Loading...
Home >  Berita >  Umum
Profil Kapolres Kampar AKBP Edy Sumardi Priadinata

AKBP Edy Sumardi, Bocah Penjual Jambu Klutuk di Sekolahan yang Kini Menjadi Kapolres Kampar

AKBP Edy Sumardi, Bocah Penjual Jambu Klutuk di Sekolahan yang Kini Menjadi Kapolres Kampar
Edy Sumardi Priadinata bersama kedua orang tua
Selasa, 03 Januari 2017 09:20 WIB
Penulis: Chairul Hadi

GARISAN TAKDIR memang tidak bisa ditebak. Berkat kerja keras dan kemauan yang besar, sukses mengantarkan seorang anak tentara yang hidupnya pas-pasan, kini menjadi seorang Kapolres di Kabupaten Kampar. Dia adalah AKBP Edy Sumardi Priadinata, yang semasa kecilnya cuma seorang bocah penjual makanan di sekolah.

Siang itu, pria tegap yang tak lain sosok orang nomor satu di kepolisian Kabupaten Kampar ini datang dan menyempatkan diri untuk mengobrol dengan GoRiau.com (GoNews Group), untuk sekedar bercerita dan membagi pengalaman hidupnya sejak kecil, hingga saat ini menjadi seorang abdi negara di Mapolres Kampar, Provinsi Riau.

Kesuksesan AKBP Edy Sumardi yang memiliki ayah seorang tentara ini ternyata dilalui dengan berbagai cobaan dan rintangan yang berat. Pria kelahiran Sumatera Barat tahun 1974 tersebut sudah 'dipaksa' mandiri sejak usianya masih kecil. Bahkan Edy dulunya sudah terbiasa mencari uang buat mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarga.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/03012017/8jpg-5464.jpg

Tujuh bersaudara ini terdidik sebagai anak yang disiplin. Meski lahir di Sumatera Barat, namun masa kecil hingga remaja lama dihabiskan di Medan, Sumatera Utara, lantaran sang ayah berdinas sebagai tentara angkatan laut (AL). Dari sosok sang ayah ini pula yang akhirnya menginspirasi Edy untuk menjadi seorang abdi negara.

Edy 'Sipenjual' Jamblu Klutuk di Sekolahan

Sejak di bangku Sekolah Dasar (SD), Edy Sumardi sudah terbiasa ditinggal ayahnya karena harus menjalankan tugas negara. Cobaan kian pelik karena kehidupan keluarga waktu itu bisa dibilang sangat pas-pasan. Namun, hal itulah yang justru mendorong pria berdarah Minang ini menjadi kreatif.

"Kebutuhan kami banyak. Kalau dihitung-hitung sih tidak cukup. saya mikir-mikir gimana caranya biar bisa bantu orangtua. Seumuran saya waktu itu (SD) kan nggak mungkin kerja, jadi alternatifnya saya jualan. Jual jambu, jambu Klutuk namanya," kisahnya mengingat-ingat.

Setiap berangkat sekolah, Edy selalu membawa termos berisi jambu Klutuk. Jualan ini ia titipkan di kantin SD tempatnya bersekolah, tepatnya di daerah Martubung, Medan. "Ketika itu harganya berapa ya, sekitar Rp5 perak-lah/biji. Itu sering diketawain teman-teman. Si Edy anak laki kok jualan, gitu," ucapnya.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/03012017/3jpg-5471.jpg

Namun ia tidak malu. Bisa membantu orangtua baginya merupakan suatu hal yang membanggakan. Inilah perjuangan hidup yang harus dilakoni Edy, disaat rekan sebayanya menghabiskan waktu dengan bermain, ia justru bekerja sambilan sebagai penjual jambu di sekolah.

Singkat cerita, AKBP Edy Sumardi pun bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP. Diusianya yang beranjak remaja, Edy ternyata masih tetap bekerja membantu orangtuanya. "Kan nggak mungkin jualan jambu. Saya belajarlah membuat makanan dengan ibu, dan bisa. Banyak makanan yang saya jual," selorohnya sambil tersenyum.

"Saya sekolah masuk siang waktu SMP (di Martubung). Jadi pagi-pagi sekali saya naik sepeda belanja ke pasar, sampai di rumah masak. Ketika itu jualan mi goreng, es doger, bakwan. Keliling ke sekolah-sekolah lain di sana, jualannya di luar pagar. Itu keuntungannya saya tabung buat beli buku sekolah," lanjut Edy.

Rekan-rekan seusianya pun kerap menertawakan. "Itu laki-laki kok belanja dan jualan," tirunya menggambarkan. Namun tak masalah buat Edy, ia tak pernah menggubris ledekan tersebut. "Pengalaman ini membuat saya semakin dewasa. Saya cuma ingin membantu meringankan beban keluarga," yakinnya.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/03012017/4jpg-5470.jpg

Bisa dibilang hari-hari Edy ketika itu sangat sibuk. Selain berjualan, ia juga ikut pelatihan sepakbola yang memang menjadi hobinya, sampai les Bahasa Inggris. "Dari sana rejeki saya bertambah. Ikut turnamen dapat duit, bisa buat bayar baju sekolah dan lain-lain. Itu sampai SMA," terangnya.

Orangtua Saya Menangis Saat Tahu Lulus Akabri

Duduk di bangku kelas tiga SMA, Edy Sumardi pun mulai 'membidik' masa depannya. Sadar jika mencari kerjaan susah membuatnya lebih memilih menjadi Akabri. Ditambah pula itu merupakan cita-citanya semasa kecil. "Cita-cita saya awalnya mau jadi AD. Jadi saya masuk Akabri (namanya waktu itu, red), tahun 1993," papar dia.

Berkat otaknya yang encer, ia pun jadi anak satu-satunya yang lulus di angkatannya kala itu. "Daftarnya di Kodam waktu itu. Orangtua belum tahu, sampai beberapa kali tes juga belum tahu. Saat disebutkan lulus, baru saya minta persetujuan mereka untuk ikut pelatihan Akabri," kata Edy.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/03012017/2jpg-5469.jpg

Edy Sumardi (Nomor 3 kiri atas)

"Pas saya cerita ini, orangtua langsung nangis. Nangisnya bukan karena harus berpisah, tapi nangis karena tak punya uang, mereka mikir mau biayain pakai apa. Tapi itu lah kuasa-Nya, selalu ada jalan meski tanpa uang sepersen pun. Dari ribuan orang, yang diterima cuma 80, itu tesnya di Magelang," ungkapnya.

Saat itu, Edy terpilih untuk mengabdi sebagai polisi, bukan Angkatan Darat (AD) seperti yang ia idam-idamkan. Ketika itu hatinya sempat menolak. Edy belum siap, karena ia tidak tahu sama sekali apa itu polisi. "Saya cuma tahunya Tentara, karena orangtua saya itu," ungkapnya sambil tertawa lebar.

Edy Sumardi pun dibuat 'galau'. Ia tidak tahu harus bilang apa kepada kedua orangtuanya. Dan benar dugaannya, lulusnya Edy sebagai polisi membuat orangtuanya sempat kecewa. "Terutama ayah saya, galau-lah ceritanya, nggak terima kenapa saya masuk polisi," ceritanya.

Perjalanan Menjadi Polisi yang Awalnya Cuma Bergaji Rp600 Ribu

Tahun 1996, AKBP Edy Sumardi dinyatakan lulus. Lalu ia dapat tugas kedinasan pertamanya di wilayah Polda Sulsel. Dari sana ia sadar, bahwa menjadi polisi merupakan panggilan hati dan garis takdir yang memang diperuntukkan buatnya. Sebab itu, ia pun langsung 'tancap gas' memberikan pengabdian yang maksimal.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/03012017/5jpg-5468.jpg

"Di situ mulai terasa tanggung jawab polisi sebagai sosok yang melayani, mengayomi dan melindungi masyarakat. Pertama kali jadi polisi itu pangkat Letnan Dua (tahun 1997), gaji saya sekitar Rp635 ribu, jamannya bisa dibilang susah, uang segitu buat hidup, gabung dengan lauk pauk," sebutnya.

Tak jarang Edy Sumardi sering 'ngutang' di kantin atau bahkan nebeng makan dengan orang-orang di sana yang sudah ia anggap sebagai orangtuanya. "Alhamdulillah, sering diajak makan di rumah. Jadi bisa hemat, dan gaji saya cukup buat dikirim ke orangtua, sisanya buat hidup sehari-hari," beber Edy.

Masa Tersulit, Sempat Terkatung-katung di Jambi Tanpa 'Kursi'

Suka duka AKBP Edy Sumardi ini bisa dikatakan komplek. Banyak pengalaman hidup yang ia rengkuh, dimana cobaan silih berganti datang menguji ketabahan. Ia ditempa dengan kesulitan, bahkan pernah pula menjadi polisi yang 'terkatung-katung'. Namun semuanya dijalani dengan ikhlas.

"Masa tersulitnya mungkin ketika saya ditunjuk jadi Kapolsek di daerah Jambi. Sempat terkatung-katung tiga bulan. Dikasih jabatan tapi tidak dilantik. Bagi saya itu marwah, disitu saya berpikir lagi, saya melaksanakan tugas dan kerjaan untuk pimpinan, saya harus berbesar hati. Ada hikmah di balik itu dan semua indah pada waktunya," ucap dia.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/03012017/7jpg-5467.jpg

Tahun 2011, Edy kemudian lulus Sespim. Bahkan ia meraih ranking satu dari Jambi. Ia ikut pendidikan di Lembang selama tujuh bulan saat itu, hingga akhirnya ditempatkan di Riau dengan jabatan perdananya sebagai Kasubdit Dikyasa, di Direktorat Lalu Lintas Polda Riau.

Di sana pula ia diberi tugas perumusan pembentukan forum lalu lintas angkutan jalan tingkat provinsi, di mana Edy Sumardi ditunjuk bersama Dirlantas kala itu untuk mengimplementasikannya. "Alhamdulillah, berkat bimbingan atasan, kami bisa merumuskan forum ini hingga jadi pilot project pertama di Indonesia," sebutnya.

AKBP Edy Sumardi, Anak Susah yang Punya Mimpi Besar

Bulan Mei 2016, AKBP Edy Sumardi dipercaya memimpin Polres Kampar, setelah sebelumnya sukses dalam jabatannya sebagai Kapolres di Kuansing. Keinginannya sangat sederhana, yakni bagaimana menjadi polisi yang bisa melayani, mengayomi serta melindungi masyarakat dengan semaksimal mungkin.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/03012017/6jpg-5466.jpg

"Impian saya bagaimana caranya supaya masyarakat bisa terayomi, merasakan rasa aman, tenang serta terhindar dari ketakukan. Saya harus bisa mewujudkan itu. Saya harus turun langsung ke masyarakat untuk mendengar dan itu tanggung jawab saya," tegasnya.

Baginya menjadi polisi, berarti harus siap melayani masyarakat dengan sepenuh hati. Polisi jangan sampai bertindak arogan apalagi menyakiti hati masyarakat. "Ini yang harus dipahami, sehingga peran polisi itu kelihatan. Kita itu pembantu, nggak boleh arogan apalagi sakiti hati masyarakat," ungkapnya.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/03012017/9jpg-5465.jpg

Dalam perjalanan hidupnya, AKBP Edy Sumardi selalu berpegang pada filosofi yang ia pedomani, bahwa seorang pemimpin yang sukses tidak terlahir dari kesenangan dan hura-hura, mereka lahir setelah melewati kerja keras, ujian, hinaan bahkan hingga air mata.

"Jangan anggap lemah dan kecil diri kita, setiap orang memiliki potensi, itulah seni kehidupan. Jangan pernah menyerah, karena itu akan menghambat kesuksesan kita. Jangan lupa untuk berdoa," tutup perbincangan AKBP Edy Sumardi denganGoRiau.com (GoNews Group)***

Kategori : Umum, GoNews Group

Loading...
www www