Home  /  Berita  /  Peristiwa

Tak mampu Berikan Layanan Prima, Pengamat Sarankan Erick Tohir Ganti Komisaris dan Direksi PT Pelni

Tak mampu Berikan Layanan Prima, Pengamat Sarankan Erick Tohir Ganti Komisaris dan Direksi PT Pelni
Ilsutrasi Pengamat Azas Tigor Nainggolan dan Kapal Pelni. (Kolase GoNews)
Kamis, 03 Juni 2021 08:10 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Minat masyarakat menggunakan jasa transportasi kapal Pelni dari tahun ke tahun semakin menurun. Terlebih kondisi Pandemi Covid-19 yang memaksa masyarakat tidak bepergian ke luar pulau.

Selain Pandemi, menurunya minat masyarakat terhadap kapal Pelni, juga disebakan dengan pelayanan yang dianggap kalah jauh dibanding dengan kapal milik swasta. Demikian diungkapkan Pengamat Transportasi Azas Tigor Nainggolan saat dimintai tanggapan terkait dengan pelayanan transportasi laut.

"Kalau kita mau jujur, sekarang penumpang kapal laut semakin sepi dibandingkan dengan transportasi darat maupun udara," ujarnya kepada GoNews.co, Kamis (03/5/2021).

Ia mengatakan rata-rata penumpang kapal laut adalah kelas menengah ke bawah dan mereka yang memiliki banyak barang bawaan. "Selain itu, Pelni juga tidak mampu menujukkan inovasinya. Selain pandemi, masyarakat juga enggan naik kapal Pelni, bayangkan saja, di Pelni ini masih ada kapal lama yang sudah berkarat dan bahkan bau pesing lho," tegasnya.

"Tentu masyarakat akan lebih memilih kapal swasta yang bersih rapi, nyaman dan aman. Kalau tidak masyarakat tentu akan memilih jalur darat," timpalnya.

Padahal kata Dia, peluang Pelni menggarap trasnportasi laut sangat besar. Dengan banyaknya pulau dan mahalnya ongkos jalan Tol, laut adalah alternatif bagi masyarakat. "Saya contohkan, dari Jakarta ke Bali itu kalau lewat Tol sekitar 18-19 jam. Biaya Tolnya Rp900 ribu, kalau pulang pergi sudah mengeluarkan sekitar Rp1.800 juta, belum lagi BBM, perawatan ban. Nah ini yang harusnya dijadikan peluang oleh Pelni," tukasnya.

"Nah jika melalui kapal laut, dari Tanjung Priuk-Bali itu cuma 15-16 jam, lebih cepat, lebih murah, tinggal duduk, tiduran, ngopi tidak capek nyetir dan bolak-balik ke SPBU atau Rest Area. Pertanyaannya, kenapa masyarakat lebih pilih darat yang lebih mahal dan lama, ya itu tadi layanan Pelni sangat buruk," tambahnya.

Kemudian kata Azas Tigor, sudah seharusnya Menteri BUMN Erick Tohir segera mengevaluasi jajaran direksi PT Pelni. "Jadi, Menteri BUMN Erick Tohir taruhlah orang yang berkualitas dan kreatif. Selektiflah memilih orang untuk jadi komisaris dan direksi di PT PELNI. Jangan sembarangan orang yang tidak berkualitas serta tidak bisa membuktikan visinya Jokowi dan kebutuhan transportasi rakyat. Masak Pelni tidak punya rute yang jelas dan kalah sama perusahaan swasta. Jika saya jadi Erick Tohir, sudah saya pecat semua, mulai dari Komisaris sampai jajaran direksi di PT Pelni," tandasnya.

Dibanding transportasi udara maupun darat, transportasi laut sejatinya lebih efisien. Tidak hanya penumpang, dengan kapal laut, volume barang yang diangkut juga lebih besar serta mampu melintasi pulau, negara bahkan benua. Efisiensi juga tercermin dari penggunaan bahan bakar minyak (BBM).

Pengangkutan barang sebanyak 500 kontainer menggunakan kapal misalnya, membutuhkan BBM setara 65 ton. Sedangkan jika melalui darat dibutuhkan 360 ton. Rinciannya, 500 truk untuk mengangkut 500 kontainer serta lama perjalanan sekitar empat hari. Dan ini belum termasuk biaya lain yang membebani ongkos logistik.

Anggota Komisi V DPR, Syahrul Aidi Maazat juga meminta PT Pelni sebagai penyedia jasa angkutan laut untuk kembali mengangkut penumpang reguler. "Karena tidak semua masyarakat memiliki mobil atau terbiasa naik pesawat, sudah seharusnya Pelni kembali angkut penumpang. Yang terpenting Pelni harus memastikan kenyamanan dan keamanan bagi penumpangnya," ujar Syahrul Aidi saat dikonfirmasi, Kamis (03/6/2021).

Anggota Fraksi PKS itu juga mengatakan PT Pelni sebagai perusahaan milik negara harus mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat dalam hal penyediaan trasportasi. "Komisi V DPR tentu sangat mendukung langkah Pelni untuk memberikan layanana terbaik dengan terus memperbaiki armadanya khususnya Kapal Feri. Jangan sampai perusahaan yang dibiayai negara malah kalah saing dengan perusahaan (transportasi laut) milik swasta. Modalnya itukan sudah disediakan oleh negara, oleh sebab itu pelayanannya dan fasilitasnya harus bisa jauh lebih baik dari swasta," tandasnya.

Karena menurut politisi asal Riau ini, masyarakat sebagai konsumen sangat rasional. "Mereka (konsumen,red) tahu mana fasilitas yang lebih bagus dan murah, itu pasti yang dicari," tegasnya.

Jadi kata Dia, Gunanya BUMN itu untuk mengimbangi harga fasilitas pada masyarakat. Dengan adanya Pelni ini ini kata Dia, fasilitas harus segera dibuat lebih layak lagi guna menghilangkan rumor transportasi milik Pelni sudah berusia tua. "Peremejaan sangat penting. Kemudian harus ada evaluasi. Pelni sebagai perusahan negara harus punya orietasi profit, bagaimana membaca psikologi konsumen, apa yang dibutuhkan konsumen transportasi laut. Misal keramahan dari kru nya, fasiltas keamananya, kenyamanannya di dalam (kapal), kemudian mempermudah pmembelian tiket," pungkasnya.***

wwwwww