Loading...    
           

Kemesraan Demokrat dan Jokowi Berbuah Serangan Sengit, SBY Ngaku Dibully

Kemesraan Demokrat dan Jokowi Berbuah Serangan Sengit, SBY Ngaku Dibully
Jum'at, 31 Mei 2019 19:03 WIB
JAKARTA - Pasca Pilpres 2019, Partai Demokrat terlihat semakin intens menjalin komunikasi dengan Presiden Jokowi. Beberapa kali, Komandan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bertemu dengan Presiden Jokowi.

Tercatat AHY bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta pada 2 Mei 2019 lalu. AHY mengaku sempat membahas soal politik dengan Jokowi. Dalam pertemuan itu keduanya sepakat untuk menghormati proses penghitungan Pemilu 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Kemudian pada 22 Mei 2019, AHY kembali bertemu dengan Jokowi di Istana Bogor, Jawa Barat. Dalam pertemuan, Jokowi meminta AHY jadi jembatan komunikasi dirinya dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY).

"Bapak Presiden Jokowi meminta saya jadi jembatan komunikasi dengan SBY," kata AHY saat memberikan keterangan pers di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (22/5).

Pertemuan AHY dengan Presiden Jokowi memicu sejumlah spekulasi. Paling kencang adalah soal kabar akan merapatnya Demokrat dalam barisan Jokowi. Benarkah?

SBY Mengaku Dibully

Peristiwa pertemuan AHY dan Presiden Jokowi ternyata malah menimbulkan kritik tajam dari berbagai pihak, terutama di media sosial. Menurut SBY, AHY dan Partai Demokrat dibully habis-habisan. Namun Demokrat tetap kuat. Dan sudah tahu siapa yang terus menyerang mereka.

"Sebenarnya kita tahu dari kelompok mana serangan sengit itu berasal. Di situ perbedaan kita dengan pihak tertentu itu. Memang ada yang bersikap tabu dan dilarang keras pihak 02 berkomunikasi dengan 01," kata SBY.

Dia mempersilakan siapa saja yang tidak suka dengan pertemuan tersebut. Tapi dia menegaskan Demokrat tidak harus mengikuti.

"Barangkali pula dendam yang membara harus dipertahankan selamanya. Silakan kalau ada yang punya prinsip itu tapi jangan atur Demokrat harus mengikutinya. Kami prinsip ikhtiar perjuangan untuk menang harus dilakukan sekuat tenaga. Namun setelah selesai ya selesai," lanjut SBY.

Bukannya hanya dibully, SBY juga dituduh tidak mau terlibat dalam kampanye Pemilu 2019 karena menemani istrinya, Ani Yudhoyono yang tengah dirawat di Singapura. Tuduhan itu membuat SBY sedih.

"Saya sungguh bersedih. Dan Ibu Ani harus meneteskan air matanya, mendengarkan tuduhan itu," kata SBY.

SBY menyebut, tuduhan itu tidak berdasar. Presiden ke-6 RI itu mendoakan kepada pihak-pihak yang berprasangka buruk agar selalu diberi kesehatan. Sehingga tidak merasakan sakit seperti yang diderita Ibu Ani.

"Di bulan suci Ramadan ini, saya doakan agar yang bersangkutan dan keluarga yang disayanginya tidak mengalami penyakit kanker darah seperti yang diderita Ibu Ani. Agar tak perlu merasakan penderitaan dan perjuangan hidup yang dijalani ibu Ani, setiap hari, siang dan malam," tutur SBY.

SBY Diingatkan Jangan Baper

Reaksi SBY langsung mendapat tanggapan dari kubu Prabowo Subianto. Anggota Dewan Pengarah BPN Prabowo-Sandiaga, Fadli Zon menyarankan Ketua Umum Partai Demokrat SBY tidak terbawa perasaan alias baper karena dibully usai putra sulungnya, AHY beberapa kali melakukan pertemuan dengan capres petahana Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Menurut dia, respons seperti itu bagian dari risiko politikus.

"Jadi enggak usah baper lah kalau dibully itu. Pasti siapapun, saya tiap hari dibully santai saja. Tidak ada tuh saya baper-baperan," kata Fadli Zon.

Fadli menilai wajar jika setiap tindak tanduk politikus kerap dibully. Sehingga, dia menyarankan SBY untuk tidak menanggapi berlebihan.

"Yang tidak suka pasti membully yang suka pasti menerima, mungkin memuji, saya kira biasalah, hidup itu begitu. Nabi-nabi saja begitu, ada yang suka ada yg tidak suka," kata Fadli Zon.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Merdeka.com
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Pemerintahan, Politik

Loading...
wwwwww