Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hj. Yemmelia Sarankan Pemko Bukittinggi Batalkan Sistem Sewa dan Bantu Koperasi Pedagang
Ekonomi
17 jam yang lalu
Hj. Yemmelia Sarankan Pemko Bukittinggi Batalkan Sistem Sewa dan Bantu Koperasi Pedagang
2
Dukung Startup Buatan Budak Melayu, Gubernur Syamsuar Resmi Launching JualBuy.com
Peristiwa
15 jam yang lalu
Dukung Startup Buatan Budak Melayu, Gubernur Syamsuar Resmi Launching JualBuy.com
3
RUU Cipta Kerja Munculkan Peluang dan Norma Baru Bagi Pekerja
Politik
15 jam yang lalu
RUU Cipta Kerja Munculkan Peluang dan Norma Baru Bagi Pekerja
4
Dapat Gelar Doktor, Gus Jazil Minta Menteri Halim Terus Perjuangkan Masyarakat Desa
Politik
15 jam yang lalu
Dapat Gelar Doktor, Gus Jazil Minta Menteri Halim Terus Perjuangkan Masyarakat Desa
5
Skandal Jiwasraya, Bamsoet Desak OJK Dibubarkan
Peristiwa
18 jam yang lalu
Skandal Jiwasraya, Bamsoet Desak OJK Dibubarkan
6
Ridho Manfaatkan Waktu Berbagi Ilmu dengan SSB di Pekalongan
GoNews Group
15 jam yang lalu
Ridho Manfaatkan Waktu Berbagi Ilmu dengan SSB di Pekalongan
Loading...
Home >  Artikel >  Ragam

Benarkah Hidup Susah Sekarang?

Senin, 30 Juli 2018 22:31 WIB
Penulis: Drs H Iqbal Ali, MM
Benarkah Hidup Susah Sekarang? H Iqbal Ali
PERTANYAAN di atas banyak disebut-sebut saat ini, apakah ada kaitannya dengan tahun politik? Jawabannya bisa iya, bisa tidak.

Mari kita jawab dengan akal sehat dimana perbedaan pendapat tentu boleh-boleh saja. Secara pengamatan dan kasat mata tanpa penelitian dan survey, menurut saya judul diatas jawabannya; Tidak Benar. Coba kita lihat keadaan masyarakat secara umum 15 atau 10 tahun terakhir.

Kita sebut saja indikatornya sebagai berikut. Diawali dengan berobat relatif murah (BPJS). Setiap desa di Indonesia sebagian besar sudah masuk listrik. Transportasi lancar dimana jalan hampir semua diaspal dan malah sudah banyak jalan tol. Di setiap rumah terutama di desa minimal ada 2 sepeda motor walaupun kredit. Pegawai negeri sipil golongan II saja sudah punya mobil. Di kantor-kantor pemerintah berjejer mobil pegawai (banyak yang mahal). Dulu belum punya TV sekarang ada yang 2 di rumahnya.

Dulu belum ada rumah murah, sekarang bak cendawan tumbuh untuk rakyat walaupun kredit. Dulu di desa belum mengenal AC, sekarang sudah banyak yang punya. Dulu belum mengenal bank sekarang berlangganan.

Dulu sering makan dengan pucuk ubi, petai, lontong, sekarang sudah bisa merasakan Pizza dan Burger. Dulu komunikasi belum secanggih sekarang, hitungan detik kita dapat mengetahui kondisi dunia dari rumah. Itulah contoh nikmat Allah dan banyak lagi yang seharusnya wajib kita syukuri.

Makanya sekali lagi judul diatas tidak benar. Yang mengatakan benar tentu banyak pula. Mudah-mudahan saja yang mengatakan benar bukanlah orang-orang masuk kelompok orang-orang: Malas, pilih-pilih kerja, ingin serba instan, suka main sogok.

Selanjutnya orang banyak anak (setiap tahun bertambah). Semakin besar keluarga sedangkan produktivitas tak bertambah, tentu berat menghadapi kehidupan. Yang mengatakan susah adalah orang-orang yang tak terbiasa mensyukuri nikmat Allah dan juga orang -orang pola hidupnya konsumtif (mengutamakan wants daripada needs).

Oleh sebab itu tidak elok jika selalu mengatakan hidup susah sekarang. Kalau kelompok oposisi diranah politik wajar mengatakan demikian, untuk mengambil simpati rakyat. Kita jangan lupa atau pura-pura tak tahu bahwa yang ikut mangganggu perekonomian negeri kita adalah berkeliarannya para koruptor, terutama didaerah-daerah (gubernur, bupati/walikota, kepala dinas dan seterusnya).

Mari kita renungkan dengan akal sehat, tidak cepat-cepat mengambil kesimpulan, justru kita syukuri segala nikmat yang diberikan Allah dan berusaha terus meningkatkan kualitas diri sehingga mampu bersaing dengan orang lain. Bekerja, bekerja dan berdoa. ***

Drs H Iqbal Ali, MM adalah pengamat sosial dan keagamaan.

Kategori : Ragam

Loading...
www www