Home  /  Berita  /  Pemerintahan

Raffi Ahmad: Keberadaan Inpres Nomor 3 Permudah Pola Pembinaan Atlet Sepakbola Usia Dini

Raffi Ahmad: Keberadaan Inpres Nomor 3 Permudah Pola Pembinaan Atlet Sepakbola Usia Dini
Raffi Ahmad bersama Menpora, Zainudin Amali.(Foto: Kemenpora.go.id)
Sabtu, 05 Juni 2021 20:53 WIB
Penulis: Azhari Nasution
SURABAYA - Keberadaan Instruksi Presiden (Inpres) nomor 3 tahun 2019 tenang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional menjadikan cabang olahraga sepakbola menjadi spesial. Bahkan, Inpres tersebut akan mempermudah pola pembinaan atlet sepakbola usia dini. Terlebih banyak siswa baik SMP maupun SMA yang berada di Sekolah Sepakbola

Hal ini disampaikan presenter sekaligus pemilik klub sepakbola Rans Cilegon FC, Raffi Ahmad saat menjadi narasumber dalam acara sosialiasi Inpres nomor 3 tahun 2019 di Vasa Hotel Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (5/6/2021) sore.

"Bayangkan saja, kalau semua provinsi, semua kabupaten, semua kota mendukung dan sudah tahu tentang adanya Inpres no 3 bahwa instruksi presiden langsung dari semua cabang olahraga ini spesial sekali bahwa olahraga sepakbola mendapatkan perhatian khusus. Kenapa? karena saya tahu bahwa Indonesia ini penduduknya sangat luas sekali dan sepak bola ini salah satu pesta rakyat kita," ujarnya.

Menurut Raffi, Indonesia memiliki potensi yang sangat luar biasa untuk pengembangan sepakbola bahkan sampai ke kancah dunia. Di samping jumlah penduduk yang banyak, Indonesia juga negara yang luas secara geografis. Bahkan, Raffi membandingkan Indonesia dengan Spanyol yang memiliki klub sepakbola sekelas Real Madrid dan Barcelona. Padahal, luas wilayahnya tak seluas Indonesia.

"Dengan adanya Inpres nomor 3 tahun 2019 ini, tadi Pak Menpora sudah kasih pencerahan kepada saya kenapa adanya Inpres nomor 3 tahun 2019 agar pemain bola muda kita ini dari SSB, SMP dan SMA bukan hanya skil saja mereka yang mereka dapatkan tetapi mental mereka juga. Jadi ini sangat baik sekali untuk sepakbola kita dan saya sangat mendukung Pak Menpora," pungkasnya.

Raffi dihadirkan panitia untuk memberikan materi dan pengarahan terkait bisnis sepakbola menjadi digital. Usai menyampaikan materi, Raffi mengaku sangat senang dengan dan mendukung penuh Inpres nomor 3 tahun 2019 terkait pembangunan sepakbola tersebut.

"Kehadiran saya di sini tentunya saya meskipun junior di sepakbola tetapi saya sangat mendukung apa yang dilakukan Pak Menpora dan PSSI. Apalagi ini ada sosialiisasi Inpres nomor 3 tahun 2019. Ini adalah rangkaian yang sangat baik sekali untuk bangkitnya sepakbola Indonesia," kata Raffi Ahmad.

Sementara itu, Menpora Zainudin Amali mengungkapkan alasannya menghadirkan Raffi Ahmad dalam sosialiasi Inpres nomor 3 tahun 2019 ini sebagai perwakilan dari pengelola klub sepakbola.

"Saya kira tidak lengkap rasanya kalau kita tidak menghadirkan pelaku sepakbola dan oleh karena itu kenapa kita undang mas Raffi Ahmad. Karena kita tahu beliau sekarang ini disamping sebagai selebriti juga sudah mengelola klub," jelas Amali.

Menurut Amali, ada perubahan dalam persepakbolaan nasional dimana saat ini mulai dipercaya lagi oleh masyarakat. Buktinya, makin banyak masyarakat baik dari kalangan artis dan pengusaha yang ingin investasi dalam klub sepakbola.

"Saya kira ada satu hal yang mendasar yang saya lihat kenapa orang seperti Raffi Ahmad, Atta Halilintar kemudian Gading Martin bahkan ada Sultan Kelantang mau masuk ke sepakbola kita. Setelah saya berdiskusi dengan berbagai pihak, berbagai stakeholder, karena sepakbola kita mulai dipercaya oleh masyarakat. Mulai ada trust dari publik kita terhadap sepakbola kita," ujarnya.

Oleh karena itu, dia meminta kepada PSSI sebagai federasi sepakbola untuk menjaga hal tersebut. "Nah ini yang saya pesan kepada federasi kepada teman-teman di PSSI, ini harus dijaga, tidak boleh lagi ada perkelahian antara pemain di tengah-tengah lapangan atau pelatih sampai bertengkar dengan pemain lawan dan sebagainya. Kita hindari betul itu," katanya.

Bahkan, Amali akan mendorong PSSI untuk membuat aturan-aturan yang ketat sehingga hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Misalnya pengaturan skor dan lainnya.
"Karena ini akan membuat orang tidak percaya sepakbola Indonesia, orang jadi malas. Nonton saja malas, apalagi ikutan investasi di dalam sepak bola Indonesia," pungkasnya. ***

wwwwww