Home  /  Berita  /  Pemerintahan

Gara-gara Pandemi, Penduduk Miskin di Indonesia Bertambah 2,76 Juta Orang

Gara-gara Pandemi, Penduduk Miskin di Indonesia Bertambah 2,76 Juta Orang
Ilustrasi masyarakat miskin. (Foto: Republika.id)
Senin, 15 Februari 2021 12:50 WIB
JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2020 mencapai 27,55 juta orang. Total tersebut naik 2,76 juta orang dibandingkan September 2019.

Salah satu faktor utamanya adalah pandemi Covid-19 yang mengganggu aktivitas perekonomian. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, secara persentase, penduduk miskin pada September 2020 setara 10,19 persen terhadap jumlah penduduk Indonesia atau naik 0,97 persen terhadap periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Persentase ini juga lebih tinggi dibandingkan Maret 2020 yang sebesar 9,78 persen, atau terjadi kenaikan 0,41 persen poin. Artinya, terdapat 1,13 juta orang tambahan yang masuk ke kategori miskin dalam kurun waktu enam bulan.

Suhariyanto mengatakan, dari hasil survei BPS, pandemi Covid-19 telah menghantam seluruh lapisan masyarakat, baik kelompok bawah maupun atas. "Dampak Covid-19 luar biasa, menurunkan pendapatan dari seluruh lapisan," katanya dalam konferensi pers secara virtual pada Senin (15/2).

Dampak pandemi juga terlihat dari angka inflasi yang sangat rendah. Selama periode Maret-September 2020, atau periode ketika survei tingkat kemiskinan berlangsung, mencapai 0,12 persen.

Dalam rentang waktu itu, banyak harga komoditas yang juga mengalami kenaikan secara nasional. Di antaranya daging sapi yang naik 1,51 persen, minyak goreng 2,67 persen, dan tepung terigu 2,76 persen.

Namun, terdapat pula beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga seperti beras dan daging ayam ras. Harganya mencatatkan penurunan masing-masing 1,49 persen dan 3,52 persen.

Pandemi juga telah memberikan dampak ke tingkat kemiskinan melalui lapangan kerja. BPS menyebutkan, sebanyak 29,12 juta penduduk atau 14,28 persen dari jumlah penduduk usia kerja terkena dampaknya.

Dari total tersebut, 2,56 juta penduduk menjadi pengangguran, sementara 1,77 juta penduduk sementara tidak bekerja. Selain itu, 24,03 juta penduduk bekerja dengan pengurangan jam kerja. "Ini berpengaruh pada pendapatan," kata Suhariyanto.

Persentase pekerja setengah penganggur juga naik. Pada Agustus 2020, persentasenya mencapai 10,19 persen atau naik 3,77 persen dibandingkan Agustus 2019, Suhariyanto mengatakan, kenaikan ini mengindikasikan penurunan pendapatan masyarakat.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Republika.id
Kategori:Peristiwa, Ekonomi, Pemerintahan
wwwwww