Home  /  Berita  /  Kesehatan

Wakil Ketua MPR RI Pertanyakan Klaim Keberhasilan Pemerintah Tanggulangi Covid-19

Wakil Ketua MPR RI Pertanyakan Klaim Keberhasilan Pemerintah Tanggulangi Covid-19
Wakil Ketua MPR RI, Syarief Hsan. (Foto: Istimewa)
Jum'at, 29 Januari 2021 15:39 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Wakil Ketua MPR dari Fraksi Partai Demokrat, Syarief Hasan menyebut kasus positif Covid-19 masih terus meningkat bahkan telah tembus 1 juta kasus. Selain itu, ekonomi pun belum menunjukkan perubahan yang signifikan.

Ia pun mengimbau pemerintah lebih baik tetap fokus dan mengajak rakyat bersama-sama memutus rantai penyebaran Covid-19. Ia juga mengatakan pemerintah harus membuat kebijakan yang bisa memutus rantai penyebaran COVID-19.

"Pemerintah harus benar-benar membuat kebijakan yang bisa memutus rantai penyebaran Covid-19 dan melakukan distribusi vaksin segera khususnya ke rakyat yang tidak/kurang mampu secara gratis. Sebab, kebijakan inilah yang dinantikan rakyat dan inilah hulu masalah dari berbagai masalah yang berkembang di Indonesia dewasa ini," kata Syarief dalam keterangannya, Jumat (29/1/2021).

Data terbaru menunjukkan kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 1.037.993 kasus. Sementara yang sembuh berjumlah 842.122 orang dan yang meninggal adalah 29.331 orang.

Ia pun menyebut Presiden Jokowi mengatakan akhir tahun 2021 akan Covid-19 akan hilang, industri pariwisata dan ekonomi akan booming. Ia berharap pernyataan yang disampaikan Presiden Jokowi tersebut benar-benar dapat terwujud.

Ia pun mendorong pemerintah untuk tidak gegabah dalam membuat klaim keberhasilan. Sebab, menurutnya klaim bisa berakibat fatal karena bisa dipahami berbeda oleh masyarakat umum.

"Bisa jadi, banyak masyarakat yang mulai berkeliaran tanpa protokoler karena menganggap Pemerintah sudah berhasil meredam Covid-19, padahal nyatanya melandai pun tidak," tambahnya.

Ia juga menerangkan ekonomi nasional tengah merosot dan bahkan masih masuk dalam jurang resesi, sehingga keberhasilan dalam memanajemen ekonomi oleh pemerintah belum terbukti dengan jelas. Data yang dirilis BPS RI menunjukkan ekonomi Indonesia pada kuartal III dan IV 2020 berturut-turut berada di bawah minus.

"Pertumbuhan ekonomi yang minus pada dua kuartal terakhir menunjukkan jatuhnya ekonomi Indonesia masih dalam resesi, pertama kali sejak 1999," katanya.

Pengangguran juga bertambah hingga 3,05 juta berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja RI. Menurutnya jatuhnya ekonomi, bertambahnya pengangguran, dan semakin panjangnya garis kemiskinan menunjukkan Indonesia tidak dalam keadaan baik-baik saja.

"Utang luar negeri sudah hampir mencapai Rp 6.000 triliun dan bahkan Indonesia masuk dalam 10 besar memiliki utang luar negeri tertinggi dari negara ekonomi menengah dan rendah dari rilis Bank Dunia," pungkasnya.***

wwwwww