Home  /  Berita  /  Nasional

Pemerintah Antisipasi Flu Burung H10N3

Pemerintah Antisipasi Flu Burung H10N3
Pekerja memvaksinasi anak ayam dengan vaksin flu burung H9 di sebuah peternakan di daerah Changfeng, provinsi Anhui, China pada 14 April 2013 silam. (foto: dok.ist./reuters/stringer)
Sabtu, 05 Juni 2021 21:12 WIB
JAKARTA - Direktur P2PML (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung) Kemenkes (Kementerian Kesehatan) RI, Siti Nadia Tarmizi menyatakan, pemerintah telah memiliki sejumlah langkah surveilans untuk mengantisipasi penyebaran virus flu burung H10N3 di Indonesia.

Kepada CNN Indonesia, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 itu, mengatakan, "Flu burung termasuk H10N3 ini, varian-variannya dipantau terus melalui WGS (Whole Genome Sequence), selain varian Covid-19,"

Koordinasi dengan Kementerian Pertanian serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga telah dilakukan. Penyemprotan disinfektan di lingkungan peternakan juga giat dilakukan.

"Masyarakat yang menderita flu setelah mengolah bahan unggas untuk waspada," kutipan lansiran yang dilihat GoNEWS.co, Sabtu (5/6/2021).

Jadi, Nadia mengatakan, "Ini surveilans dari dua pihak, tapi terutama kejadian pada manusia umumnya dimulai outbreak pada hewan ternak atau unggas liar yang dimonitor oleh dua K/L,".

Baru-baru ini, Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) melaporkan temuan kasus infeksi virus flu burung H10N3 pertama pada manusia. Varian virus flu burung tersebut ditemukan pada seorang pria berusia 41 tahun di Kota Zhenjiang, Provinsi Jiangsu, China.

Meski diwaspadai, Deputi Direktur Biologi Patogen pada Wuhan University, Yang Zhanqiu pada Selasa (1/6/2021) mengungkapkan, belum ditemukan bukti H10N3 bisa menular antarmanusia seperti Covid-19.

Ia tidak tahu persis bagaimana pria berusia 41 tahun itu terinfeksi virus flu burung H10N3. Namun, Ia menduga pria itu kemungkinan besar terinfeksi dari tetesan (droplet) pernapasan unggas atau kontak langsung dengan unggas yang sedang sakit.

"Tidak seharusnya kita bertindak berlebihan terhadap kasus itu, namun monitor tetap harus dilakukan bagaimana penularannya itu bisa terjadi," kata Yang seperti dikutip dari Global Times.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:GoNews Group, Kesehatan, Nasional
wwwwww