Home  /  Berita  /  Politik

Marak Berita Hoax di Medsos, Ini Pesan Arzeti Bilbina

Marak Berita Hoax di Medsos, Ini Pesan Arzeti Bilbina
Anggota Komisi IX DPR RI, Arzeti Bilbina. (Foto: Detik.com)
Selasa, 15 Desember 2020 15:58 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI, Arzeti Bilbina menekankan pentingnya masyarakat Indonesia untuk menyaring pemberitaan di media sosial. Pasalnya, media sosial saat ini banyak dimanfaatkan pihak-pihak yang tak bertanggungjawab untuk saling adu domba dengan memberikan informasi palsu atau hoax.

"Sebaiknya disaring dulu, cek kebenaran berita tersebut," ujarnya saat dihubungi GoNews.co, Selasa (15/12/2020) di Jakarta.

Terlebih lagi kata Dia, keberadaan media sosial yamg menjadi akses bagi penyebar hoax dan radikalisme, akhir-akhir ini sudah sangat mengkhawatirkan. Orang-orang tersebut sengaja membuat berita bohong untuk melakukan propanganda yang tujuannya untuk menciptakan suasana tidak kondusif, bahkan bisa mengancam disintegrasi bangsa.

"Tentu persoalan ini menjadi keprihatinan bagi kita semua. Terlebih saat ini masyarakat sedang berduka dari keterpurukan perekonomian akibat pandemi. Karena kondisi ini membuat masyarakat lebih banyak berdiam di rumah dengan banyak waktu untuk bersosmed. Jika tidak hati-hati, maka bisa terpancing dengan bahasa-bahasa atau ajakan yang justru tidak mendidik dan tidak sedikit yang berujung kasus hukum," tandasnya.

Ia juga menyarankan agar masyarakat berpegang pada media mainstream sebagai acuan memilih informasi. Menurutnya, media berita-berita di media mainstream, terutama media online lebih bisa dipertanggungjawabkan ketimbang media sosial yang tidak jelas.

Apalagi, sekarang ini banyak situs-situs abal-abal yang ironisnya, berita atau foto yang disebar media abal-abal di media sosial bisa viral, meski isinya tidak berdasar alias hoax.

Untuk itu, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, meminta Pemerintah melalui kominfo agar bertindak tigas. "Sudah semestinya Pemerinta punya sistem yang kuat, jangan dipermudah para pelaku untuk menyebarkan hoax," pintanya.

"Dengan sistem tersebut, Keminfo harusnya bisa melacak dan mematikan gadget para pelaku penyebar hoax," urainya.

Hal itu bukan perkara sulit, Ia mencontohkan, di China masyrakatanya bahkan tidak diberi ruang samasekali atau tidak diberi keluluasaan menggunakan sosmed dengan bahasa Hoax. "Pemerintah harus mulai keras dan tegas untuk memerangi hoax tersebut," pungkasnya.***

wwwwww