Home  /  Berita  /  Peristiwa

Calon Pengganti Megawati, Faksi Puan Vs Prananda Bisa Ancam Soliditas PDIP

Calon Pengganti Megawati, Faksi Puan Vs Prananda Bisa Ancam Soliditas PDIP
Perebutan kursi Ketum PDIP antara Puan dan Prananda. (Ilustrasi: GoNews)
Selasa, 13 April 2021 05:07 WIB
JAKARTA - Pembicaraan terkait calon Ketua Umum PDIP pengganti Megawati Soekarnoputri semakin memanas di tubuh PDIP. Dua nama yang santer diisukan, yakni Puan Maharani dan Prananda Prabowo, pun disebut berpotensi menimbulkan faksionalisme di lingkup internal partai.

Bahkan konflik keluarga berpotensi mengintai soliditas PDIP ke depannya terkait dua nama sejauh ini. Pakar politik Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam, mengungkap, jika potensi tersebut tidak diantisipasi, soliditas PDIP bisa terdampak.

"Hal ini menunjukkan besarnya potensi faksionalisme dan konflik keluarga di dalam kekuatan inti PDIP. Jika tidak diantisipasi, faksionalisme antara kekuatan Puan dan Prananda bisa mengintai soliditas PDIP ke depan," kata Ahmad Khoirul Umam, Senin (12/4/2021).

Megawati sebagai pimpinan PDIP saat ini dinilai sebagai satu-satunya yang bisa menjembatani regenerasi kepemimpinan tersebut. Umam menilai regenerasi ini memang sudah seharusnya mulai dibicarakan oleh PDIP.

"Terkait dengan itu, memang sudah saatnya PDIP melakukan regenerasi kepemimpinan. Megawati yang menjadi patron politik partai ini harus bisa menjembatani proses transisi ini menjadi lebih stabil dan tidak berimbas pada menguatnya faksionalisme dan konflik di internal keluarga trah Sukarno," ucapnya.

Megawati sebagai sosok ibu dari Puan dan Prananda pun dinilai krusial menjamin stabilitas di lingkup internal PDIP. Namun Umam mengingatkan proses peredaman itu terancam jika satu di antara keduanya memiliki ego yang tinggi.

"Sebagai ibu bagi kedua kakak beradik itu, sekaligus patron politik PDIP, arah kebijakan Megawati tentunya akan diarahkan untuk menjamin stabilitas politik di internal partainya. Namun perlu diingat, proses peredaman itu belum tentu berhasil jika ada salah satu pihak yang tercongkel egonya. Pertentangan antar-ego inilah yang perlu diantisipasi awal dari konflik dan faksionalisme di internal PDIP," jelasnya.

Lantas, siapakah di antara Puan dan Prananda yang paling berpotensi menggantikan Mega? Umam menilai, berdasarkan kalkulasi politik, Puan-lah yang lebih berpeluang.

"Tentu Puan Maharani memiliki potensi lebih besar memenangkan kompetisi, karena Puan sudah lama dan intensif tampil sebagai simbol dan wakil Megawati, di saat Prananda yang selama ini cenderung menghindar tampil di hadapan publik," ujarnya.

Lebih jauh, Umam menyebut Puan memiliki basis jaringan dan akar politik yang lebih kuat di level pengurus daerah. Terlebih sosok Puan yang kerap menjadi pejabat publik, seperti Menko PMK periode 2014-2019 dan sekarang Ketua DPR RI.

"Implikasinya, Puan memiliki basis jaringan dan akar politik yang lebih kuat di level pengurus PDIP di daerah dibanding Prananda. Dalam masa transisi kepemimpinan, PDIP akan membutuhkan pemimpin muda yang memiliki otot politik yang lebih kuat. Sebab, masa-masa transisi ini akan terus dibayangi oleh manuver para makelar kekuasaan yang gemar mencari target-target untuk diterkam, guna mengambil alih secara paksa infrastruktur politik yang telah mapan," tutur Umam.

Sebelumnya diberitakan, Ketua DPC PDIP Solo, FX Hadi Rudyatmo, menyebut Prananda Prabowo paling tepat menjadi penerus Megawati Soekarnoputri menjadi Ketum PDIP.

"Beliau pemikir dan tidak banyak hal yang dilakukan kecuali berjuang dan berjuang untuk PDIP. Mas Prananda menciptakan inovasi partai. Saya kira yang layak Mas Prananda," ujar mantan Wali Kota Solo itu.

Soal Prananda belum pernah menduduki jabatan publik, kata Rudy, itu bukanlah penghalang untuk menjadi ketua umum. Justru hal tersebut menunjukkan bahwa Prananda tidak memiliki ambisi terhadap kekuasaan.

"Beliau tidak punya keinginan jadi menteri, jadi anggota DPR. Di PDIP itu bukan sesuatu yang utama. Tapi yang penting beliau meniti karier di PDIP," ungkapnya***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Detik.com
Kategori:Politik, Peristiwa
wwwwww