Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Setalah Jokowi Kunjungi Mal dan Stasiun, DPR Tanya: Kapan Bapak Kunjungi Masjid?
Politik
3 jam yang lalu
Setalah Jokowi Kunjungi Mal dan Stasiun, DPR Tanya: Kapan Bapak Kunjungi Masjid?
2
Alhamdulilah, dari 25 Orang Pasien Positif Covid -19 di Padang Panjang, 21 Orang Dinyatakan Sembuh
Lingkungan
22 jam yang lalu
Alhamdulilah, dari 25 Orang Pasien Positif Covid -19 di Padang Panjang, 21 Orang Dinyatakan Sembuh
3
Segera Berlakukan New Normal, MPR Minta Empat Provinsi Ini Bersiap Diri
Politik
4 jam yang lalu
Segera Berlakukan New Normal, MPR Minta Empat Provinsi Ini Bersiap Diri
4
Satgas Covid-19 DPR RI Sentil Kemendikbud soal Persiapan 'New Normal'
Pendidikan
7 jam yang lalu
Satgas Covid-19 DPR RI Sentil Kemendikbud soal Persiapan New Normal
5
TKA China Ngambek, Rusak Fasilitas Bandara Banyuwangi
GoNews Group
6 jam yang lalu
TKA China Ngambek, Rusak Fasilitas Bandara Banyuwangi
6
Mahfud MD Sebut Korban Jiwa Kecelakaan 9 Kali Lebih Banyak dari Corona
Politik
6 jam yang lalu
Mahfud MD Sebut Korban Jiwa Kecelakaan 9 Kali Lebih Banyak dari Corona
Loading...
Home  /   Berita  /   GoNews Group
Siaran Pers

Dana Event Formula E Membengkak, PSI Pertanyakan Kilatnya Pembahasan Anggaran di DPRD

Dana Event Formula E Membengkak, PSI Pertanyakan Kilatnya Pembahasan Anggaran di DPRD
Anggota DPRD DKI Jakarta terpilih dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Idris Ahmad. (Dok. PSI)
Selasa, 13 Agustus 2019 16:57 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menaruh curiga pada kilatnya pembahasan terkait anggaran yang dilakukan DPRD DKI Jakarta di sisa akhir masa jabatan yang kurang dari dua minggu.

"Terdapat beberapa angka yang naik signifikan, terutama pada kategori Kegiatan Partisipasi Event Olahraga Internasional di Dalam Negeri," kata anggota DPRD DKI Jakarta terpilih dari PSI, Idris Ahmad dalam gelaran diskusi Publik di kantor DPP PSI, Jakarta, Selasa (13/08/2019).

Idris mengisahkan, pasca dirinya turut menghadiri sidang penyampaian KUPA-PPAS kemarin (Senin 12 Aguatus 2019), dirinya terkejut ketika ada angka sebesar 346 M dalam kategori kegiatan tersebut, dari angka sebelumnya 3,7 M atau naik sebesar 349 M.

"Apa yang menjadi justifikasi anggaran sebesar itu?” ujar Idris.

Anggaran yang disebut-sebut akan digunakan untuk memenuhi keperluan peyelenggaraan acara Formula E tersebut, dinilai Idris terasa janggal dan tidak subtantif untuk kepentingan rakyat. Ia berpendapat, "anggaran untuk penyelesaian polusi udara di Jakarta itu jauh lebih penting dibandingkan biaya untuk kegiatan yang kurang penting bagi masyarakat,".

Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus yang turut menjadi pembicara juga menyebut, di sisa waktu yang sempit ini sangat mungkin terjadinya penyelewengan anggaran. Anggaran bisa saja dibuat ‘di ruang gelap’ dari jauh-jauh hari oleh para oknum yang mengerti cara mencari celah untuk melakukan korupsi.

“Proses ini sangat rawan sekali. Setidaknya, ada enam dari tujuh kasus korupsi lahir dari proses pembuatan anggaran. Proses inilah yang menjadi pangkal dari persoalan korupsi di Indonesia, “ ujar Lucius.

Selain proses perancangan anggaran yang rawan korupsi, Sekjen Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Seknas Fitra), Akhmad Misbakhul Hasan mengungkapkan, seringkali anggota legislatif tidak menjabarkan detail konsep kegiatan secara jelas. Sehingga rancangan kegiatan dan anggaran yang dihasilkan sering tidak optimal.

“Legislatif kita hanya bisa menganggarkan suatu kegiatan tanpa memberikan konsep yang jelas. Ini merupakan akibat dari tidak terbukanya proses perencanaan kegiatan hingga penganggaran sehingga luput dari pantauan publik termasuk media,“ ujar Akhmad.

Akhmad menyebutkan, inisiasi PSI Jakarta dalam memantau pembuatan anggaran ini sudah sangat bagus. Ia juga mendorong untuk terus mendalami apa yang terjadi di DPRD DKI Jakarta hingga proses pengesahan nanti.

“Kita semua, termasuk PSI Jakarta bisa berpedoman pada Undang-Undang No.14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Kita punya hak untuk mendapatkan transparansi informasi ke mana semua uang kita dialokasikan dalam anggaran,” ujar Akhmad.

Sejalan dengan hal tersebut, Idris menjelaskan bahwa PSI Jakarta sebelumnya telah bersurat kepada pihak terkait untuk meminta draft KUPA-PPAS Perubahan 2019 dan KUA-PPAS 2020. Namun hingga hari ini surat tersebut belum mendapatkan balasan.

Idris juga menyayangkan dokumen-dokumen tersebut seharusnya mudah diakses oleh masyarakat. Mengingat waktu pembahasan yang sempit dan dilakukan secara paralel, proses ini patut diawasi bersama-sama oleh publik.***


Loading...
www www