Home  /  Berita  /  Peristiwa

Berbeda dengan LKPI, Hasil Survei IndEX Justeru Elektabilitas Demokrat Melesat ke Dua Besar

Berbeda dengan LKPI, Hasil Survei IndEX Justeru Elektabilitas Demokrat Melesat ke Dua Besar
Ilustrasi Demokrat. (Foto: Istimewa)
Jum'at, 12 Maret 2021 19:15 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Berbeda dengan hasil survei Lembaga Kajian Politik Indonesia (LKPI), hasil survei Indonesia Elections and Strategic (indEX) Research justru menempatkan posisi Demokrat di dua besar parpol yang memiliki wakil di Senayan.

Selain kenaikan elektabilitas Partai Demokrat, PDI Perjuangan menurut IndEX juga masih memimpin elektabilitas partai politik. Tidak hanya Demokrat yang melesat, hal yang sama juga dialami pula oleh PKS.

Temuan survei Indonesia Elections and Strategic (indEX) Research menunjukkan di tengah tren penurunan elektabilitas parpol, tiga parpol yaitu Demokrat, PKS, dan PSI justru naik, khususnya dalam empat bulan terakhir.

"Demokrat, PKS, dan PSI mendulang dukungan di tengah turunnya elektabilitas partai-partai politik," ungkap peneliti indEX Research Hendri Kurniawan dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (12/3/2021).

PDIP yang fluktuatif di kisaran 28-33 persen, kini melorot menjadi 24,7 persen. Demokrat yang semula stabil 3 persen, melejit menjadi 7,1 persen. Sementara, PKS dari kisaran 5 persen kini naik lagi menjadi 6,2 persen. PSI dari awalnya 2 persen, merangkak ke 4 persen, kini tembus ke 5,0 persen.

"Tingginya elektabilitas PDIP tidak bisa dilepaskan dari posisinya sebagai parpol yang memimpin koalisi pemerintah, dan keberhasilan PDIP memenangkan dua pemilu berturut-turut," ujar Hendri.

Hal serupa dialami mitra koalisi PDIP yaitu Gerindra dan Golkar, dan sama-sama mengalami tren penurunan elektabilitas. Gerindra dari kisaran 14 persen kini turun menjadi 12,3 persen. Sedangkan Golkar dari 9 persen kini tinggal 7,8 persen.

"Di kubu oposisi, Demokrat dan PKS mengancam posisi partai-partai utama pemerintah," lanjut Hendri.

Sementara untuk Parpol papan tengah lainnya adalah PKB (5,4 persen), Nasdem (3,6 persen), PPP (2,0 persen), dan PAN (1,1 persen). Geliat parpol baru memunculkan Partai Ummat yang menyodok dengan elektabilitas 1,3 persen.

Pada papan bawah ada Hanura (0,6 persen), Perindo (0,5 persen), Berkarya (0,3 persen), dan parpol baru Gelora (0,3 persen). Lainnya yaitu PBB, PKPI, Garuda, dan parpol baru Masyumi tidak mendapatkan dukungan. Sisanya menyatakan tidak tahu/tidak menjawa (21,8 persen).

Survei Index Research dilakukan pada 25 Februari-5 Maret 2021 terhadap 1200 orang mewakili seluruh provinsi di Indonesia, dilakukan melalui telepon kepada responden yang dipilih acak dari survei sebelumnya sejak 2018. Margin of error ±2,9 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Sebelumnya, Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) mengukur sentimen masyarakat terhadap kondisi politik nasional jelang kompetisi politik menuju Pemilu 2024.

Survei atau jajak pendapat tersebut, dilakukan pada 28 Februari- 8 Maret 2021 dengan jumlah 1.898 responden dari 34 Provinsi yang dihubungi melalui saluran telepon gengam dan mengunakan layanan Video Call Whatsapp.

Saat diberi pertanyaan "Jika pemilihan anggota DPR RI diadakan sekarang ini, partai atau calon dari partai mana yang akan Ibu/Bapak pilih?" 15,2 persen dari 1.898 responden mengaku akan memilih PDIP.

Kemudian, 14,9 persen mengaku bakal memilih Golkar, 9,3 persen Gerindra, 6,7 persen memilih PKB dan 6,3 persen akan memilih Partai NasDem.

"Para responden juga masih mempercayai PKS sebagai partai dari perwakilan Islam. Dimana ada 5,2 persen yang mengaku akan memilih PKS," tandasnya.

Sementara itu, Partai Demokrat yang belum lama ini diguncang isu kudeta dan berujung pada KLB oleh kubu Moeldoko di Sumut, sepertinya tidak bertahan lama di posisi 5 besar. "Demokrat hanya dipilih 3,4 persen. Artinya, hanya menduduki posisi ketujuh dari 9 parpol yang memiliki kursi di parlemen," urainya.

Di bawah Demokrat, ada PPP dengan jumlah 3,1 persen, kemudian PAN diposisi buncit dengan raihan suara 2,8 persen, sementara masyarakat yang masih galau dan belum menjawab ada sekitar 33,1%.

Sementara untuk pertanyaan simulasi semi terbuka dengan menunjukkan daftar 9 partai dan responden boleh menyebutkan nama parpol lain, hasilnya PDIP paling banyak disebut, 18,2 % responden. Kemudian disusul Golkar, 17.9%, Gerindra 10,3 %, PKB, 6.9%, NasDem, 6,5 % dan PKS, 5,3 %.

Urutan ketujuh, posisi masih ditempati Demokrat dengan, 3,6%, PPP, 3,2 %, PAN, 2,9 % dan partai Lainnya 4,7%. Sementara tidak menjawab sebanyak 20,5 persen.

"Kesimpulannya, elektabilitas sejumlah partai tampak belum begitu berubah dibanding pemilu 2019 dan yang menarik dalam temuan survei ini adalah penurunan secara draktis tingkat elektabilitas partai Demokrat hingga (3,6%)," ujarnya.

Penurunan ini kata Dia, dikarenakan badai konflik internal di Partai Demokrat yang berujung pada KLB yang memilih Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

"Sementara kenaikan tingkat elektabilitas Partai Gerindra dibandingkan survei bulan januari 2021 dari 6,6 persen menjadi 10,3 persen, karena Gerindra dianggap berhasil melakukan reposisi isu," tukasnya.

Hasil survei yang memiliki Margin of error sekitar 2,25 persen pada tingkat kepercayaan 95% itu, tentu bukan bersifat final. Tingkat elektabilitas tentu saja masih bisa berubah seiring dengan makin dekatnya waktu pemilu dan makin aktifnya partai-partai dalam menjalankan mesin politiknya untuk persiapan pemilu.

Peta kekuatan partai politik diperkirakan masih akan terus berubah, mengingat pemilu mendatang masih cukup lama dan sejalan dengan berhasil atau tidaknya pemerintah menangani dampak Covid-19.***

wwwwww