Home  /  Berita  /  GoNews Group
Kisah Pelatih Tinju Tanpa Kaki Kanan (Bagian III-Selesai)

Rela Menjadi Jembatan Petinju Menuju Masa Depan Lebih Baik

Rela Menjadi Jembatan Petinju Menuju Masa Depan Lebih Baik
Rabu, 23 September 2020 21:34 WIB
Penulis: Azhari Nasution
TERNYATA di balik sosok pecinta olahraga keras itu terselip perasaan tulus. Iru tergambar dalam figur Ardy Blazer, sang pelatih berkaki satu yang sukses mencetak petinju juara nasional dan internasional. Misinya menjadi pelatih tinju sebagai jembatan bagi anak didiknya menyongsong masa depan lebih baik.

"Saya tidak tega melihat anak-anak di kampung saya yang salah dalam pergaulan sehingga masa depannya suram. Sebagai pelatih, saya hanya bisa menyiapkan mereka agar bisa bersaing di dunia olahrag tinju nasional. Istilahnya saya rela menjadi jembatan bagi mereka untuk menyongsong masa depan lebih baik," kata Ardy Blazer saat diwawancaraai wartawan Gonews.co Group Azhari Nasution melalui telepon selular.

Di sasana Blazer Boxing Camp (BBC), Ardy menampung anak-anak sekolah yang ingin menekuni olahraga tinju. Mereka yang datang kebanyakan dari keluarga kurang mampu itu diwajibkan mengikuti aturan yang ditetapkan yakni tidak boleh meminum alkohol dan merokok.

"Mereka harus disiplin mengikuti aturan yang diberlakukan. Di Sumba Timur ini kan tempat produksi minuman alkhohol tradisiona dimana anak-anak muda banyak yang mengkonsumsinya. Jadi, kalau sampai ada di antara mereka yang ketahuan merokok atau minum minuman keras saya langsung keluarkan dari sasana dan tidak boleh berlatih tinju lagi," ungkapnya.

Ads

Tidak heran jika anak-anak yang berlatih tinju tanpa dipungut bayaran di sasana BBC itu taat mengikuti aturan yang diberlakukan tersebut. Pasalnya, mereka bisa melihat fakta bahwa pendahulunya bisa sukses meniti masa depan melalui olahraga tinju.

Mengingat persaingan petinju sangat ketat untuk bisa memperebutkan kesempatan tampil pada ajang event kejurda maupun kejurnas mewakili NTT, Ardy membuka jaringan dengan pelatih di berbagai daerah. Dia menawarkan para petinjunya bisa direkrut memperkuat daerah lain.

"Silahkan daerah lain menggunakan mereka tetapi tolong dijaga dan jika sudah tidak dibutuhkan lagi atau tidak berprestasi harus dipulangkan kembali. Kebanyakan petinju binaan saya itu tidak dipulangkan lagi. Mereka jadi wakil daerah tersebut di ajang kejurda maupun kejurnas. Biasanya petinju saya itu banyak diminta Jawa Barat, DIY dan Bali," katanya.

Tidak sedikit penghasilan yang diperoleh petinju binaan Ardy jika meraih prestasi. Bahkan, anak didiknya pernah menyisihkan bonus yang diterima dari daerah karena meraih medali emas pada kejurda. Tawaran itu langsung ditolaknya.

Bersama Kornelis Kwangu

"Saya tidak mau menerima bonus anak-anak. Saya hanya pesan bonus itu sebaiknya untuk biaya perbaiki rumah atau keperluan keluarganya. Jangan heran kalau petinju yang sukses punya rumah yang cukup bagus di kampung saya," ungkapnya lagi.

Selain menyalurkan ke berbagai daerah, Ardy juga membantu anak didiknya yang ingin menjadi anggota TNI. "Cukup banyak anak didik saya lulus menjadi TNI. Itu semua karena mereka memiliki fisik yang cukup bagus dan disiplin," jelasnya.

"Saya akan terus memproduksi petinju sampai akhir hayat. Suatu kebahagian yang tak ternilai jika melihat anak didik bisa menyongsong masa depan lebih baik ke depan. Mereka punya pekerjaan dan penghasilan yang memadai meski berada di luar daerah karena di tempat aya sendiri sulit mendapatkan pekerjaan," tambahnya. ***

wwwwww