Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tambang Emas Ilegal di Luwu Milik Pengusaha China, Raup 35 Gram Sehari
Pemerintahan
18 jam yang lalu
Tambang Emas Ilegal di Luwu Milik Pengusaha China, Raup 35 Gram Sehari
2
Terbakar, Asrama MTI Kapau Agam Ini Ludes Dilalap Kobaran Api
Peristiwa
23 jam yang lalu
Terbakar, Asrama MTI Kapau Agam Ini Ludes Dilalap Kobaran Api
3
Hebatnya Putin di Sidang Umum PBB, Tawarkan Vaksin Covid-19 Gratis
Internasional
18 jam yang lalu
Hebatnya Putin di Sidang Umum PBB, Tawarkan Vaksin Covid-19 Gratis
4
Tidur dalam Mobil Terparkir, 3 Mahasiswi Tewas dan 1 Kritis
Internasional
15 jam yang lalu
Tidur dalam Mobil Terparkir, 3 Mahasiswi Tewas dan 1 Kritis
5
Singgung Palestina saat Pidato di SU PBB, PKS Terima Kasih ke Presiden Jokowi
Politik
19 jam yang lalu
Singgung Palestina saat Pidato di SU PBB, PKS Terima Kasih ke Presiden Jokowi
6
Baru 4 Desa yang Mendunia, DPR Desak Kemenpar Genjot Sektor Wisata Desa
Politik
19 jam yang lalu
Baru 4 Desa yang Mendunia, DPR Desak Kemenpar Genjot Sektor Wisata Desa
Home  /  Berita  /  Peristiwa

Ramai-ramai Putri Gus Dur Soroti Polisi Tangkap Pria di Malut soal Humor Gus Dur

Ramai-ramai Putri Gus Dur Soroti Polisi Tangkap Pria di Malut soal Humor Gus Dur
Kamis, 18 Juni 2020 18:58 WIB
JAKARTA - Guyonan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid tentang polisi yang diunggah pemuda asal Maluku Utara, Ismail Ahmad, sampai ke telinga anak-anak Gus Dur.

Ismail mengunggah candaan Gus Dur: 'hanya ada 3 polisi di Indonesia: patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng'. Pernyataan lama Gus Dur ini pun juga hanya kelakar saja.

Namun, unggahan Ismail soal humor Gus Dur itu dianggap berbeda oleh Polres Kepulauan Sula, yang menyebutnya sebagai pencemaran nama baik institusi Polri.

Meski akhirnya Ismail dilepaskan dengan alasan polisi hanya meminta klarifikasinya, namun tindakan ini menuai kritik.

Putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid, menyatakan tindakan polisi terhadap Ismail tidak baik untuk demokrasi Indonesia. Menurutnya, tindakan ini membuat kebebasan berpendapat seseorang jadi terhalang.

"(Masyarakat) masih bisa berpendapat dengan bebas. Tapi kalau diterus-teruskan begini, ya bisa mundur kebebasan berpendapat kita," kata Alissa, Rabu (17/6).

Apalagi, unggahan Ismail di akun Facebook-nya adalah sekadar humor yang dilontarkan ayahnya beberapa tahun silam.

"Humornya pun dikeluarkan oleh Gus Dur yang terkenal dengan humor-humor kritisnya. Kalau untuk hal sesederhana ini saja sampai proses hukum, bagaimana dengan pendapat kritis yang penting untuk menjaga check and balances?" ucap Alissa.

Ia pun kemudian mengunggah sebuah foto mantan Kapolri, Tito Karnavian, yang pernah berucap humor Gus Dur itu.

"Pak Polisi, ada teladan nih dari pemimpin anda semua, mantan Kapolri Jendral Polisi Tito Karnavian, sekarang Menteri Dalam Negeri," tulis Koordinator Jaringan Gusdurian itu.

Yenny Wahid 'menyentil' oknum kepolisian yang dianggap terlalu sensitif dalam menggunakan kekuasaannya. Padahal, kebebasan berpendapat di Indonesia masih dijamin oleh undang-undang, sehingga kita masih bisa bersuara dengan kritis.

"Namun yang jelas, ada oknum-oknum aparat keamanan yang terlalu sensitif dan terlalu mudah menggunakan kekuasaannya untuk mengintimidasi anggota masyarakat sipil lainnya," ujar Yenny.

Yenny mengatakan, jika humor atau candaan satir saja dilarang di negara ini, maka kesehatan jiwa masyarakat akan terganggu. Bahkan ia menganalogikan larangan humor satir seperti orang sakit gigi.

"Humor dan satir adalah kebebasan yang harus dilindungi kalau masyarakat ingin tetap mempertahankan kewarasan kita sebagai bangsa. Saya bahkan masih ingat ada mantan Kapolri yang mengutip lelucon Gus Dur tentang polisi dengan tanpa beban," tutur Yenny.

Tanggapan lain diucapkan putri ketiga Gus Dur, Anita Waid. Dalam akun Twitternya, ia mengunggah sebuah foto kartun ayahnya dan cerita bagaimana humor Gus Dur soal polisi itu terucap.

"Kalo aku unggah ini, aku bakal diperiksa nggak?" tulis Anita, dikutip Kamis (18/6).

Selanjutnya, ia membuat thread status akun Facebook Ismail dan kutipan Tito Karnavian yang sama seperti diunggah kakaknya.

"Seksek… jadi ygbikin joke gak dipertanyakan mensrhea-nya, tapi ygunggah quote joke tsb dipertanyakan. Jadi apakah mulai skrgtiap kita mau unggah quote joke hrs disertai woro-woro ttgmensrheakita biar gak diperiksa?" ucap dia.

"Ada yang bisa bantu jelasin gak? Biar aku gak diperiksa, gitu lho gaes… soalnya mumetaku dengan logika ini," lanjutnya sambil menutup thread itu.

Sejumlah warganet pun membalas unggahan Anita dengan meminta menghubungi Menko Polhukam Mahfud MD hingga Divisi Humas Polri. Ada juga yang membalas meme Gus Dur ini seakan jadi kebenaran turun temurun soal polisi.

"Kegamangan polisi ttg meme ini justru semakin menegaskan ke masyarakat bahwa apa yg disampaikan Gusdur mjd kebenaran turun temurun," balas akun @summa_isme.

Putri bungsu Gus Dur, Inaya Wahid, pun tak kalah memberikan komentarnya. Ia menyayangkan sikap polisi yang mempermasalahkan guyonan bapaknya itu.

Dengan bahasa satire, ia pun menyarankan polisi untuk memanggil pembuat humor --alias Gus Dur-- itu sendiri untuk diperiksa.

"Laaahygdipanggil kok ygmengquote. Panggil ygbikin joke dong Pak," cuit Inaya.

Gus Dur semasa hidupnya terkenal dengan humor kritis. Candaan soal polisi ia sampaikan pada tahun 2008. Saat itu Menristek Kabinet Persatuan Nasional (1999-2001), Muhammad AS Hikam, menyambangi kediamannya.

Saat itu, mereka sedang membicarakan sejumlah persoalan bangsa, khususnya praktik korupsi yang terjadi di dalam institusi negara. AS Hikam mencontohkan kasus korupsi BLBI yang tak kunjung menemukan titik terang.

Pembicaraan tersebut juga dimuat oleh AS Hikam dalam bukunya, “Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita” yang diterbitkan tahun 2013.

“Kasus yang melibatkan Polri ini apakah saking sudah kacaunya lembaga itu atau gimana ya, Gus? Kan dulu panjenenganyang mula-mula menjadikan Polri independen dan diletakkan langsung di bawah Presiden?” tanya AS Hikam kepada Gus Dur saat itu.

Gus Dur lalu menjelaskan mengapa ia memisahkan Polri dari TNI. Menurutnya, aparat keamanan dalam negeri dan sipil tidak bisa diatur dengan cara tentara.

"Setelah reformasi ya harus diubah, maka Polri dibuat independen dan untuk sementara supaya proses pemberdayaan terjadi dengan cepat di bawah Presiden langsung. Nantinya ya di bawah salah satu kementerian saja, apakah Kehakiman seperti di AS atau Kementerian Dalam Negeri seperti di Rusia, dan lain-lain," jelas Gus Dur.

"Nah, Polri memang sudah lama menjadi praktik kurang bener itu, sampai guyonannya kan hanya ada tiga polisi yang jujur; Pak Hoegeng (Kapolri pertama Indonesia 1968-1971), patung polisi, dan polisi tidur," jelas Gus Dur panjang lebar sambil tertawa.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:KUMPARAN.COM
Kategori:Hukum, Peristiwa

wwwwww