Home  /  Berita  /  Politik

Ikuti Jejak Founding Mothers, Emak-emak Bisa Maksimalkan Potensi Memajukan Indonesia

Ikuti Jejak Founding Mothers, Emak-emak Bisa Maksimalkan Potensi Memajukan Indonesia
Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid. (Foto: Istimewa)
Senin, 07 Desember 2020 23:31 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Dr. H M Hidayat Nur Wahid, MA mengatakan kaum perempuan, termasuk para aktivis Muslimah dan para emak-emak, perlu ikut serta menjaga dan memajukan Indonesia dengan mengambil inspirasi dari dua tokoh perempuan yang ikut melahirkan negara Indonesia merdeka.

Dia menjelaskan dua perempuan atau ibu yang hebat itu aktif bersama-sama dengan para founding fathers ikut berembuk dan terlibat langsung membahas dan melahirkan Indonesia merdeka.

Menurut Hidayat, kedua founding mothers (ibu bangsa) itu adalah Maria Ulfah dan Rr Siti Sukaptinah, yang menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) dalam merumuskan dasar negara Indonesia merdeka. 

"Ternyata bukan hanya ada bapak bangsa (founding fathers) tetapi juga ada  perempuan-perempuan yang terlibat langsung dan aktif hadirkan kelahiran negara Indonesia merdeka. Mereka layak disebut sebagai ibu bangsa (founding mothers)," kata Hidayat dalam sosialisasi Empat Pilar MPR RI, kerja sama MPR bersama PW Salimah DKI Jakarta, di Jakarta Selatan, Jumat (4/12). 

Sosok yang karib disapa HNW itu mengatakan Maria Ulfah bergelar meester in de rehcten (sarjana hukum) yang diraihnya dari Universitas Leiden, Belanda.

Maria Ulfah merupakan perempuan pertama asal Indonesia yang meraih gelar sarjana hukum di universitas tersebut. 

"Ibu Maria Ulfah ikut berperan membahas dasar negara, konstitusi Indonesia UUD 1945, dan kemudian beliau juga tercatat sebagai menteri perempuan pertama di Indonesia pada kabinet Sutan Sjahrir," jelasnya. 

Rr Siti Sukaptinah, merupakan perempuan asal Yogyakarta yang terkenal sebagai aktivis Islam. Anggota DPR RI dari Dapil II Jakarta ini menjelaskan Siti sempat terlibat aktif di Siswapraja Wanita Muhammadiyah, yang kemudian menjadi cikal bakal Nasyiatul Aisyiyah, organisasi remaja putri otonom Muhammadiyah. 

"Keduanya memberi contoh kepada kaum perempuan dan para muslimah untuk merasa memiliki Indonesia," ungkapnya.

Karena itu, HNW mengatakan, kaum perempuan perlu ikut menjaga dan memajukannya bersama-sama dengan para pejuang dan negarawan laki-laki, serta  memberikan masukan dan kontribusi terbaik untuk menghadirkan dan kemudian menjaga Indonesia merdeka.

"Ini penting untuk menjadi pegangan dan suluh bagi kaum perempuan termasuk aktivis Muslimah,” ujarnya. 

Wakil Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyadari bahwa saat ini kaum perempuan Indonesia sudah banyak yang terlibat dalam mengisi kemerdekaan, seperti di organisasi kemasyarakatan (ormas), organisasi pendidikan, organisasi dakwah, partai politik, dewan perwakilan rakyat (DPR), bahkan ada yang pernah menjadi wapres dan presiden.

Menurut HNW, hal itu semua perlu selalu dijaga dan dikembangkan, dan menjadi  tanggung jawab sejarah sebagaimana sudah dicontohkan oleh dua founding mothers itu.

"Peran kaum perempuan termasuk muslimah Indonesia itu sudah dilakukan sejak sebelum kemerdekaan Indonesia dan jelang kemerdekaan Indonesia," kata HNW.

Sehingga, lanjut HNW, tidak ada alasan untuk kaum perempuan, khususnya Muslimah apalagi aktivisnya, untuk tidak meningkatkan potensi diri dengan memahami dan mengenali Indonesia lebih dekat dan lebih dalam.

"Supaya makin bisa berkontribusi menjaga dan memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkap HNW. 

Lebih lanjut HNW menuturkan upaya memahami dan mencintai Indonesia ini salah satunya dilakukan dengan kegiatan sosialisasi Empat  Pilar MPR RI, yakni Pancasila, UUD NRI 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

Menurut dia, dengan pemahaman yang benar, utuh dan komprehensif terhadap Empat Pilar MPR RI tersebut, maka para perempuan dapat berkiprah lebih giat, bertanggung jawab dan produktif dalam hal  ikut menjaga agar perjalanan bangsa dan negara.

"Tidak menyimpang dari Empat  Pilar MPR RI, dan ikut memajukan Indonesia sesuai cita-cita proklamasi dan tuntutan reformasi,” pungkasnya.***

wwwwww