Sanggupkah Jokowi-Maruf Hadapi Tantangan Ekonomi Kedepan?

Sanggupkah Jokowi-Maruf Hadapi Tantangan Ekonomi Kedepan?
Minggu, 20 Oktober 2019 06:55 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Jokowi dan Ma'ruf Amin akan dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2019-2024 pada hari ini, Minggu, 20 Oktober 2019. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Bambang Soesatyo berharap, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa digenjot dalam 100 hari pertama pemerintahan Jokowi-Maruf.

"Kita berharap pertumbuhan ekonomi bisa sesuai harapan, di atas lima persen," kata pria yang akrab disapa Bamsoet ini, usai gladi bersih pelantikan presiden dan wakil presiden di Gedung Parlemen, Jakarta, Sabtu, 19 Oktober 2019, kemarin.

Politisi Golkar ini optimis, latar belakang Maruf Amin sebagai ulama bisa melengkapi sosok Jokowi yang nasionalis, sehingga persatuan Bangsa lebih niscaya. Keilmuan Maruf dalam ekonomi Islam, juga diharap menjadi modal pemerintah dalam menghadapi tantangan ekonomi Indonesia mendatang.

"Kalau kita kompak dan gotong royong pasti semua bisa dihadapi. Tantangan kita itu, tantangan ekonomi, persaingan dagang, dan kemajuan teknologi," kata Bamsoet.

Melansir BBCIndonesia.com, pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengungkapkan, "pertumbuhan ekonomi lambat di kuartal dua, khususnya menjelang Lebaran. Padahal, itu titik tertinggi dalam satu tahun dimana konsumsi rumah tangga harusnya mencapai di atas 5,2 atau 5,3%. Tapi kelas menengah atas justru menahan belanja, mungkin khawatir soal kebijakan perpajakan, ada juga yang khawatir soal struktur kabinet mendatang,".

"Untuk kelas menengah ke bawah, ada beberapa tekanan, seperti kenaikan tarif listrik dan BPJS, jadi mereka berjaga-jaga dari sekarang dengan lebih berhemat. Ini efeknya bahaya, karena 57% ekonomi Indonesia ditopang konsumsi rumah tangga," lanjut Bhima.

Bima mengungkapkan hal itu terkait dengan ancaman relokasi investor asing dari Indonesia ke negara Asia Tenggara lain, terutama Vietnam, Malaysia, dan Thailand.

Investasi yang keluar dari Indonesia mengakibatkan pengangguran meningkat dan konsumsi rumah tangga menurun, seperti Tiur, yang berimbas pada melambannya pertumbuhan ekonomi.

Jokowi juga telah mengatakan bahwa investasi asing (FDI) merupakan kunci bagi Indonesia agar bertahan di tengah ancaman resesi dan ketidakpastian ekonomi global yang disebabkan oleh semakin intensnya perang dagang Amerika Serikat dan China.

Pemerintah, mematok target pertumbuhan tahun ini sebesar 5,3%, sedikit di atas pertumbuhan 5,17% tahun lalu.

Ada indikasi bahwa target ini pun meleset. Dalam satu minggu terakhir, Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) sama-sama memangkas proyeksi pertumbuhan Indonesia menjadi hanya 5% tahun ini, dari yang sebelumnya 5,2% dan 5,1%, menurut masing-masing lembaga beberapa bulan silam.

"Ada kemungkinan besar di kuartal empat akan ada penghematan belanja pemerintah karena bersiap untuk menghadapi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Ini yang membuat IMF dan Bank Dunia menaruh proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini pada 5%. Namun, kalau lembaga dunia bilang 5%, biasanya ada kemungkinan realisasi pertumbuhan justru di bawah 5%," ujar Bhima.***

Editor : Muslikhin Effendy
Kategori : GoNews Group, Umum, Pemerintahan, Politik

Loading...
www www