Insaflah Hai Manusia

Insaflah Hai Manusia
H Iqbal Ali
Sabtu, 02 September 2017 07:59 WIB
Penulis: Drs H Iqbal Ali, MM
JUDUL di atas adalah penggalan dari syair lagu ''Keagungan Tuhan'' ciptaan A. Malik BZ dipopulerkan oleh D’lloyd tahun 70an dan mari kita lengkapi sebait lagu tersebut sebagai berikut:

''Insaflah hai manusia, jika dirimu bernoda. Dunia hanya naungan untuk makhuk ciptaan Tuhan. Dengan tiada terduga, dunia ini akan binasa, kita kembali keasalnya, menghadap sang Pencipta. Siapa selalu berbakti dan mengabdi pada Illahi, ‘kan sentosa selamanya, dunia dan akhir masa''.

Sungguh indah dan puitis, barangkali si pencipta lagu terinspirasi karena pada masa itu banyak dilihat dan dirasakan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan manusia terutama penguasa. Pencipta lagu ingin mengkritisi keadaan saat itu namun oleh kerana dia tidak punya kekuatan dan kemampuan untuk mengatasi kecuali melalui syair-syair lagu.

Sekarang puluhan tahun kemudian, apalagi semenjak reformasi, dengan jelas benang merah yang membedakan dengan zaman sebelumnya yaitu “ pembaharuan “ dan semua sepakat bahwa negeri kita perlu diubah menjadi situasi yang baru. Segala kelemahan-kelemahan atau yang dianggap tidak cocok dengan keinginan rakyat harus diubah.

Dari otoriter menjadi demokrasi, dari sentralisasi ke desentralisasi. Keran kebebasan dibuka, keberagaman dijunjung tinggi, pemerintahan yang bersih menjadi visi, keadilan merupakan pilar yang penting. Mendahulukan kepentingan rakyat sudah digaungkan dan banyak lagi hal-hal yang perlu diubah.

Namun apa nyana, apa hendak dikata maksud hati memeluk gunung, apa daya gunung meletus. Sirna semua asa, apa yang didambakan rakyat masih saja merupakan kerinduan. Segala sektor sudah rusak, satu persatu pilar kehidupan runtuh. Lembaga pengadilan, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, legislatif, eksekutif, semua bernoda. Tak ada hari tanpa berita kemungkaran dan pelakunya wajah-wajah baru yang tidak terduga sebelumnya.

Memang berat tugas pemrintah sekarang, apalagi semenjak kran kebebasan dibuka. Sayangnya kebebasan tersebut disalah gunakan sehingga kebablasan. Kebebasan  telah diisi dengan kebencian, intoleran, fitnah, kebohongan  dan tidak menghargai keberagaman. Pelakunya orang beragama dimana sebagian besar beragama islam, berpredikat haji, sering umrah. Padahal yang dilakukannya jelas bertentangan dengan ajaran islam.

Malah politisi kita sudah terjebak dengan politik paranoid. Paranoid merupakan penyakit kejiwaan disebabkan dihantui ketakutan bahwa dirinya tidak nyaman merasa kalah bersaing sehingga selalu curiga tanpa bukti. Perilakunya cenderung reaktif, konspiratif dan tanpa ada rasa malu.

Bagi mereka agama hanya formalitas, hanya sekedar diketahui tanpa diamalkan. Agama dipermainkan yaitu silih berganti berbuat baik dan berbuat jahat lalu pergi umrah.

Kita bersyukur dimana pemerintah tetap dan terus berusaha sekuat tenaga mengatasi kondisi yang telah merisaukan ini. Dengan segala aturan dan tindakan-tindakan tegas. Begitu pula korupsi yang telah mewabah kemana-mana dan sekali lagi pemerintah dengan penegak hukumnya terutama KPK terus menerus menangkap para koruptor. Kita harus dukung KPK dan penegak hukum lainnya.

Memang di negara demokrasi kita butuh partai politik sekaligus oposisi, tapi yang cerdas, tidak asal tampil dan asal ngomong tanpa rasa malu. Politisi-politisi  kita  diberi predikat oleh pengamat sebagai politisi ikan lele, senang hidup diair keruh dan menampilkan dagelan yang tak lucu.

Sebetulnya rakyat sudah muak, tapi kemana asa mau diusung, hampir semua sudah runtuh. Belum selesai sampai disini, tiba-tiba kita dihebohkan lagi oleh berita terbongkarnya sindikat hoax, salah satunya bernama Saracen yang kerjanya menebar berita bohong, fitnah, adu domba dimana mereka melayani permintaan-permintaan yang membutuhkan. Sekali lagi pelakunya beragama terutama islam.

Betapa besar dosanya, orang Islam berpredikat haji sering umrah malah tokoh-tokoh umat melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentang dengan ajaran islam. Tega-teganya seorang muslim membunuh karakter  saudara-saudaranya. Apakah mereka lupa dengan dosa atau pura-pura lupa demi harta  dan kuasa. Rupanya umrah dan haji hanya menjadi tameng belaka. 

Mereka lupa bahwa kebenaran itu cepat atau lambat akan datang dan sepertinya kebenaran itu saat ini sudah mulai terkuak. Kita yakin pemerintah bersama penegak hukum tidak akan menyia-nyiakan kesempatan menghabisi mereka sampai keakar-akarnya. Memang tak ada menusia yang sempurna, tak ada manusia yang  tak berdosa. Islam mengajarkan bahwa solusi dosa hanyalah tobat, yang diawali dengan keinsafan.

Tidak cukup dengan doa, zikir dan umrah, banyak ayat-ayat memerintahkan tobat (Annisa 31,  Thoha 82  dan Hujurat 11). Dengan keinsafan dan tobat berarti kita telah membersihkan diri  dari segala noda. Mari kita merenung, menghisab diri sebelum dihisab nanti di akhirat.

Mudah-mudahan timbul kesadaran, keinsafan dan kita berusaha keras untuk tetap dijalan Allah. Tobatlah sebelum terlambat, walaupun belum ada sponsor tobat seperti zikir dan doa bersama. Insaflah hai manusia agar sentosa selamanya, dunia dan akhir masa. Wallahua’lam.***

Iqbal Ali adalah Ketua STISIP Persada Bunda 2008-2016 dan Mubaligh IKMI Riau

Kategori:Opini
wwwwww