Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hj. Yemmelia Sarankan Pemko Bukittinggi Batalkan Sistem Sewa dan Bantu Koperasi Pedagang
Ekonomi
17 jam yang lalu
Hj. Yemmelia Sarankan Pemko Bukittinggi Batalkan Sistem Sewa dan Bantu Koperasi Pedagang
2
Dukung Startup Buatan Budak Melayu, Gubernur Syamsuar Resmi Launching JualBuy.com
Peristiwa
15 jam yang lalu
Dukung Startup Buatan Budak Melayu, Gubernur Syamsuar Resmi Launching JualBuy.com
3
RUU Cipta Kerja Munculkan Peluang dan Norma Baru Bagi Pekerja
Politik
15 jam yang lalu
RUU Cipta Kerja Munculkan Peluang dan Norma Baru Bagi Pekerja
4
Dapat Gelar Doktor, Gus Jazil Minta Menteri Halim Terus Perjuangkan Masyarakat Desa
Politik
15 jam yang lalu
Dapat Gelar Doktor, Gus Jazil Minta Menteri Halim Terus Perjuangkan Masyarakat Desa
5
Skandal Jiwasraya, Bamsoet Desak OJK Dibubarkan
Peristiwa
18 jam yang lalu
Skandal Jiwasraya, Bamsoet Desak OJK Dibubarkan
6
Ridho Manfaatkan Waktu Berbagi Ilmu dengan SSB di Pekalongan
GoNews Group
15 jam yang lalu
Ridho Manfaatkan Waktu Berbagi Ilmu dengan SSB di Pekalongan
Loading...
Home >  Artikel >  Ragam

Manusia Indonesia Zaman Now

Senin, 12 Maret 2018 21:01 WIB
Penulis: Drs H Iqbal Ali, MM
Manusia Indonesia Zaman Now H Iqbal Ali
SAYA teringat judul karangan Pak Muchtar Lubis di harian Kompas, 2 Juli 2005, ketika Kompas memperingati 2 tahun meninggalnya Muchtar Lubis. Judul tulisannya; ''Manusia Indonesia''.

Dalam tulisan itu, Beliau menyebut ada 6 ciri manusia Indonesia (zaman Orde Baru). Tiga diantaranya masih relevan dengan Indonesia kekinian, yaitu munafik, tak bertanggung jawab dan feodal.

Munafik jelas orangnya lain di mulut lain perbuatan. Mulut pecah kongsi dengan perbuatannya. Berbohong hobinya, lain tuntutan lain hukuman. Suka janji-janji dengan motto; janjikan dan lupakan. Tak kenal kata amanah.

Ciri kedua, tak bertanggung jawab. Lempar batu sembunyi tangan, suka memelihara ''kambing hitam'', berburuk sangka. Feodal , suka dipuji, suka disanjung, dielu-elukan, padahal kualitas biasa biasa saja.

Zaman now bertambah cirinya sebagai berikut; Pertama, tak punya rasa malu. Sudah dikritik lisan maupun tulisan, didemo dan dihujat, tak sedikitpan ada rasa risih dan malu.

Sudah pakai baju oranye KPK masih ketawa-ketawa dan nyengir indah. Merasa Super, dialah segala-galanya, dia yang hebat, yang alim, pintar, kaya, orang lain dibawah dia, sombongnyapun tak dapat ditawar. Malu merupakan bagian dari iman, justru malulah merupakan benteng terkuat menahan nafsu jahat.

Kedua, suka meniru-niru. Dulu orang suka meniru-niru budaya barat, sekarang kiblatnya berobah ke Timur Tengah, seolah-olah timur tengah itulah segala-galanya terutama dalam hal agama tanpa didasari dan didukung literasi yang kuat dan memadai.

Kelompok ini cukup taklid saja kepada guru/dosen/ustaz dan langsung diterima sekaligus fanatik. Ketiga, suka tampil-tampil. Kata orang dia hobi panggung bukan demam panggung. Ingin muncul di media, ingin tampil diacara-acara, padahal sebenarnya diapun tak ada apa-apanya, hanya hobi ngomong, malah sering dicemooh karena jauh dari kualitas.

Keempat, mempermainkan agama. Banyak tahu ajaran agama, hafal ayat dan hadis, tapi tak diamalkan. Sering umrah, rajin ke mesjid, rajin sholat sunnah, puasa sunnah, tapi tak berdampak. Agama hanya formalitas dan rutinitas.

Melakukan kemungkaran dan ma’ruf silih berganti. Buat kejahatan, menebar hoax, fitnah dan kebencian, setelah itu pergi umrah. Orang ini pengetahuan agamanya oke, tapi akhlak minus.

Kalau dilihat dari lagak dan gaya sangat meyakinkan (muslim sejati), tapi tanpa integritas. Kelima, prinsip hidupnya dengan ilmu ''basi''. Orang Minang menyebut ilmu Basipakak, ilmu Basi bodoh, ilmu basitagang, basikareh dst.

Orangnya cuek, suka-suka dia dan merasa tak bersalah sedikitpun. Diberi tahu dia marah, diingatkan dia sinis. Pokoknya suka-suka dia tanpa melihat kepantasan dan kepatutan.

Keenam, intoleran. Tidak sabar, mudah marah, tak punya tenggang rasa, tak berlapang dada, penuh kebencian, anti kedamaian dan tak menghargai orang lain. Itulah ciri manusia Indonesia zaman Now dimana ternyata semakin banyak anak bangsa melanggar rambu-rambu agama.

Pertanyaannya, apakah ada yang akan menambah, silahkan. Pertanyaan berikut, kira-kira kita nomor berapa? Harus kita jawab dengan jujur ya, setidak-tidaknya dalam hati masing-masing. Wallahu a’lam.***

Drs H Iqbal Ali, MM adalah Ketua STISIP Persada Bunda 2008-2016 dan Ketua Dewan Pembina IKMR Riau.

Kategori : Ragam

Loading...
www www