerindra juga siap menjadi partai oposisi.

"Kita kasih masukan yang konstruktif dan bersahabat sehingga lima tahun ke depan ini masyarakat bisa fokus, enggak gaduh politiknya. Enggak pecah belah. Tetapi agenda yang konstruktif, pemerintah butuh masukan," ujar Sandi di kediamannya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (17/10).

"Gerindra sangat siap menjadi bagian check and balance tersebut," sambungnya.

Tolak Tawaran Prabowo Balik ke Kursi Wagub DKI

Sejak ditinggalkan Sandiaga Uno pada Pilpres 2019 lalu, kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta masih kosong. Sandiaga mengaku sejak proses gugatan Pilpres di Mahkamah Konstitusi selesai, Ketum Gerindra Prabowo Subianto menawarinya kembali mengisi kursi wakil gubernur DKI Jakarta. Namun Sandiaga menolak tawaran tersebut.

"Kalau Wagub sudah ditawarkan dari awal pilpres selesai, Pak Prabowo beberapa kali bicara dan saya tegas menyikapi bahwa komitmen saya, saya meninggalkan ini, meninggalkan posisi wagub bukan coba-coba," ujar Sandiaga di kediamannya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (17/10).***

Editor : Muslikhin Effendy
Sumber : Merdeka.com
Kategori : GoNews Group, Peristiwa, Pemerintahan, Politik

Loading...
www www