Home  /  Berita  /  Umum

Waspada Klaster Lebaran pasca Larangan Mudik Dilanggar dan Kerumunan Mudik Lokal

Waspada Klaster Lebaran pasca Larangan Mudik Dilanggar dan Kerumunan Mudik Lokal
Ilustrasi Covid-19 di India. (foto: ist./ap/amit sharma)
Minggu, 16 Mei 2021 18:44 WIB
JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia), Kurniasih Mufidayati menyebut, larangan mudik lebaran 2021 yang diberlakukan pemerintah nampak tidak jelas dan tidak tegas. Fakta bahwa sejumlah orang masih lolos mudik tak terbantahkan.

"Sejak awal nggak jelas. (model, red) kebijakan yang tambal sulam dan pada implementasinya (juga, red) kurang tegas," kata politisi PKS itu kepada GoNEWS.co, Minggu (16/5/2021).

Terkait hal ini, Anggota Komisi Kesehatan DPR RI dari Fraksi Golkar, Yahya Zaini, mendorong agar testing dan tracing ditingkatkan dalam menghadapi arus balik mudik lebaran. Ia mengatakan pada MNC, "Titik-titik tempat-tempat tes harus diperbanyak,".

Jumlah Orang Keluar Jabodetabek pada Libur Lebaran 2021

MNC menyebut, ada sekira 1,5 juta orang yang mudik dari Jabodetabek ke sejumlah daerah di Jawa dan Sumatera, berdasarkan data dari Kemenhub (Kementerian Perhubungan). Sementara Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. Fadil Imran pada Jumat (14/5/2021) menyebut bahwa jumlah orang keluar tercatat sekira satu jutaan orang. Angka sejutaan itu berdasar pada; 700 ribu kendaraan yang terpantau di Gerbang Tol Cikupa dan Cikarang Barat; Pelaku perjalanan dengan kereta api sebanyak 300 ribu; Dan, sekitar 200 ribu dengan sepeda motor.

"Termasuk tambahan yang menggunakan roda dua yang melewati Kedungwaringin menuju Jawa, itu puncaknya terjadi satu Minggu terakhir," kata Fadil dalam lansiran antaranews.com.

Catatan PT Jasa Marga (Persero), ada sebanyak 512.876 kendaraan meninggalkan wilayah Jabotabek menuju arah Timur, Barat dan Selatan selama H-7 hingga H-1 Hari Raya Idul Fitri 1442 H atau hari Kamis-Rabu (6-12 Mei 2021). Rinciannya, 35,6 persen menuju arah Timur, 35 persen menuju arah Barat dan 29,4 persen menuju arah Selatan.

Polda Metro Jaya, telah melakukan pengetatan larangan mudik di 21 titik penyekatan dan 23 lokasi check point sepanjang 6 - 13 Mei 2021, juga telah berhasil memutar balik 64.612 kendaraan dari berbagai jenis. Khusus sepeda motor, ada 47.627 unit yang diputar balik. Tapi berapa jumlah yang lolos termasuk di Kedungwaringin, menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Yusri Yunus, tidak bisa didata.

"Mana bisa," kata dia kepada GoNEWS.co, Kamis (13/5/2021).

Pengetatan Arus Balik dan Potensi Lonjakan

Juru bicara Vaksinasi Penanggulangan Covid-19, dr Siti Nadia Tarmidzi, Rabu lalu menyatakan, pengetatan arus balik belum menjadi pembicaraan terkini yang melibatkan pihaknya pasca sejumlah kendaraan menerobos pengetatan larangan mudik Idul Fitri 2021. Meski begitu, kata Dia, "sebenarnya aturan larangan mudik yang saat ini diberlakukan sudah cukup tegas. Tinggal bagaimana pelaksanaannya di lapangan,".

Pada Senin atau H-3 lebaran, Ketua KPCPEN (Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional), Airlangga Hartarto mengatakan telah di tes sebanyak 6.742 orang pelanggar larangan mudik. Hasilnya, "terkonfirmasi positif sebanyak 4.123 orang,".

Jika merujuk pada data lonjakan masa liburan-liburan lain sebelumnya, lonjakan kasus pasca liburan berada di kisaran angka 80 - 90 persen, menurut data Kemenkes. Jika prosentase lonjakan kasus Covid-19 pasca libur lebaran juga menyentuh angka itu, maka jumlah kasus Covid-19 nasional bisa lebih dari kisaran 10 ribu kasus. Pasalnya, di H-1 lebaran, kasus terkonfirmasi positif tercatat di kisaran 6 ribuan kasus.

Potensi lonjakan juga patut menghitung kerumunan-kerumunan lokal (daerah) dari budaya silaturrahim lebaran dan kerumunan di lokasi wisata karena mudik lokal di wilayah aglomerasi memang merupakan kelonggaran. Apa yang terjadi di Ancol, di mana 39 ribuan orang sempat memadati area wisata itu, menjadi salah satu contoh yang perlu dikalkulasi.

Nadia dalam wawancara bersama GoNEWS.co pada malam takbiran mengatakan, komitmen bersama dalam menjalankan larangan mudik menjadi penting. "Untuk urusan arus balik kan ada Kemenhub, ada petugas dari TNI-Polri yang disiagakan,".

Jika lonjakan tak terhindarkan mencapai level 80 - 90 persen kasus, pemerintah telah lebih antisipatif saat ini dengan lebih banyak RS rujukan untuk Covid-19 ketimbang sebelumnya. Tapi kata Nadia, hal itu jangan sampai terjadi. Karenanya, "Testing dan tracing itu didahulukan," agar deteksi bisa mencegah late stage dan angka kematian bisa ditekan.

Dalam kerangka deteksi dini tersebut, Polda Metro Jaya telah menegaskan bahwa akan dilakukan skrining di arus balik.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Umum, Nasional, Kesehatan
wwwwww