Home  /  Berita  /  GoNews Group

Warning! Tol Trans Sumatera Zona Merah Begal

Warning! Tol Trans Sumatera Zona Merah Begal
Foto: Tol Trans Sumatera (dok. Kementerian PUPR)
Jum'at, 27 November 2020 16:31 WIB
JAKARTA - Kehadiran jalan tol Trans Sumatera menjadi salah satu solusi pengintegrasian daerah satu dengan daerah lainnya. Bahkan, jalan tol pertama ini mampu memangkas waktu perjalanan di wilayah Pulau Sumatera.


Sayangnya, jalan tol Trans Sumatera ini menyimpan cerita yang kurang baik. Jalur bebas hambatan pertama di Sumatera ini kabarnya masih sepi. Alhasil mengundang aksi kejahatan dan tindak kriminal seperti begal dan pelanggaran tata tertib.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno mengungkapkan pihaknya pernah melakukan pemantauan lapangan mengenai kondisi tol Trans Sumatera.

Djoko bilang, ada beberapa zona yang relatif lebih rawan dari kejahatan. Artinya, tidak semua ruas tol Trans Sumatera rawan aksi kejahatan karena masih sepi pengendara.

"Jadi itu ruas yang selatan saja, yang utara tidak. Di selatan ada dua wilayah yang rawan sekitar Mesuji dan Kayu Agung di daerah rawa-rawa, zona merah lah," kata Djoko kepada CNBC yang dikutip, Jumat (27/11/2020).

Secara spesifik, Djoko mengatakan ruas yang dianggap zona merah itu relatif jauh dari Mesuji dan Kayu Agung. Namun beberapa kejadian tindak kejahatan pernah terjadi di sana.

"Tapi yang namanya orang nekat rampok mencegat kendaraan, korbannya truk-truk yang lagi istirahat, ada yang menyerang, ada yang bawa mobil juga rampoknya, modal juga mereka," katanya.

Sementara di bagian utara tol Trans Sumatera, Djoko menilai tidak pernah terjadi masalah. Menurut Djoko, pemicunya adalah mengenai tingkat sosial di wilayah tersebut.

"Sebagai pembanding tol di Kalimantan juga sepi, tapi malah aman," ujarnya.

Untuk membenahi masalah sosial di wilayah tersebut, Djoko mengungkapkan arus ada pembenahan khususnya mengenai pelayanan jalan tol. Salah satunya ketentuan standar pelayanan minimum (SPM) seperti lampu penerangan jalan yang harus diubah.

Dia menjelaskan, ketentuan soal lampu penerang jalan memang tidak diwajibkan untuk ruas tol antar kota dan hanya berlaku di tol dalam kota saja.

"Pengalaman saya dari Terbanggi Besar-Kayu Agung sampai 87 km tanpa lampu, kalau berkendara sendiri serem juga," ucapnya.

Meski begitu, Djoko mengatakan pihak operator dalam hal ini PT Hutama Karya sigap menangani setiap insiden yang terjadi pada ruas jalan tol Trans Sumatera. Dia mengimbau para pengendara segera melapor bila mengalami masalah keamanan di jalan.

Dari sisi positifnya, Djoko menyebut keberadaan jalan tol Trans Sumatera punya sisi positif bagi ekonomi. Pastinya mobilitas orang lebih mudah dan kecepatan waktu tempuh semakin cepat. Ia mengatakan waktu tempuh Jakarta-Palembang kini bisa diraih 8-10 jam, berbeda jauh dari sebelum adanya Tol Trans Sumatera yang harus ditempuh lebih dari 15 jam.

"Sekarang efek positifnya, Palembang dan Lampung mobilitas tinggi. Di Palembang kan nggak ada pantai, warga Palembang sering ke Lampung untuk ke pantai. Sebaliknya, warga Lampung sedikit mal, mereka ke Palembang yang lebih banyak mal-nya, cuma 3-4 jam, dulu sampai 10 jam," kata dosen Universitas Soegijapranata ini.

Editor:Ari
Kategori:Peristiwa, Umum, GoNews Group
wwwwww