Home  /  Berita  /  Peristiwa

Surat Wasiat Bomber Makassar dan Penyerang Mabes Polri Mirip, Ini Kata Pengamat dan BNPT

Surat Wasiat Bomber Makassar dan Penyerang Mabes Polri Mirip, Ini Kata Pengamat dan BNPT
Wasiat dua pelaku teror Mabes dan Bom Makassar. (Foto: Istimewa)
Minggu, 04 April 2021 22:57 WIB
JAKARTA - Surat wasiat yang ditinggalkan ZA (25) pelaku penyerangan ke Markas Besar (Mabes) Polri dan L pelaku bom bunuh diri di Makassar memiliki banyak kemiripan. Pengamat terorisme Al Chaidar menilai, kemiripan itu dimungkinkan karena kesamaan mentor kedua pelaku, Minggu (4/4/2021).

Isi surat wasiat keduanya hanya memiliki sedikit perbedaan kata. Namun intinya sama. Menurutnya, ini mengindikasikan seolah sudah ada template bagi pelaku untuk menulis surat wasiat sebelum melakukan aksi teror.

"Konsepnya bisa didikte oleh mentornya yang sama yang berperan sebagai ulama organic kekerasan," kata Chaidar seperti dilansir dari merdeka.com, Minggu (4/4/2021).

Dia meyakini, otak di balik aksi teror ini telah mempersiapkan hal-hal kecil. Termasuk surat wasiat yang harus disiapkan pelaku sebelum melakukan serangan teror.

"Ulama organic kekerasan inilah yang mempersiapkan hal hal kecil yang perlu dalam sebuah serangan amaliyah," jelasnya.

Disinggung soal pelaku teror yang kerap tinggalkan surat wasiat, Chaidar hanya melihatnya sebagai pesan bagi anggota keluarga yang akan ditinggalkan.

"Itu wasiat terakhir agar orang tuanya tahu kenapa anaknya meninggal," ujarnya.

ZA Menyadur Surat L?

Pakar terorisme dari UIN Jakarta, Zaki Mubarok memandang, kemiripan surat antara ZA dengan L karena salah satu di antara mereka menyadurnya. Apalagi setelah insiden bom di Gereja Katedral, Makassar, surat yang ditulis L banyak beredar di sosial media.

"Bisa jadi si ZA itu tinggal copy paste saja. Tidak semua pelaku aksi teror bisa buat testimoni, ketika dia menemukan contoh dan dianggapnya cocok untuk mengekspresikan suara hatinya maka ditiru saja surat wasiat itu," kata Zaki.

Namun bila ZA tidak pernah melihat dan membaca surat yang ditulis L, maka memunculkan banyak spekulasi. Ada kemungkinan pihak lain yang sengaja mempersiapkan surat tersebut untuk ditulis ZA.

"Jika ZA tidak pernah membaca atau melihat surat wasiat L, maka spekulasi-spekulasi muncul, bisa saja itu surat palsu, dalam arti bukan dia yang buat. Tapi orang atau pihak lain untuk tujuan yang macam-macam," ujarnya.

Apalagi jejak dan jejaring ZA dalam gerakan jihadis sampai hari ini masih belum ditemukan. Sehingga diduga dia bergerak melalui media sosial seorang diri atau lone wolf.

"Karena tidak ditemukannya kaitan dengan Jemaah Ansharud Daulah (JAD) atau semacamnya yang belum ditemukan. Jadi jika dia dianggap punya guru atau mentor yang sama dengan pengebom Makassar, sangatlah meragukan," jelasnya.

Menurutnya, banyaknya misteri yang meliputi kasus ZA membuat banyak pihak menyangsikannya sebagai teroris. Termasuk mudahnya proses masuk ke Mabes yang belum terungkap jelas.

BNPT Sebut Surat Wasiat ZA Contoh L

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar menyampaikan terkait latar belakang pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar hingga jaringan kelompok terorismua. Bahkan, peristiwa tersebut disinyalir berkaitan dengan aksi teror di Mabes Polri.

"Berdasarkan fakta yang didapat, surat wasiat pelaku penyerangan Mabes Polri mencontoh surat wasiat yang ditulis oleh pelaku bom suami istri di Makassar, seperti meminta maaf ke keluarga dan jangan pakai bank. Ini adalah hasil proses radikalisasi oleh radikal intoleran terorisme melalui media sosial," kata Boy Rafli di Polda Sulawesi Selatan, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (1/4).

Boy Rafli menegaskan akan menindaklanjuti dan berupaya melakukan upaya pencegah lebih dalam lagi kepada para generasi milenial. Pasalnya, kemajuan dunia digital saat ini membuat mudah dan maraknya konten-konten propaganda serta narasi ujaran kebencian, yang tidak dapat terhindarkan.

"Untuk itu, peran keluarga juga diharapkan dapat terlibat untuk mengawasi anak-anak mereka dalam menggunakan sosial media secara baik dan benar. Langkah preventif dan represif baik soft maupun hard approach juga akan diterapkan oleh pemerintah dan aparat keamanan untuk upaya pencegahan yang lebih menyeluruh dan mendalam," tegas Boy Rafli.

Sebagaimana diketahui bahwa, ZA sempat menulis pesan perpisahannya dalam dua lembar kertas putih. Di antara isi wasiat tersebut adalah permintaan maaf Zakiah kepada orangtuanya.

ZA juga meminta keluarganya untuk berhenti berhubungan dengan bank (kartu kredit) karena menganggap riba. Dia juga meminta ibunya untuk berhenti bekerja menjadi dawis (dasa wisma) karena menganggap membantu kepentingan pemerintah tagut.

Selain itu, dalam surat yang dituliskan tersebut pelaku juga turut berpesan agar keluarganta tidak mengikuti proses pemilu, karena orang-orang yang terpilih itu akan membuat hukum tandingan Allah bersumber Alquran - Assunnah.

Dengan beredarnya surat ZA, sejumlah isi surat pun memiliki kemiripan dengan surat yang ditulis L pelaku bom bunuh diri di Makassar. Dengan isinya meminta maaf jika ada salah, mengingatkan keluarga agar senantiasa beribadah dan tidak meninggalkan salat.

Termasuk di akhir surat, L yang menjadi pelaku bom bunuh diri Gereja Katedral Makassar menuliskan tanda tangannya beserta nama lengkapnya. Hal itu sama seperti yang dilakukan ZA.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:merdeka.com dan Law-Justice
Kategori:Pemerintahan, Hukum, Peristiwa
wwwwww