Myanmar Pasang Ranjau di Perbatasan Bangladesh untuk Cegah Kembalinya Muslim Rohingya

Myanmar Pasang Ranjau di Perbatasan Bangladesh untuk Cegah Kembalinya Muslim Rohingya
Muslim Rohingya mengungsi ke Bangladesh. (inilah.com)
Rabu, 06 September 2017 19:58 WIB
DHAKA - Militer Myanmar memasang ranjau di sepanjang perbatasan Myanmar dengan Bangladesh. Dua sumber pemerintah di Dhaka mengatakan ladang ranjau tersebut muncul dalam tiga hari terakhir, untuk mencegah kembalinya Muslim Rohingya yang mengungsi.

Saat ini sudah hampir 150.000 Muslim Rohingya telah meninggalkan Myanmar menuju Bangladesh dalam waktu kurang dari dua pekan.

Bangladesh akan secara formal mengajukan protes pada Rabu (6/9/2017) mengenai penempatan ranjau di dekat perbatasannya, menurut sumber yang secara langsung mengetahui situasi itu namun minta identitasnya tidak disebut karena kepekaan masalah itu.

Namun sumber militer Myanmar mengatakan ladang ranjau sudah ada di sepanjang perbatasan itu pada 1990-an untuk mencegah pelanggar batas dan militer sejak itu berusaha mencabutnya, namun tidak ada ranjau yang baru-baru ini ditanam, demikian menurut siaran kantor berita Reuters.

Kekerasan terbaru terhadap Muslim Rohingya terjadi sejak serangan militan Rohingya terhadap pos polisi Myanmar. Militer kemudian melancarkan serangan pembalasan yang memaksa penduduk Rohingya keluar menyelamatkan diri dari desa mereka.

Rohingya adalah etnis minoritas tanpa negara yang kebanyakan beragama Islam yang dipersekusi di Myanmar. Banyak yang telah meninggalkan wilayah Rakhine menjelaskan bahwa tentara Myanmar dan kelompok massa Budha menghancurkan desa-desa mereka dan menyerang serta membunuh warga sipil untuk memaksa mereka keluar.

Namun, pihak militer mengatakan mereka sekadar menumpas militan Rohingya yang menyerang warga sipil.

Memverifikasi situasi di lapangan secara independen sangatlah sulit karena akses dibatasi, namun sejak serangan di pos polisi itu banyak keluarga yang akhirnya mengungsi ke arah ke utara menuju Bangladesh.

PBB mengatakan bahwa gelombang pengungsi baru akan membutuhkan makanan dan tempat bernaung yang melonjak secara dramatis.

Dua kamp penampungan pengungsi yang dibangun PBB untuk mereka saat ini penuh, sehingga banyak orang tidur di luar atau membangun tempat bernaung di lapangan terbuka dan sepanjang jalan, kata seorang juru bicara.

Kebanyakan dari warga Rohingya berjalan 50 hingga 60 km selama enam hari untuk mencapai lokasi aman dan sangat membutuhkan makanan dan air, kata laporan PBB.***

Editor:hasan b
Sumber:inilah.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww