Home  /  Berita  /  Kesehatan

Gus Jazil Minta Pemerintah Investigasi RS Nakal yang Mengcovidkan Pasien Meninggal Tanpa Swab

Gus Jazil Minta Pemerintah Investigasi RS Nakal yang Mengcovidkan Pasien Meninggal Tanpa Swab
Sabtu, 03 Oktober 2020 15:37 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Jazilul Fawaid, mendorong dilakukan investigasi menyusul beredarnya isu pasien meninggal karena Covid-19 di Rumah Sakit, meski hasil tes akhir atau Swab belum dirilis.

"Hemat saya, perlu dilakukan investigasi dan audit khusus, agar RS profesional dan tidak merugikan masyarakat dan pemerintah," kata Gus Jazil sapaan akrabnya kepada Wartawan Parlemen, Sabtu (3/10/2020).

Gus Jazil menilai, jika terbukti Rumah Sakit 'meng-covid-kan' pasien meninggal, maka hal tersebut adalah pelanggaran yang amat berat.

"Jangan mengail ikan di air keruh, memanfaatkan keadaan masyarakat yang sedang sulit," tegas politisi PKB penyandang dua gelar Doktor itu.

Ads

Sebelumnya, isu serupa juga direspons oleh Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Moeldokk. Purnawirawan TNI itu mengigatkan agar siapapun tak mengambil ‘keuntungan’ dari definisi ‘meninggal karena Covid’.

"Jadi, perlu didefinisikan semua kematian. Agar jangan sampai menguntungkan pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan dari definisi itu. (Meng-covid-kan pasien meninggal dunia, red) sudah terjadi di semua wilayah. Ada orang diperkirakan Covid terus meninggal padahal hasil test belum keluar,” kata Moeldoko di Semarang, Rabu (1/10/2020) lalu.

Apa yang diungkapkan Moeldoko juga diamini Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Bahkan menurut Ganjar, hal ini pernah terjadi di Jawa Tengah.

Untuk mengantisipasi hal itu, Ganjar menegaskan sudah menggelar rapat dengan jajaran rumah sakit rujukan Covid-19 di Jawa Tengah dan pihak terkait. Dari rapat itu diputuskan, untuk menentukan atau mengekspos data kematian, mereka yang meninggal harus terverifikasi.

"Seluruh rumah sakit dimana ada pasien meninggal, maka otoritas dokter harus memberikan catatan meninggal karena apa?. Catatan itu harus diberikan kepada kami, untuk kami verifikasi dan memberikan statemen ke luar," terangnya.

Memang dengan sistem itu, maka akan terjadi delay data soal angka kematian. Namun menurutnya, delay data itu lebih baik daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yulianto Prabowo mengatakan, pendataan pasien covid-19 kematian memang berbeda seperti orang sakit berat memang sudah sulit ditolong. Ketika dilakukan pemeriksaan meninggal.

Pihaknya mengkategorikan kematian covid-19 dalam dua jenis. Yaitu date cost covid atau kematian akibat covid-19 dan yang kedua yakni date with covid atau kematian disertai covid-19.

"Misalnya ada pasien stroke berat yang memang sulit ditolong, lalu kita lakukan pemeriksaan ternyata positif meninggal, tapi ada covid. Gampangnya itu death with covid. Nah, sekarang di Jateng itu entah kematian karena covid atau dengan covid kita masukan semua sebagai kematian covid dan lakukan pemakaman seperti covid," kata Yulianto Prabowo.***

wwwwww