Home  /  Berita  /  Feature

Pilot Sriwijaya Air SJ 182: Setinggi Apapun Aku Terbang Tidak Akan Mencapai Surga Bila Tidak Shalat Lima Waktu

Pilot Sriwijaya Air SJ 182: Setinggi Apapun Aku Terbang Tidak Akan Mencapai Surga Bila Tidak Shalat Lima Waktu
Kapten Afwan, pilot Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1/2021) siang. (suara.com)
Minggu, 10 Januari 2021 16:35 WIB

JAKARTA -- Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Sabtu (9/1/2021) dipiloti Kapten Afwan.

Kapten Afwan merupakan warga Perumahan Bumi Cibinong Endah, Blok A3, Jalan Sukahati, Cibinong Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pria asal Tanah Datar, Sumatera Barat itu dikenal keluarga, kerabat dan tetangganya sebagai sosok yang sangat relijius.

''Taat sekali shalat lima waktu. Di rumahnya hampir setiap pagi selalu diputar muratal ayat Alquran. Beliau sosok yang pemurah dan selalu membantu keluarga yang sedang kesulitan,'' kata Muhammad Akbar, keponakan Kapten Afwan, kepada Republika.co.id, Ahad (10/1/2021).

Dituturkan Akbar, pada telepon pintarnya, Kapten Afwan tidak memasang foto dirinya atau foto keluarganya. Dia justru menggunakan meme tokoh hero Superman yang sedang terduduk di hadapan sajadah yang terbentang. Di situ tertulis: Setinggi apapun aku terbang tidak akan mencapai surga bila tidak shalat lima waktu. #Supermantaubat #kamukapan.

Akbar mengatakan, Kapten Afwan juga pengurus masjid yang ada dekat rumahnya dan sering mengisi tausyiah. ''Belakangan kalau ada acara kumpul-kumpul keluarga, beliau selalu didapuk untuk mengisi tausiah,'' ujar Akbar.

Akbar menceritakan, tiga hari sebelum peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, Afwan kubermpul bersama Ketua RT dan beberapa warga. ''Saat itu ada warga yang berujar, sudah lama nih kita engak ada kumpul-kumpul. Lalu dijawab oleh beliau, nanti saja kita kumpul di rumah,'' ujar Akbar. 

Sebelumnya, Akbar mengatakan, istri pamannya itu, Pipit, menceritakan, bahwa ini adalah pertama kalinya dalam 15 tahun terakhir, Da Aan (begitu dia dipanggil oleh keluarganya, Rep), pergi tergesa gesa dan tanpa sempat diseterika bajunya. Sebelum berangkat dia juga menyampaikan ucapan permintaan maaf.

Lalu setelah sampai di bandara, Da Aan juga melakukan video call kepada anaknya. Ini hal yang tak lazim dilakukan oleh beliau. Lalu setiap kali landing, Da Aan selalu telepon istrinya.

Sosok Teladan

Salah seorang tetangga Kapten Afwan, Lafi, mengaku sangat kehilangan sosok teladan.

Lafi ingat saat Captain Afwan berusaha merenovasi masjid yang ada di perumahan itu. Menurutnya, Afwan rajin beribadah dan sering bersosialisasi.

''Inisiatifnya (Afwan) merenovasi Masjid Addaulah. Saya ingat betul dan cukup terharu. Yang semula diragukan, kini sudah terwujud Perumahan Bumi Cibinong Endah memiliki masjid besar yang bisa dimanfaatkan warga di sini,'' ungkap Lafi di Cibinong, Ahad (10/1/2021), seperti dikutip dari Kompas.com.

Lafi menambahkan, Afwan juga dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Hal itu terlihat dari sikap Afwan saat berbincang dengan warga.

Ia tak pernah menceritakan latar belakang pekerjaannya sebagai pilot. Bagi Lafi, Afwan merupakan sosok yang hangat di mata masyarakat sekitar.

''Saat tidak sedang dinas, beliau selalu ikut (shalat) berjamaah di Masjid Addaulah yang dia renovasi ini. Bahkan seusai shalat sering berbincang dan sesekali mengisi tausiyah. Dia juga tidak pernah menceritakan tentang latar belakang pekerjaannya,'' ujar dia.

Ketua RT setempat, Agus Pramudibyo mengatakan, Afwan dikenal relijius dan sopan.

Agus terakhir kali bertemu Afwan pada Jumat (8/1/2021). Saat itu, keduanya baru saja selesai mengikuti shalat Jumat.

Mereka sempat berbincang menanyakan kabar masing-masing. Afwan, kata dia, mengaku dalam keadaan sehat dan siap bertugas keesokan harinya.

''Saya pribadi terakhir bertemu setelah Jumatan, kemarin sehari sebelum peristiwa itu. Kami bertegur nanya kesehatan masing-masing di masjid (Addaulah) dan dia bilang Alhamdulillah sehat,'' ungkap Agus.

Ketika ditanya peninggalan paling berkesan dari Afwan, Agus membenarkan Afwan merupakan ketua panitia pembangunan Masjid Addaulah.

''Kapten Afwan ini juga sebagai donatur pembangun masjid depan SMPN 2 Cibinong. Kemudian beliau juga sering membuat acara santunan anak yatim di rumahnya,'' kata Agus.

Warga, kata dia, kehilangan sosok panutan. Sebab, Afwan hampir tak memiliki cela di mata warga.

''Makanya warga saat mendengar kabar ini banyak yang bertanya ke saya dan lihat saja terus banyak orang-orang yang berdatangan ke sini,'' ungkapnya.

Eks Penerbang TNI AU

Kapten Afwan tercatat pernah menjadi penerbang TNI Angkatan Udara. Afwan merupakan alumni Ikatan Dinas Pendek (IDP) IV 1987.

''Captain Afwan adalah Penerbang TNI AU periode 1987-1998, beliau terbang di Skadron Udara 4 dan Akadron Udara 31. Alumni dari IDP IV tahun 1987,'' kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma Indan Gilang, Sabtu (9/1/2021).

Sriwijaya Air SJ182 tujuan Jakarta-Pontianak lepas landas dari Bandara Soetta, Sabtu pukul 14.36 WIB. Beberapa saat kemudian, tepatnya pada 14.40 WIB, pesawat dinyatakan hilang kontak.

Pesawat disebut jatuh di perairan Kepulauan Seribu, dekat Pulau Laki dan Pulau Lancang.

Delay 30 Menit

Direktur Utama Sriwijaya Air Jeff Jauwena menyatakan pesawat SJ182 sempat tertunda keberangkatannya atau delay selama 30 menit akibat hujan deras.

''Delay akibat hujan deras, maka ada delay 30 menit saat boarding,'' kata Jeff dalam konferensi pers dari Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (9/1/2021).***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id dan kompas.com
Kategori:Peristiwa, Nasional, Feature
wwwwww