Home  /  Berita  /  Nasional

Presiden Joko Widodo Ibaratkan Kondisi Sekarang Seperti Komputer Mati Sesaat

Presiden Joko Widodo Ibaratkan Kondisi Sekarang Seperti Komputer Mati Sesaat
Presiden Jokowi mengenakan pakaian adat saat hadiri sidang tahunan 2020.
Jum'at, 14 Agustus 2020 10:31 WIB
JAKARTA - Presiden Joko Widodo mengibaratkan kondisi saat ini seperti komputer yang mati sesaat sehingga keadaan menjadi macet atau hang tetapi harus menjadi peluang untuk merestart ulang.

Presiden Joko Widodo saat berpidato pada Sidang Tahunan MPR-RI dan Sidang Bersama DPR-RI dan DPD-RI Tahun 2020, di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Jumat, mengatakan krisis perekonomian dunia saat ini terjadi paling parah dalam sejarah.

''Di kuartal pertama 2020, pertumbuhan ekonomi negara kita masih plus 2,97 persen, tapi di kuartal kedua kita minus 5,32 persen. Ekonomi negara-negara maju bahkan minus belasan persen, sampai minus 17 persen,'' katanya.

Kepala Negara mengibaratkan keadaan saat ini sebagai komputer dimana perekonomian semua negara saat ini sedang macet atau sedang hang.

''Semua negara harus menjalani proses mati komputer sesaat, harus melakukan re-start, harus melakukan re-booting. Semua negara mempunyai kesempatan men-setting ulang semua sistemnya,'' katanya.

Ia juga mengatakan kemunduran banyak negara besar saat ini yang diakibatkan pandemi COVID-19 bisa menjadi peluang dan momentum bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan.

Kepala Negara menyatakan menyambut hangat seruan moral penuh kearifan dari para ulama, para pemuka agama, dan tokoh-tokoh budaya agar menjadikan momentum musibah pandemi ini sebagai sebuah kebangkitan baru untuk melakukan sebuah lompatan besar.

Menurut dia, inilah saatnya semua pihak membenahi diri secara fundamental, melakukan transformasi besar, menjalankan strategi besar.

“Strategi besar di bidang ekonomi, hukum, pemerintahan, sosial, kebudayaan, termasuk kesehatan dan pendidikan,” katanya.

Sektor Kesehatan Harus Dipercepat

Presiden Joko Widodo juga menegaskan reformasi fundamental di sektor kesehatan harus dipercepat merespon pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini.

''Dengan peristiwa pandemi ini, maka reformasi fundamental di sektor kesehatan harus kita percepat,” kata Presiden Joko Widodo.

Kepala Negara menambahkan bahwa orientasi pada pencegahan penyakit dan pola hidup sehat harus diutamakan.

Di sisi lain penguatan kapasitas SDM, pengembangan rumah sakit dan balai kesehatan, serta industri obat dan alat kesehatan harus diprioritaskan.

Selain itu ketahanan dan kapasitas pelayanan kesehatan harus kita tingkatkan secara besar-besaran.

“Demikian pula halnya dengan ketahanan pangan, dengan menjamin kelancaran rantai pasokan makanan dari hulu produksi sampai hilir distribusi, ke seluruh wilayah negeri,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya efisiensi produksi pangan, peningkatan nilai tambah bagi petani, penguatan koperasi, dan metode korporasi petani akan terus ditingkatkan.

“Food estate sedang dibangun untuk memperkuat cadangan pangan nasional, bukan hanya di hulu, tetapi juga bergerak di hilir produk pangan industri,” katanya.

Ia menambahkan bahwa upaya itu bukan lagi menggunakan cara-cara manual, tetapi menggunakan teknologi modern dan pemanfaatan kecanggihan digital. Bukan hanya untuk pasar domestik, tetapi juga untuk pasar internasional.

Semua Rencana Harus Berubah Total

Presiden Joko Widodo juga menyebut semua yang sudah direncanakan harus berubah total termasuk perayaan hari kemerdekaan akibat pandemi COVID-19.

“Semestinya, seluruh kursi di ruang sidang ini terisi penuh, tanpa ada satu kursi pun yang kosong,” kata Presiden Joko Widodo saat berpidato pada Sidang Tahunan MPR-RI dan Sidang Bersama DPR-RI dan DPD-RI Tahun 2020, di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Jumat.

Ia juga menyatakan prihatin karena semestinya, sejak 2 minggu yang lalu, berbagai lomba dan kerumunan penuh kegembiraan, karnaval-karnaval perayaan peringatan hari kemerdekaan diadakan, menyelimuti suasana bulan kemerdekaan ke-75 RI.

“Namun, semua yang sudah kita rencanakan tersebut harus berubah total,” kata Presiden.

Semua ini, kata Kepala Negara, tetap tidak boleh mengurangi rasa syukur dalam memperingati 75 Tahun Indonesia Merdeka.

“Sebanyak 215 negara, tanpa terkecuali, sedang menghadapi masa sulit diterpa pandemi COVID-19,” katanya.

Dalam catatan WHO, kata Presiden, sampai dengan tanggal 13 Agustus 2020, terdapat lebih dari 20 juta kasus di dunia, dengan jumlah kematian di dunia sebanyak 737 ribu jiwa.

“Semua negara, negara miskin, negara berkembang, termasuk negara maju, semuanya sedang mengalami kemunduran karena terpapar COVID-19,” katanya. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:Antara
Kategori:Nasional

wwwwww