Home  /  Berita  /  Peristiwa

Ralat Nilai Soal Nilai E DKI, Menkes: Tes dan Vaksinasi Jakarta Tertinggi

Ralat Nilai Soal Nilai E DKI, Menkes: Tes dan Vaksinasi Jakarta Tertinggi
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. (Foto: Istimewa)
Jum'at, 28 Mei 2021 16:44 WIB
JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan DKI Jakarta merupakan salah satu provinsi dengan tingkat tes atau pemeriksaan dan vaksinasi Covid-19 tertinggi di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan dalam klarifikasinya terkait pemberian nilai E atas kualitas penanganan pandemi di DKI Jakarta.

"Saya lihat banyak hal-hal yang dilakukan dengan baik. DKI adalah daerah yang testing-nya paling tinggi," kata dia melalui konferensi video, Jumat (28/5/2021).

"Kemudian vaksinasi, saya bilang tiga provinsi yang paling agresif cepat adalah DKI, Bali, dan Yogya," lanjut Budi.

Dalam penanganan pandemi, kata Budi, testing dan vaksinasi merupakan dua unsur yang harus lakukan secara bersamaan. Begitu pula dengan penerapan pelayanan kesehatan yang baik dan penerapan protokol kesehatan.

Dan menurutnya, upaya DKI dalam mendorong pemeriksaan Covid-19 sudah sangat baik. Mengutip data Pemprov DKI Jakarta, 67.199 orang di ibu kota menjalani pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) dalam sepekan.

Angka tersebut sudah enam kali lipat dari standar yang diberikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menetapkan standar pemeriksaan di DKI Jakarta minimum 10.645 orang dalam sepekan.

Sementara terkait vaksinasi, Budi mengatakan DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pencapaian vaksinasi terhadap lanjut usia (lansia) paling tinggi dibanding provinsi lain.

"[Vaksinasi] Lansia paling tinggi di DKI, lebih dari 60 persen disuntik. Berkali-kali saya sampaikan lansia paling rentan," katanya.

Atas pencapaian tersebut, Budi pun menyatakan apresiasi terhadap seluruh aparat pemerintahan, tenaga kesehatan, rumah sakit hingga puskesmas di DKI Jakarta yang telah berjibaku menangani pandemi.

Ia mengatakan permintaan maaf atas kesalahpahaman yang disebabkan oleh kementeriannya. Budi mengatakan penilaian yang diberikan kepada DKI bukan untuk mengukur kinerja, tapi menentukan risiko penularan.

"Saya sampaikan permohonan maaf dari saya pribadi menteri kesehatan atas kesimpangsiuran berita yang tidak seharusnya terjadi," kata Budi.

Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono memaparkan tabel penilaian kualitas penanganan pandemi untuk 34 provinsi pada Rapat Kerja bersama Komisi IX di Komplek DPR/MPR, Jakarta, Kamis (27/5).

Dalam paparan tersebut DKI mendapat nilai E dengan tolok ukur transmisi komunitas di level 4 dan respons yang masih terbatas.

Artinya, DKI melaporkan lebih dari 150 kasus per 100 ribu penduduk per minggu, merawat lebih dari 30 pasien per 100 ribu penduduk per minggu, dan melaporkan lebih dari 5 kasus meninggal per 100 ribu penduduk per pekan.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Kesehatan, Politik, Pemerintahan, Peristiwa
wwwwww