Pertahankan Metode Masak Seperti Ini, Martabak Piring Terjual Hingga 1000 Piring

Pertahankan Metode Masak Seperti Ini, Martabak Piring Terjual Hingga 1000 Piring
Karyawan martabak piring sedang membakar martabak
Rabu, 10 Januari 2018 09:35 WIB

Sebenarnya di Medan ada banyak martabak seperti ini. Tapi Martabak Piring Murni memiliki metode yang berbeda, yaitu setia mempertahankan konsep tradisionalnya. Perharinya ia mampu  menjual 500 hingga 800 piring. Saat musim liburan, martabak piring bisa terjual hingga 1000 piring.

Saat matahari mulai senja dan toko di sekitar Jalan Bogor mulai tutup, gerai Martabak Piring Murni mulai dibuka. Beratapkan tenda sederhana berwarna biru, yang dibatasi steling Martabak Murni memulai aktifitasnya. Di sisinya arang pun mulai di bakar, yang kemudian dimasukkan ke dalam tungku kecil berbahan besi,  disisinya terdapat tempat masak martabak berjumpah 8 tungku. Di atas tungku inilah martabak-martabak berukuran mini itu dipanggang dengan bara api dari arang. Aromanya pun menyebar ke berbagai penjuru, seolah ikut mengajak orang untuk singgah.

Eli (30) pemilik Martabak Piring Murni mengisahkan Martabak Piring dirintis oleh orang tuanya pak Bupon sejak 40 tahun silam. Kini karena orang tuanya sudah tua diteruskan oleh Eli. Tidak ada sesuatu yang berubah meski usaha ini sudah berpindah tangan.

“Masih tetap sama seperti saat ditangani bapak. Justru hal ini sengaja dipertahankan. Yang berbeda sekarang adalah kita sudah memiliki 4 cabang,”aku perempuan berhijab ini sambil tersenyum.

Pertahankan hidup dengan jualan martabak

Eli mengisahkan orang tuanya adalah perantauan dari Bukit Tinggi Sumatera Barat. Karena gak ada sesuatu yang bisa dikerjakannya, Bupon memutuskan berjualan martabak. “Karena di Bukit Tinggi martabak sejenis ini sangat banyak. Kebetulan papa tahu cara membuat martabak,”ungkapnya seperti dikisahkan orang tuanya.

Bupon pun memutuskan berjualan martabak seperti ilmu yang diperolehnya di kampung halamannya di Minang Kabau. Karena masa itu bahan bakar gas juga belum populer, Bupon memanggangnya dengan menggunakan arang. Bupon membuat ukuran martabak yang sederhana agar ia bisa menjual dengan harga yang lebih murah dan orang gampang menikmatinya. Tak disangka caranya yang simpel justru membuat orang suka. “Biasanya ukuran martabak itu besar-besar. Untuk satu martabak harus dimakan 2 orang baru habis,”jelas Eli.

Tapi martabak buatan Bupon ukurannya lebih mini. “Sekali makan orang bisa makan hingga 3 bahkan 5 potong,”akunya. Dengan ukurannya yang mini, yang melihatnya pun tidak bikin eneg dan tidak harus memotong-motongnya lagi.

Tidak menggunakan santan

Ada dua jenis martabak yang dimiliki martabak Piring Murni, yaitu martabak tebal dan martabak tipis. Martabak tebal wujudnya lebih gemuk dan empuk, meski tetap pendek dan mini. Sementara martabak tipis wujudnya tipis dengan rasa yang lebih krispy. “Yang tipis  ini lezatnya dinikmati hangat. Jika sudah dingin jadi tidak rapuh lagi,”ujar Eli. Sementara pilihan rasa terdiri dari rasa ciklat, kacang, coklat kacang, keju, coklat keju dan campur.

Untuk membuat martabak piring bahan yang digunakan adalah tepung Segitiga Biru, telur, mentega dan air. “Martabak kita tidak menggunakan santan. Adonanya dari air,”akunya. Dijelaskan Eli, santan tidak digunakan agar adonan tidak gampang basi dan rasa yang tidak mudah eneg. Jadi dinikmati dalam jumlah yang banyak pun  tidak gampang  puas. Untuk rasa lemak dan gurih, mengandalkan telur dan mentega.

Adonan dalam kondisi encer dimasukkan ke dalam piring kaleng yang dilengkapi tangkai kayu sebagai pegangannya. Adonan langsung dipanggang di bara api. Saat mulai matang, barulah diberi rasa di atasnya, seperti gulai pasir, meses, keju, coklat dan kacang. Martabak diangkat dan digulung lalu dimasukkan ke dalam kotak.

Harga yang dijual bervariasi. Untuk martabak tebal rasa keju perpotongnya dijual Rp8 Ribu, sementara martabak tipis perpotongnya Rp 4.500. Saat momen waktu libur, martabak piring ramai pembeli. Bahkan untuk mendapatkan satu potong martabak, pengunjung rela ngantri.

Eli mengisahkan pembelinya tidak hanya warga kota Medan. “Banyak tamu dari luar kota ke sini. Mereka memesannya sebagai oleh-oleh. Malah ada yang dibawa ke luar negeri,”ucapnya. Ia menjelaskan martabaknya juga tidak gampang basi. Bisa tahan seminggu jika disimpan di dalam lemari pendingin. Saat dinikmati tinggal dipanaskan dalam oven.

Martabak Piring Murni buka sejak pukul 18.00  WIB dan tutup hingga pukul 22.00 WIB.

Editor:Sisie
Kategori:Ragam
wwwwww