Home  /  Berita  /  Pemerintahan

Ibu dan Anak Terbawa Banjir Jember, Warga hanya Bisa Berteriak Pilu

Ibu dan Anak Terbawa Banjir Jember, Warga hanya Bisa Berteriak Pilu
Video detik-detik Ibu dan anaknya terseret banjir. (Foto tangkap layar Instagram)
Minggu, 17 Januari 2021 17:55 WIB
JAKARTA - Sebuah video detik-detik warga meneriaki seorang perempuan yang terseret arus banjir viral di sosial media.

Warga berteriak agar perempuan yang diduga bersama seorang anak itu menyelamatkan diri dari arus banjir yang cukup deras.

Dalam video yang dibagikan akun Instagram @viralterkini99, tampak seorang perempuan menaiki sebuah papan yang mengapung.

Sepotong papan itu membawanya terseret arus banjir yang cukup deras.

Warga yang melihatnya berteriak berusaha mengarahkan agar perempuan itu menggerakkan papannya ke arah timur.

Salah seorang warga juga melihat ada anak kecil yang diduga merupakan anak perempuan tersebut turut menumpang papan itu.

"Ya Allah, Ya Rabbi, gek ambek anake loh iku cilik, Ya Allah!" teriak warga pasrah melihat nasib perempuan tersebut.

Dalam rangkaian video selanjutnya, menunjukkan bahwa lokasi banjir tersebut diduga terjadi di kawasan Andongsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Banjir telah menggenangi wilayah Jember selama 5 hari terakhir. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jember Heru Widagdo di Jember mengatakan, bencana banjir semakin meluas hingga tujuh kecamatan pada Kamis (14/1) malam. Personelnya telah melakukan proses evakuasi kepada warga.

"Korban yang terdampak banjir hingga satu meter dievakuasi ke lokasi yang aman seperti balai desa, musala dan masjid," katanya, seperti dikutip dari Antara, Jumat (15/1/2021).

Ia mencatat, ada 81 warga Dusun Kraton, Desa Wonoasri telah dievakuasi menggunakan perahu karet ke Balai Desa Wonoasri. Balai desa dijakdikan posko pengungsian sementara, meski juga sempat terendam banjir.

"Dari total 81 jiwa yang mengungsi, terdapat 25 orang lanjut usia (lansia) dan tiga anak-anak di bawah lima tahun (balita)," urainya.

Kemudian juga mengevakuasi warga terdampak banjir di Desa Sidodadi, Kecamatan Tempurejo ke musala dan masjid yang lokasinya aman dari genangan banjir.

"Ada sebanyak 20 orang yang mengungsi di Musala Baitul Sholihin dan enam orang yang mengungsi di Masjid Alhuda Desa Sidodadi, sedangkan di Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu ada dua orang yang mengungsi di Musala Alhuda," katanya.

Bencana banjir terburuk di wilayahnya ini, diyakini akibat hujan dengan intensitas tinggi. Kemudian menyebabkan debit Sungai Gladak Putih meningkat dan mengakibatkan jebolnya tanggul sepanjang 15 meter di Dusun Kraton. Ditambah tiga titik tanggul di Sungai Curahnongko jebol juga.

"Jebolnya sejumlah tanggul dan hujan deras menyebabkan air di sungai meluap dan menggenangi permukiman warga dengan ketinggian 60 centimeter hingga 2 meter di Kecamatan Ambulu dan Tempurejo," ujarnya.

Sejumlah fasilitas umum dilaporkan terdampak banjir. Ia merinci, ada Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurussalam, MI Negeri 3 Wonoasri, SDN 1 Wonoasri, SDN 2 Wonoasri, SMP PGRI 1 Wonoasri, Kantor Desa Wonoasri, SMPN 4 Tempurejo, SDN Curahnongko 8 terendam banjir.

"Untuk itu, rekomendasinya dibutuhkan segera logisitik untuk para pengungsi, kebutuhan tikar atau kasur di posko pengungsian, dan segera dibangun dapur umum di Dusun Kraton, Desa Wonoasri," katanya.

Banjir Kabupaten Jember meluas hingga tujuh kecamatan yakni Kecamatan Bangsalsari, Tanggul, Gumukmas, Puger, Ambulu, Tempurejo, dan Jenggawah. BPBD mengklaim belum ada laporan korban jiwa akibat bencana ini.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Umum, Peristiwa, Pemerintahan
wwwwww