Home  /  Berita  /  Feature

Kisah Mualaf Santiago, Pria Tampan Asal Ekuador yang Bersyahadat di Bandung karena Kumandang Azan

Kisah Mualaf Santiago, Pria Tampan Asal Ekuador yang Bersyahadat di Bandung karena Kumandang Azan
Santiago Paul Erazo Andrade. (republika.co.id)
Rabu, 02 September 2020 07:24 WIB

LAHIR dan dibesarkan di tengah keluarga yang taat menjalankan agama non Islam, Santiago Paul Erazo Andrade tak pernah membayangkan belakangan akan memeluk agama Islam.

Dikutip dari Republika.co.id, Santiago Paul Erazo Andrade yang kini berusia 40 tahun, lahir di Quito, ibu kota Ekuador, sebuah negara di pesisir Amerika Selatan.

Ayah dan ibunya berprofesi sebagai guru dan dosen. Orang tuanya mengajarkan nilai-nilai agama (non- Islam) kepadanya sedari dini. Sejak masih kanak-kanak, ia bersama kakaknya mengenyam pendidikan di sekolah agama. Dibandingkan dengan anggota keluarganya yang lain, Santiago mengenang dirinya kala itu memiliki kepekaan spiritual yang lebih besar.

Sejak kecil Santiago sudah mulai mencari siapa sesungguhnya Tuhan itu? Akan tetapi ia merasa tidak dapat menemukannya dalam kepercayaan yang ia anut saat itu. Merasa tidak yakin pada agama yang dianut keluarganya, ia pun memutuskan untuk tidak beribadah lagi.

''Suami saya waktu itu merasa yakin, ia memiliki Tuhan meski tidak pergi ke gereja. Dia sering menyendiri dan berdoa dengan caranya sendiri,'' ujar istri Santiago, Dita Oktaria, menuturkan kisah masa lalu suaminya itu kepada Republika.co.id, beberapa waktu lalu.

Dita meneruskan, saat beranjak dewasa, Santiago berminat pada dunia seni. Namun, kedua orang tuanya waktu itu memandag sebelah mata profesi seniman. Alhasil, Santiago pun terpaksa menuruti kemauan mereka, yakni mendaftar pada sekolah tinggi teknik industri.

Saat duduk di bangku kuliah, Santiago tidak melupakan kecintaannya terhadap seni. Secara tidak terduga, hal tersebut membawanya bertemu seseorang yang menawarkan kunjungan studi wisata ke Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI membuka kesempatan bagi sejumlah mahasiswa asing untuk belajar selama satu tahun di kampus-kampus Indonesia.

Santiago mendaftar. Tak disangka, ia ternyata lulus seleksi. Dengan penuh suka cita, ia terbang ke Jakarta, untuk kemudian menjadi mahasiswa asing di Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah, pada tahun 2009. Itulah untuk pertama kalinya dirinya menginjakkan kaki di Nusantara.

Dengan tekun, ia mempelajari teknik membatik dan industri batik di Pekalongan. Setelah satu tahun, Santiago pun kembali ke Ekuador. Ia memutuskan untuk menjadi pengajar dan dosen di negara asalnya.

Dari luar, mungkin keadaan dirinya baik-baik saja. Namun, batin Santiago tetap merasakan kegundahan. Ia masih menganggap dirinya sedang mencari tambatan spiritual, untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mengusik hatinya tentang eksistensi Tuhan.

Setelah beberapa tahun mengajar di Ekuador, Santiago merasa amat merindukan Indonesia. Dari tahun ke tahun, ia selalu mencari kesempatan untuk dapat kembali ke negara di khatulistiwa itu. Gayung bersambut. Kali ini, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI mengadakan beasiswa S-2 bagi para mahasiswa asing. Pada 2016, ia pun berhasil diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jawa Barat.

Berbeda dengan studi sarjana yang lalu, Santiago kali ini cenderung lebih bebas dalam memilih jurusan yang disukainya. Ia menempuh program studi seni rupa. Di kampus tersebut, ia berkenalan dengan banyak teman baru. Bahkan, sempat juga membentuk sebuah grup band musik.

Ketika menjalani studi di Bandung itulah Santiago mulai sering berkumpul dan membahas soal Islam. Hal pertama yang dia bicarakan dengan kawan-kawannya adalah tentang aazan. Bagaimana tidak? Lima kali dalam sehari gema panggilan sholat itu dikumandangkan melalui pengeras suara di masjid-masjid. Santiago bertanya-tanya mengenai arti dari azan itu. Inilah langkah awalnya mempelajari Islam.

Semakin lama, pria berparas tampan itu merasa semakin yakin bahwa Islam-lah agama yang sesuai dengan prinsipnya selama ini mengenai eksistensi Tuhan. Yakni, Tuhan tidak mungkin sama seperti manusia yang menyembah-Nya.

''Rasanya, dari lubuk hati yang paling dalam, saya ingin belajar Alquran karena penasaran dengan arti dari bacaan indah itu. Saya juga berbincang dengan beberapa teman tentang Alquran. Lalu, sebelum bulan puasa 2018, saya ingin memeluk Islam,'' ujar Santiago saat dihubungi Republika.co.id.

Saat mempelajari Alquran, sepanjang hari, Santiago hanya memutar lantunan ayat suci beserta terjemahan Alquran berbahasa spanyol dari YouTube. Sembari melakukan kegiatan sehari-hari, lantunan ayat suci tidak pernah lepas dari telinganya.

Hampir dua tahun lamanya Santiago mempelajari Alquran terjemahan. Namun, itu tidak cukup baginya. Ia semakin ingin mendalami isi kandungan Alquran tersebut. Melalui seorang kawan, Santiago kemudian diperkenalkan kepada seorang ustaz di Masjid Lembang, Bandung. Ia pun semakin sering berdiskusi untuk mendalami Islam.

Ustaz tersebut menyarankan Santiago menjadi Muslim agar dapat mendalami Islam dengan lebih baik. Ketika itu, Santiago belum berkenalan dengan istrinya saat ini.

Baru pada akhir April 2018, dia bertemu dengan Dita Oktaria, perempuan yang kini menjadi istrinya. Ketika itu, Santiago harus menyelesaikan tugas membuat jam otomatis. Karena membutuhkan bantuan ahli IT, ia pun memutuskan untuk mencarinya di Fakultas IT, tempat istrinya dahulu menempuh studi pascasarjana.

Takdir Allah menuntunnya mendatangi laboratorium tempat Dita sedang belajar. Karena Dita wanita yang percaya diri dengan kemampuan berbahasa Inggrisnya, Dita pun mencoba membantu Santiago mencari orang yang dibutuhkannya. Dari sanalah mereka menjalin hubungan pertemanan dan menjadi dekat.

Santiago memutuskan untuk menjadi mualaf di awal Mei 2018, sepekan setelah berkenalan dengan Dita. Pria itu berikrar secara resmi untuk memeluk Islam di sebuah masjid di Lembang, Bandung.

Santiago memahami bahwa ketika dirinya mengucapkan syahadat untuk menjadi Muslim, artinya dia menjadi seperti bayi yang baru lahir, belum berlumur dosa. Karena tidak ingin berdosa dan tertarik untuk menikahi Dita, Santiago memutuskan untuk melamar Dita menjadi istrinya.

Namun, permintaan itu ditolak Dita. Perempuan asal Bengkulu itu masih merasa ragu dengan keseriusan Santiago. Mereka baru sepekan berkenalan dan Dita tidak mengetahui secara mendalam latar belakang Santiago.

Meski demikian, keduanya tetap berhubungan dekat. Setelah Santiago bersyahadat, Dita berniat membantu Santiago mendalami Islam sekaligus mengenal pria itu lebih dekat. Untuk itu, Dita mengajak Santiago mengunjungi kedua orang tuanya di Bengkulu.

Saat itu, kedua orang tua Dita hanya tahu jika hubungan putri mereka dan Santiago sebatas teman. Kedua orang tua Dita dengan senang hati membantu Santiago untuk belajar Islam. Ibunda Dita bahkan ikut membantu mengajarkan iqra kepada Santiago.

Karena bertepatan dengan bulan Ramadhan, Santiago sekaligus belajar berpuasa dan shalat bersama keluarga Dita. Perempuan ini juga mencarikan seorang ustaz yang biasa membimbing para mualaf di Bengkulu. Dengan begitu, Santiago dapat didampingi dalam mengkaji Islam.

Setiap hari selama di Bengkulu Santiago berusaha mendalami agama Islam. Berpuasa pun ia jalani selama satu bulan--tanpa ada satu hari pun batal.

Kedua orang tua Dita merasa kagum dengan kesungguhan pria yang kini telah menjadi suami anaknya. Karena keduanya belum lulus ketika itu, kedua orang tua Dita meminta keduanya menikah setelah lulus pascasarjana.

Juli 2019, keduanya melangsungkan pernikahan di Bengkulu. Namun, kini keduanya tinggal terpisah karena Santiago harus merawat ayahnya yang menderita kanker dan harus mempelajari ilmu kesehatan un tuk merawat sang ayah di Ekuador. Sementara itu, Dita tetap di Bandung karena masih memiliki pekerjaan. ***

Editor:hasan b
Sumber:republika.com
Kategori:Feature

GoSumbar.com Kisah Mualaf Profesor Matematika, Bersyahadat Setelah Baca Surat Az-Zariyat Ayat 52-53
GoSumbar.com Mantan Tentara AS Ini jadi Mualaf Gara-gara Kepincut dengan Fotografer Wanita Indonesia
GoSumbar.com Kisah Mualaf Ornella, Mahasiswi Teknik Sipil yang Bersyahadat Setelah Baca Buku Rahmatan Lil Alamin
GoSumbar.com Kisah Mualaf Caroline, Pekerja Bar yang Bersyahadat Saat Pandemi Corona, Kini Jadi Penjahit Jilbab
GoSumbar.com Kisah Karima Menjadi Muslimah, Bermula dari Tugas Kelompok Meneliti Perayaan Idul Adha
GoSumbar.com Kisah Natalia Iriani, Bersyahadat Setelah Mantap Meyakini Nabi Isa Hanyalah Utusan Allah
GoSumbar.com Kisah Mualaf Jaksa Farai Museta, Bermula dari Guru Ateis yang Mendorongnya Berpikir Kritis
GoSumbar.com Kisah Mualaf Uskup Agung yang Menggemparkan, Rumahnya Dibom Saat Ibadah Haji dan 3 Bayinya Terbunuh
GoSumbar.com Kisah Mualaf Wilfred Hoffman, Publikasikan Buku Menggegerkan Saat Jadi Dubes Jerman di Maroko
GoSumbar.com Kisah Greta, Bersyahadat di Usia Senja Setelah Saksikan Putrinya Sujud
GoSumbar.com Kisah Mualaf Lisha, Mantap Bersyahadat Setelah Tak Sengaja Telepon Imam Besar Masjid
GoSumbar.com Kisah Stanislas, Pembenci Islam yang Bersyahadat Setelah Ikuti Debat Antaragama, Kini Menjadi Dai
GoSumbar.com Bersyahadat Setelah Penembakan Masjid, Tracy Diundang Raja Salman ke Tanah Suci
GoSumbar.com Jahnke Pelajari Islam dan Bersyahadat Setelah Mimpi Bertemu Pria Tampan di Gurun
GoSumbar.com Kisah Mualaf Jameela, Bersyahadat karena Lihat Muslim Disiplin Shalat Lima Waktu
GoSumbar.com Tertegun Baca Surat Al Ikhlas, Ku Wie Han Putuskan Bersyahadat dan Kini Jadi Ustaz
GoSumbar.com Kagumi Ajaran Islam yang Mengatur Seluruh Aspek Kehidupan, Zan Christ Putuskan Bersyahadat
GoSumbar.com Mimpi Pakai Kerudung dan Pandai Mengaji, Mahasiswi Kebidanan Putuskan Bersyahadat
wwwwww