Tenggelam Saat Menyeberang ke Bangladesh, 4 Bocah Muslim Rohingya Ditemukan Tewas

Tenggelam Saat Menyeberang ke Bangladesh, 4 Bocah Muslim Rohingya Ditemukan Tewas
Bocah Muslim Rohingya menyeberangi sungai untuk mengungsi ke Bangladesh. (liputan6.com)
Jum'at, 08 September 2017 18:14 WIB
RAKHINE - Delapan jasad warga Rohingya ditemukan di sungai Naf, sungai yang memisahkan Myanmar dengan Bangladesh. Dari delapan korban, empat merupakan anak-anak.

Mereka diduga tenggelam saat hendak menyeberang ke Bangladesh menggunakan perahu.

Petugas perbatasan Bangladesh yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan kepada jurnalis media asing, delapan jasad itu ditemukan di tepi Sungai Naf di wilayah Bangladesh pada Rabu lalu.

''Perahu yang mereka (para korban) tumpangi terbalik,'' kata petugas perbatasan Bangladesh, seperti yang dikutip dari CNN, Jumat (8/9/2017).

Pengakuan si petugas perbatasan diperkuat dengan bukti foto yang menunjukkan jasad anak-anak yang tergeletak di tepi Sungai Naf.

''Tidak ada orang yang mengambil jasad tersebut. Mengingat kondisi mereka yang sangat tertekan, mereka mungkin tidak mengenal anggota keluarga masing-masing.''

Menurut petugas perbatasan, sejak 25 Agustus, rekan-rekannya telah menemukan sekitar 60 hingga 65 jasad warga Rohingya di selatan.

''Kasus seperti itu telah terjadi sejak hari pertama,'' jelasnya merujuk fenomena arus pengungsi dari Rakhine ke Bangladesh yang muncul sejak pecahnya konflik bersenjata antara tentara Myanmar dengan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) pada 25 Agustus 2017.

''Di wilayah lain, mungkin ada sekitar 10 hingga 15 jasad,'' tambahnya.

Menurut data PBB, sekitar 164 ribu warga Rohingya melakukan eksodus massal dari Rakhine ke perbatasan Bangladesh sejak 25 Agustus 2017. Mereka memanfaatkan berbagai akses, seperti jalur darat, menyeberangi sungai, hingga melalui laut.

Petugas perbatasan lebih lanjut menjelaskan, sejumlah warga Rohingya diketahui membayar nelayan setempat sebesar US$ 250 per orang sebagai biaya untuk menyeberang ke Bangladesh via laut.

''Itu perjalanan yang sangat berbahaya. Pertama, kapal tersebut tidak didesain untuk berlayar di laut yang liar seperti itu. Kapal itu juga mengalami kapasitas berlebih, hingga dua kali lipat,'' jelasnya. ***

Editor:hasan b
Sumber:liputan6.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww