Home  /  Berita  /  Feature

Kisah Mualaf Jaime Brown, Mencoba Berhijab Sebelum Bersyahadat dan Tak Pernah Melepasnya

Kisah Mualaf Jaime Brown, Mencoba Berhijab Sebelum Bersyahadat dan Tak Pernah Melepasnya
Jaime Brown. (republika.co.id)
Selasa, 02 Februari 2021 07:55 WIB
JAKARTA -- Berhijab sebelum menjadi Muslimah dan tidak pernah lagi melepasnya, itulah yang dialami oleh Jaime Brown, wanita asal California, Amerika Serikat. Berikut kisahnya.

Dikutip dari Republika.co.id yang melansir Iqna.ir pada Selasa (2/2/2021), Jaime Brown menceritakan, dirinya melafazkan dua kalimat syahadat atau bersyahadat pada Desember 2010 di Kota Casablanca, Maroko. Namun, sebenarnya Brown sudah mendapatkan cahaya hidayah Islam ketika dirinya tinggal di Hollywood, Los Angeles, California.

Saat itu, Brown menyadari dirinya sangat ingin berhijrah, melafazkan syahadat di suatu negara Muslim. Karena itulah ia memilih Maroko.

''Saya hanya ingin  memulai hidup saya dari awal lagi sebagai seorang Muslim. Saya tahu saya tidak bisa melakukannya tinggal di LA dengan pekerjaan yang sama, teman yang sama, suasana yang sama dan situasi yang sama. Saya tahu bahwa saya akan menjadi seperti orang baru segera setelah saya mengucapkan syahadat, jadi saya ingin memulai hidup saya di negara Muslim di mana saya bebas menjadi seorang Muslim,'' kata Brown.

Brown mengisahkan, ketika pesawat yang dinaikinya mendarat di Maroko, hal yang pertama dilakukannya adalah pergi ke kamar mandi bandara dan untuk pertama kalinya ia mengenakan Hijab, walaupun saat itu dia belum Msulimah. Meski Brown mengaku cara mengenakan hijabnya kala itu belum cukup baik, tetapi sejak itu ia tidak pernah melepasnya.

Brown juga mengakui alasan dirinya memeluk Islam adalah karena membaca Alquran. Brown menemukan setiap jawaban dari persoalan-persoalan hidupnya dalam Alquran. Baginya Alquran merupakan kitab yang dapat dipahami.

''Saya tahu, sebagian dari (agama yang sebelumnya dia anut) tidak masuk akal, jadi saya selalu mencari jawaban  tidak berhasil. Ketika saya membaca Quran, itu masuk akal. Saya tahu semua jawaban yang saya cari ada di kitab itu,'' kata Brown.

Sejak itu, Brown yang berprofesi sebagai manajer produksi film, video dan musik memutuskan meninggalkan kehidupan glamornya di Beverly Hills. Dia pun memilih mengemas barang-barangnya dan pergi ke Maroko yang belum pernah dikunjunginya sama sekali.

''Tapi alhamdulillah, semuanya berhasil dan itu adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat,'' katanya.

Brown sangat merasa spesial ketika masuk Islam dan mengenakan hijab. Bagi Brown hijab bukan sekadar syal atau kerudung. Namun, hijab menurut Brown adalah menunjukkan cara seorang wanita berperilaku, membawa dirinya sendiri, memancarkan kebijaksanaan, penuh kesopanan dan melindungi kehormatannya.

Bertepatan dengan peringatan hari hijab internasional pada Senin (1/2), Brown menilai sangat penting untuk mengakui bahwa menggunakan jilbab merupakan cara hidup yang harus dianggap normal dalam masyarakat modern.

''Sejujurnya, memakai hijab adalah perasaan terbaik. Tentu, suatu hari Anda akan merasa panas atau mungkin frustrasi, tetapi perasaan itu berlalu dengan cepat. Benar-benar memberdayakan berada dalam jilbab, baik secara internal maupun eksternal. Ini bukan hanya sepotong kain, ini lebih dari itu,'' katanya.

Brown juga mengomentari gerakan Islamofobia dan antihijab yang terjadi di Eropa. Menurut Brown, Prancis menjadi negara paling radikal dalam gerakan antihijab. Menurut Brown, Prancis merupakan contoh terburuk memperlakukan Muslim.

''Setiap pemerintah, memiliki kewajiban melindungi warganya  tidak menciptakan kebencian dan kebijakan yang tidak perlu dan tidak adil terhadap kelompok tertentu yang diasingkan,'' katanya.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:GoNews Group, Feature
wwwwww