Home  /  Berita  /  Feature

Kisah Mualaf Khadijah Laine, Serius Pelajari Islam Setelah Mimpi Rukuk di Depan Kakbah

Kisah Mualaf Khadijah Laine, Serius Pelajari Islam Setelah Mimpi Rukuk di Depan Kakbah
Foto tangkapan layar video yang merekam detik-detik Khadijah Laine mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, pada 6 Juli 2017. (republika.co.id)
Minggu, 31 Januari 2021 11:47 WIB
JAKARTA -- Khadijah Laine lahir dan dibesarkan di tengah keluarga non Muslim yang religus di Filipina. Namun, tahun 2017, saat merantau di Jakarta, Khadijah Laine mendapat hidayah dari Allah SWT, sehingga memutuskan bersyahadat. Berikut kisahnya, seperti dikutip dari Republika.co.id.

Awal merantau ke Indonesia, Khadijah Laine memilih berbisnis di Bali. Mulanya, semua berjalan seperti rencana. Bahkan, bisnisnya mulai memperoleh omset yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Keadaan berubah menjadi buruk, setelah wanita ini ditipu seorang mitra bisnisnya. Padahal, sudah cukup banyak dana diserahkan kepada mitranya tersebut.

Kejadian itu membuatnya sangat syok. Malahan, ia sempat jatuh dalam situasi psikologis depresi. ''Saat itu, saya merasa depresi, tertekan. Apalagi, karena saya sendirian di sini (Indonesia), tanpa ada keluarga. Rekan bisnis yang tadinya saya percayai justru meninggalkan dan menipu saya,” tutur Khadijah saat berbincang dengan Republika melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.

Pada puncaknya, perasaan tertekan itu sampai-sampai membuatnya terpikir untuk mengakhiri hidup. Suatu hari, niat untuk bunuh diri sudah mengkristal dalam benaknya. Nyaris saja nyawanya melayang.

''Saat itu, saya merasa depresi, tertekan. Apalagi, karena saya sendirian di sini (Indonesia), tanpa ada keluarga,'' kenangnya.

    Sebelum melakukan aksi bunuh diri, Khadijah tiba-tiba didatangi seekor kucing. Dengan jinaknya, hewan itu menghampiri dan bersandar pada kakinya. Seakan-akan, makhluk berkaki empat itu sedang mengingatkan dirinya: dalam hidup, selalu ada harapan. Khadijah pun kembali ke flatnya. Kucing tadi turut dibawanya pulang sebagai hewan peliharaan.

''Ketika saya sudah (memeluk) Islam, baru saya tahu bahwa kucing itu hewan kesayangan Nabi SAW. Saya membaca kisah bagaimana Nabi membiarkan kucing yang sedang tertidur di (kain) pakaiannya, beliau tidak pernah mengganggunya,'' ujar wanita 40 tahun itu.

Beberapa pekan kemudian, pikirannya mulai tenang. Saat itu, ia bertekad untuk bangkit dari keterpurukan. Mungkin sebagian besar uangnya sudah ludes, tetapi selama semangat masih ada, itu sudah menjadi modal yang sangat berharga. Ia memutuskan untuk terus berjuang. Karena itu, dirinya tetap bertahan di Indonesia, tidak kembali ke Filipina.

Khadijah mengenang, periode tersebut merupakan masa yang cukup sulit baginya. Karena itu, kebaikan yang diperoleh dari orang-orang sekitarnya, termasuk mereka yang tak dikenal, menjadi begitu berkesan. Apalagi, dirinya tinggal jauh dari keluarga di tanah airnya.

Suatu hari, ketika sedang menunggu bus di Denpasar, seseorang yang tak dikenalnya menyapa ramah. Keduanya lalu bertegur sapa, dan lanjut dengan mengobrol. Sampai akhirnya perempuan kenalan barunya ini menceritakan, bisnis di Bali memang kurang begitu prospektif kecuali yang menyasar sektor pariwisata.

Khadijah pun disarankan untuk pergi ke Jakarta bila ingin mendapatkan peluang lebih dari bisnis yang ditekuninya itu. Sebelum berpisah, orang ini sempat memberikan uang sebesar Rp500 ribu kepadanya.

Bagi Khadijah, pertemuan yang tak disangka-sangka itu adalah bagian dari rencana Allah. Sebab, belakangan baru diketahuinya bahwa inilah jalan untuk menggapai hidayah Ilahi.

Singkat cerita, setelah bertemu orang tersebut, dirinya pun tertarik untuk pergi ke Jakarta. Di Ibu Kota, pikirannya terus menerawang, mengira-ngira peluang bisnis yang paling baik dan bisa dilakukannya.

Akhirnya, ia pun bergabung dengan sebuah perusahaan yang cukup menjanjikan. Bisnis yang dijalankannya ialah multi level marketing. Dengan bertahap, Khadijah menekuni profesi barunya. Ia banyak belajar kepada rekan-rekannya yang lebih senior. Malahan, perempuan ini kemudian memiliki keluarga angkat.

Dari mereka-lah untuk pertama kalinya Khadijah mengenal Islam. Tentu saja, wanita Filipina ini sudah mengetahui adanya agama bernama Islam. Namun, pengetahuannya hingga saat itu masih bersumber dari kabar-kabar yang marak berseliweran di media massa atau sosial. Termasuk di antaranya stigma-stigma bahwa agama ini mengajarkan kekerasan atau mendukung ekstremisme dan terorisme. Tatkala masih di negerinya pun, pemberitaan sering kali menghubungkan Islam dengan paham pemberontak.

Selama tinggal dengan keluarga angkatnya di Jakarta, ia pun mendapatkan perspektif yang lebih luas tentang Islam. Ia sering menyaksikan bagaimana seisi rumah—kecuali dirinya—rajin melaksanakan shalat lima waktu.

Sebagian mereka pergi ke masjid setiap subuh dan maghrib. Lebih khusus lagi, ketika hari Jumat tiba. Berbondong-bondong para pria, termasuk anak-anak, berangkat ke masjid untuk mengikuti shalat berjamaah.

Di lingkungan tempat kerjanya, Khadijah pun mulai memiliki banyak kawan yang Muslim. Sebagiannya malah tampak begitu saleh. Mereka mengenakan hijab dan tidak pernah terlihat berjalan berduaan dengan lawan jenis.

Sewaktu masih menetap di Filipina, Khadijah sesungguhnya dibesarkan oleh ayah dan ibu yang religius. Tiap akhir pekan, seluruh anggota keluarga pergi ke tempat ibadah. Doa dan kebaktian pun menjadi rutinitas yang harus dilaksanakan. Maka selama berada di negeri orang, dirinya mulai menyadari adanya kesamaan antara agama keluarga kandungnya dan mayoritas penduduk Indonesia.

Sebagai contoh, Islam pun mengakui ketokohan Nabi Isa (Yesus) dan ibundanya, Maryam (Maria). Bahkan, ada sebuah surah yang dinamakan ''Maryam''. Cerita ini didapatnya saat mengobrol dengan seorang saudari angkatnya.

Saat itu, hidupnya tidak langsung berubah. Khadijah waktu itu tetaplah seorang perempuan karier yang gemar berbagai hal duniawi. Baginya, tiada hari tanpa bekerja keras untuk menghasilkan uang. Mimpinya adalah menjadi wanita sukses nan kaya raya. Sementara itu, untuk menghibur diri dari lelahnya bekerja, nyaris setiap malam dirinya mendatangi bar, mengonsumsi minuman keras.

Baginya, tiada hari tanpa bekerja keras untuk menghasilkan uang. Mimpinya adalah menjadi wanita sukses nan kaya raya.

Kesannya terhadap Islam masih belum membekas. Dalam pandangannya saat itu, Islam adalah agama yang sulit. Untuk menjalankan satu ritual shalat saja, seseorang harus banyak menggumamkan doa dan melakukan gerakan-gerakan tertentu. Namun, persepsi demikian berganti menjadi simpati sejak dirinya mengalami sebuah mimpi.

Mimpi Rukuk di Depan Kakbah

Suatu malam, ia baru saja pulang dari kantornya. Karena lelah, Khadijah langsung merebahkan diri di atas kasur, dan tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi fenomena yang tidak biasa. Ia merasa sedang berada di tengah lautan manusia.

Semuanya mengenakan pakaian serba putih. Di hadapannya, tampak sebuah bangunan hitam berbentuk kubus. Meskipun tampak begitu sederhana, entah mengapa bangunan tersebut seperti memancarkan kedamaian.

''Saya bermimpi sedang rukuk di tengah manusia, semuanya berbaju putih. Ketika saya ceritakan mimpi itu kepada teman, saya disebutnya sedang berhaji di Makkah,'' katanya mengenang.

Sejak hari itu, Khadijah mulai serius mempelajari Islam. Kawannya mengajaknya untuk mengunjungi pusat mualaf di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta. Walaupun pada awalnya agak canggung, ia menuruti ajakan tersebut.

Ternyata, nuansa tempat ibadah kaum Muslimin tidak seperti yang disangkanya. Jamaah tidak mengusirnya karena perbedaan agama. Justru, mereka menerimanya dengan ramah.

Di masjid tersebut, ia berbicara dengan seorang pengurus takmir yang juga seorang mualaf. Penjelasannya tentang Islam membuat Khadijah kian tertarik mendalami agama ini. Sepulangnya ke apartemen, ia membaca banyak buku yang diberikan oleh pihak takmir tersebut.

Dari hari ke hari, hubungannya semakin akrab dengan kawan-kawan organisasi mualaf di Masjid Sunda Kelapa. Tak terasa, bulan suci Ramadhan tiba. Masjid ini kian semarak oleh berbagai program kajian keagamaan.

Khadijah saat itu belum memeluk Islam, tetapi ingin menghadiri pengajian di sana. Panitia tidak berkeberatan sama sekali, dan malah senang menyambutnya. Secara bertahap, ia mulai belajar lebih detail lagi tentang aspek-aspek Islam, seperti ibadah shalat, puasa, dan lain-lain.

Berbagai momen yang dijalaninya selama Ramadhan di masjid itu sangat mengesankannya. Hatinya seperti terpanggil oleh kerinduan untuk menerima agama ini seutuhnya. Tepat pada 6 Juli 2017, Khadijah mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya: memeluk Islam.

Ikrar syahadat diucapkannya di Masjid Sunda Kelapa. Pada malam Jumat itu, dengan bimbingan seorang kiai akhirnya dirinya resmi menjadi Muslimah. Sungguh malam yang syahdu dan mengharukan. Air mata seperti tak henti membasahi pipinya. Prosesi ini disaksikan para pengurus takmir, jamaah, dan juga kawan-kawannya.

    ''Saya jadi terkenang mimpi saya malam itu (naik haji – red),'' ujarnya.

Setelah menjadi Muslim, Khadijah memahami bahwa hidupnya kini lebih terarah. Dia memahami tujuan dan untuk apa dirinya hidup. Dahulu, ia mengaku sangat emosional, egosentris, terlalu yakin pada kemampuan sendiri.

Padahal, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang dapat dilakukan manusia adalah berikhtiar dan mengharapkan kebaikan dari rencana-Nya.

''Mengenal Islam membuat saya lebih kuat. Saya selalu bersyukur bahwa kini saya menjadi (pemeluk) Islam,'' kata wanita yang kini bekerja sebagai guru les bahasa Inggris itu.

Setelah menjadi Muslim, ia memilih nama baru: Khadijah. Itu dipilihnya karena merujuk pada istri pertama Nabi SAW, Khadijah binti Khuwailid. Selain itu, diputuskannya untuk tetap tinggal di Indonesia.

Tak lama setelah ber-Islam, ia pun memutuskan untuk konsisten berhijab. Diakuinya, pakaian yang menutup aurat membuatnya semakin tenang. Tidak ada lagi pria-pria usil yang melecehkannya secara verbal, semisal, ketika sedang berjalan di gedung perkantoran. ''Doakan saya, saya saat ini sedang belajar memakai cadar, meski belum rutin,'' ujarnya.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Feature
GoSumbar.com Kisah Mualaf Bintang NBA Stephen Jackson, Bersyahadat Usai Saksikan Ketenangan Ibu Jibril di Pemakaman
GoSumbar.com Kisah Mualaf Jaime Brown, Mencoba Berhijab Sebelum Bersyahadat dan Tak Pernah Melepasnya
GoSumbar.com Raja India Jumpai Nabi Muhammad SAW Setelah Lihat Bulan Terbelah, Begini Kisahnya
GoSumbar.com Kisah Mualaf Rudy, Bocah 9 Tahun Bersyahadat karena Sering Ikut Temannya Beri Makan Tuna Wisma
GoSumbar.com Kisah Mualaf Pemuda Toraja, Yakini Kebenaran Islam Setelah Membaca Asmaul Husna
GoSumbar.com Pilot Sriwijaya Air SJ 182: Setinggi Apapun Aku Terbang Tidak Akan Mencapai Surga Bila Tidak Shalat Lima Waktu
GoSumbar.com Maria Helsa Bersyahadat Setelah 3 Malam Mimpi Seseorang Memanggilnya Raihan
GoSumbar.com 5 Ulama Besar Dunia Ini Pernah Dipenjara Penguasa, Ada yang Wafat dalam Bui karena Diracun
GoSumbar.com Kisah Mualaf Derbeshyr, Bersyahadat Setelah Baca Biografi Nabi Muhammad
GoSumbar.com Kisah Profesor Matematika yang Meyakini Kebenaran Alquran Setelah Baca Surah Az-Zariyat Ayat 52-53
GoSumbar.com Kisah Mualaf Vanni, Pertanyaannya Tentang Iman Terjawab Setelah Baca Buku Christ in Islam
GoSumbar.com Sempat Tak Dianggap Anak karena Nakal, Ibunya Sangat Bersyukur Setelah Wendi Lofu Mualaf
GoSumbar.com Kisah Mualaf Katrin, Bersyahadat Setelah 10 Tahun Dengar Lantunan Bacaan Ayat-ayat Alquran
GoSumbar.com Kisah Pendeta yang Menyamar Belajar Aritmatika kepada Sarjana Muslim, Belakangan Jadi Paus Silvester II
GoSumbar.com Ini Kisah di Balik Fenomena Anak Bermata Biru di Pekanbaru
GoSumbar.com Sederhananya Rumah Rasulullah SAW, Hanya 3,5 x 5 Meter
GoSumbar.com Kisah Jablah, Setelah Mualaf, Murtad Lagi Usai Menunaikan Ibadah Haji
GoSumbar.com Kisah Syekh Syarawi, Ulama Besar yang Dipergoki Marbot Bersihkan Toilet Masjid Tengah Malam
wwwwww