Home  /  Berita  /  GoNews Group

Terobosan PB PASI Tambah Kuota Atlet ke Tokyo 2021

Terobosan PB PASI Tambah Kuota Atlet ke Tokyo 2021
Sekjen PB PASI demisioner,, Tigor Tanjung dampingi Luhut Binsar Pandjaitan. (Ist)
Sabtu, 30 Januari 2021 16:42 WIB
Penulis: Azhari Nasution

JAKARTA - Ternyata PB PASI pimpinan Luhut Binsar Pandjaitan yang baru terpilih dalam Kongres PASI, 25 Januari lalu langsung bergerak cepat. Bahkan, pandemi Covid 19 yang belum mereda tak menjadi penghalang bagi PB PASI membuat terobosan dalam upaya menambah kuota atlet yang akan memperkuat Kontingen Indonesia pada Olimpiade Tokyo 2021. 

Terobosan ini dilakukan mengingat adanya pengumuman dari Presiden International Olympic Committee (IOC) Thomas Bach  yang memastikan bahwa pelaksanaan Olimpiade Tokyo digelar sesuai jadwal pada 23 Juli-8 Agustus 2021. Apalagi, Atletik Dunia (World Atletic) yang sebelumnya bernama Federasi Atletik Amatir Internasional (IAAF) telah menetapkan batas pelaksanaan babak kualifikasi Olimpiade hingga Juni 2021.

Sampai saat ini, PB PASI baru mendapatkan satu tiket melalui sprinter andalan Indonesia, Lalu Muhammad Zohri yang mencatat waktu 10,03 detik pada kejuaraan Seiko Golden Grand Prix 2019 di Osaka, Jepang 2019.  Catatan waktu yang dicapai pelari asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini melampaui limit catatan waktu nomor Lari 100 Meter putra Olimpiade yakni 10,05 detik..

Sekjen PB PASI demisioner, Tigor Tanjung yang dihubungi Sabtu (30/1/2021), mengatakan pembatasan jadwal ini membuat PB PASI  berpikir keras untuk mencari terobosan tanpa menabrak ketentuan yang diberlakukan World Athletics. "World Athletics itu kan menentukan tiket ke Olimpiade  melalui poin dan limit waktu yang ditetapkan. Makanya, kita mencari terobosan yang tepat untut menambah jatah tiket ke Tokyo 2021 sehingga perjuangan dan pengorbanan atlet yang terus menjalani pelatnas Olimpiade tidak sia-sia," ujarnya. 

Untuk menambah poin sehingga bisa lolos ke Tokyo, kata Tigor, tidak mungkin dilakukan PB PASI di tengah pandemi Covid 19. "Sulit bagi kita di tengah pandemi Cobid 19 ini mengirimkan atlet pelatnas untuk mendapatkan poin dengan mengikuti event-event internasional yang kebanyakan digelar di Eropa dan Amerika,"  ujarnya.   

Pilihan terakhir, ungkap Tigor, meloloskan atlet ke Tokyo dengan cara menembus limit Olimpiade melalui event yang melibatkan peserta dari negara lain seperti Thailand dan Philipina. 

"Strategi menggelar event dengan melibatkan negara lain ini harus dilakukan. Sebab, bukan hanya sebagai terobosan menambah kuota atlet tapi sebagai jawaban dari ujung perjuangan atlet pelatnas untuk mendapatkan tiket ke Tokyo," katanya. 

"Soal rencana pelaksanaan even juga telah dikoordinasikan dan mendapat dukungan dari Wolrd Athletics.  Bahkan, Federasi Atletik Thailand pun sudah menyetujuinya. Saat ini, kita masih melobi federasi atletik Philipina," jelasnya. 

Lantas bagaimana pelaksanaanya? Tigor Tanjung menjawab, "Mengingat batas akhir kualifikasi atletik Olimpiade ada di bulan Juni 2021, sebaiknya dilaksanakan bulan Mei. Tempat pelaksanaannya  pun dilakukan secara bergilir dan tidak semua nomor yang dipertandingkan. Masing-masing negara menentukan nomor unggulannya. Sebagai contoh, jika digelar di Indonesia, PB PASI yang menentukan nomor unggulan yang dianggap berpeluang menembus limit Olimpiade. Begitu juga di Thailand maupun Philipina." ***

wwwwww