Home  /  Berita  /  GoNews Group

Disebut kata 'Jenderal' dan 'Baper' dalam Reaksi Moeldoko, Kenapa?

Disebut kata Jenderal dan Baper dalam Reaksi Moeldoko, Kenapa?
Jenderal Purn. Moeldoko ketika menyebut soal jenderal yang tidak memiliki batas dengan siapapun, melalui video pernyataannya, Senin (1/2/2021). (gambar: tangkapan layar video inews)
Selasa, 02 Februari 2021 13:56 WIB
JAKARTA - Jenderal Purn. Moeldoko dinilai reaktif dalam merespon kabar adanya gerakan pendongkelan jabatan Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat. Jelang Senin sore, Demokrat secara resmi menyebut bahwa gerakan itu diduga melibatkan seorang pejabat lingkar terdekat presiden Jokowi.

Melalui konferensi pers, Senin itu, Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkap hasil penyelidikan internal bahwa telah terjadi mobilisasi kader, pertemuan, dan rencana meng-KLB-kan dirinya. Tapi AHY, tak sekalipun menyebut nama para terduga pelaku.

Senin yang sama, respon muncul dari Moeldoko, Ia tak mengatasnamakan Kantor Staf Kepresidenan (KSP) dalam pernyataannya. Kata Moeldoko, "Dalam isu ini, jadi itu urusan saya, Moeldoko ini, bukan selaku KSP,".

Dalam video yang kembali dilihat GoNews.co pada Selasa (2/2/2021), Moeldoko sempat menyinggung jabatan jenderal dan pemimpin.

"Orang ada dari Indonesia Timur, dari mana-mana datang kesini kan pengen foto ama gua, ama saya, ya saya terima aja, apa susahnya. Itulah menunjukkan seorang jenderal yang tidak punya batas dengan siapapun. Itu. Ya kalau itu jadi persoalan yang digunjingkan ya silahkan aja, saya nggak keberatan. Saran saya, jadi seorang pemimpin harus pemimpin yang kuat, jangan mudah baperan," kata Moeldoko.

Terkait hal ini, Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga menilai Moledoko terlalu reaktif, dalam keadaan tak siap, dan terkesan tengah menyembunyikan sesuatu. Jamil juga menyampaikan penilaian terkait pernyataan Moeldoko yang menyebut kata 'Jenderal' dan 'Pemimpin'.

"Padahal AYH tidak pernah menyebut nama Moeldoko dalam kasus adanya dugaan kudeta terhadap ketua umum Partai Demokrat. Tentu kalau dilihat pangkat yang pernah disandang, AHY saat masih aktif di TNI AD tentu jauh dibangding Moeldoko. Begitu juga dilihat dari senioritas," kata Jamil kepada GoNews.co, Selasa.

Meski demikian, lanjut Jamil, dalam politik bukan berarti pangkat yang lebih tinggi dan senioritas akan selalu lebih baik dan terhormat. Seperti yang dikemukakan SBY, kalau tidak bisa menjadi the good jangan menjadi the ugly.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Politik, Nasional, GoNews Group
wwwwww